oleh

Jejak Bugis di Pagatan Kalimantan Selatan

“Di mana Bumi Dipijak, Di situlah Langit Dijunjung” Kegisi monro sore lopie’, kositu tomallabu sengereng, Artinya dimana perahu terdampar disanalah kehidupan ditegakkan.

Demikian penggalan filosofi Bugis yang diturunkan dari generasi ke generasi.
Sehingga ungkapan bijak tersebut menjadi motivasi positif bagi bangsa Bugis dalam membangun sebuah peradaban. Keberadaan Bugis di Pagatan Kalimantan Selatan adalah salah satu contoh manifestasi dari ungkapan leluhur Bugis tersebut.

Bugis Pagatan adalah keturunan diaspora suku Bugis dari Sulawesi Selatan yang mendiami desa Pagatan, Kusan Hilir, Tanah Bumbu dan sekitarnya. Di Kalimantan Selatan, suku Bugis juga terdapat pada beberapa daerah lainnya, tetapi kebanyakan berada di Kabupaten Tanah Bumbu dan Kabupaten Kotabaru.

Bahkan Kemudian orang Bugis menyebar ke kawasan pegunungan lembah dan ngarai di berbagai penjuru dari pusat perdesaan hingga ke kawasan perkotaan.

Bagaimana kisah ikhwal Suku Bugis beranak pinak di Tanah Pagatan Kalimantan Selatan? Ikuti kisahnya …

Bermula, dari saudagar Bugis dari tanah Wajo yang bernama Pua Dekke pada abad ke-18. Ia berlayar merantau ke Kalimantan Timur, namun setibanya di daerah pasir ia tidak sanggup tinggal di daerah itu. Kemudi perahu kembali berputar dengan buritan pantang berbalik. Lalu kemudian berlayar menyusuri pantai selatan pulau Borneo.

Dalam penyusuran itu, kemudian mata Pua Dekke tertuju kesebuah kampung yang bernama Tanah Bumbu. Namun di daerah itu belum juga disenangi oleh mata hatinya.

Akhirnya ia pun sampai ke muara sebuah sungai yang cukup menarik perhatiannya. Kawasan itu ditumbuhi hutan belantara. Akan tetapi ia memperoleh informasi bahwa daerah tersebut termasuk dalam kawasan kerajaan Banjarmasin. Dasar orang Bugis yang telah ditempa dengan peradaban, Pua Dekke tidak mau menyerobot daerah itu tanpa sepengetahuan yang punya kawasan.

Maka bertolaklah Pua Dekke menuju Banjarmasin menemui Sultan Banjarmasin untuk minta izin bermukim ditempat tersebut.

Maka berkatalah Sultan Banjar: “baiklah kalau Anda sanggup mengeluarkan biaya, karena daerah tersebut merupakan hutan belantara dan pangkalan persinggahan perampok.

Pua Dekke menjawab:” bagaimana nantinya sekiranya kami telah mengeluarkan biaya?” berkatalah pula Penembahan :” kalau anda telah mengeluarkan biaya sehingga daerah tersebut menjadi kampung, maka anda wariskanlah kepada anak cucu anda. Tidak ada yang dapat mengganggu gugat. Maka terjadilah serah terima antara Sultan Banjar dengan Pung Dekke.

Setelah itu Pua Dekke bersama pengikutnya
menyulap hutan belantara itu menjadi sebuah perkampungan yang bernama PAGATAN. Keberhasilan Pua Dekke ini adalah manifestasi falsafah moyangnya yang mengatakan :
RESOPA NA TEMMANGINGNGI NA’IYA MALOMO NALETEI PAMMASE DEWATA” Hanyalah dengan kerja keras akan mendapatkan berkah Tuhan Yang Maha Kuasa.

Kisah Pua Dekke ini juga disebut dalam catatan Nagtegaal Sejarawan asal Belanda, menyebutkan, bahwa Suku Bugis Pagatan tersebut bermula dari kedatangan seorang saudagar Bugis asal Wajo yang juga seorang Hartawan terkenal bernama Pua Dekke pada abad ke 18.

Dari catatan sejarawan Belanda tersebut juga menyebutkan, bahwa Kerajaan Pagatan didirikan pada pertengahan abad ke- 18 oleh pedagang Bugis dari Tana Wajo yang bernama Pua Dekka atas izin dari Sultan Banjarmasin.

Tak hanya itu, Lontara Kapiten La Mattone, seorang menteri kerajaan Pagatan dan Kusan yang ditulis pada tanggal 21 Agustus 1868 Masehi juga menceritakan, bahwa asal mula Pagatan dibuka oleh Hartawan dari Tanah Bugis Wajo. Yang bernama Pua Dekke.

Beberapa tahun kemudian datang pula saudara Pua Dekke dari Pontianak bernama Pua Janggo. Lalu ia berunding dan sepakat untuk menjemput cucunya yang bernama La Pangewa yang merupakan turunan raja Bugis dari Kampiri daerah Wajo. Pada saat itu La Pangewa baru berumur lima belas tahun.

Setelah tiba di Pagatan barulah La Pangewa ri Sunna’ atau dikhitan lalu dikawinkan. Kemudian dinobatkan sebagai raja Pagatan yang pertama. Namun dalam penobatannya sebagai raja hanya merupakan simbol karena pemegang kekuasaan tetap ditangan Pua Dekke dengan menerapkan hukum adat Bugis.

Di mana pada masa itu Kerajaan Pagatan benar-benar merupakan suatu kerajaan otonom, tidak ada campur tangan dari kerajaan Banjar.

Di suatu masa pangeran Anum memblokade perahu-perahu dagang dari kerajaan Pagatan untuk masuk ke Banjarmasin. Tindakan itu tidak diterima oleh panembahan Banjar. Akibat blokade itu sontak menimbulkan kemarahan besar pula, bagi Pua Dekke. Lalu ia memerintahkan cucunya La Pangewa untuk menggempur pangeran Anum dan pengikutnya hingga kalah bertekuk lutut di Kuala Kapuas.

Setelah itu La Pangewa menemui panembahan Banjarmasin untuk melaporkan kekalahan Pangeran Anum. Atas keberhasilannya itu, maka La Pangewa mendapat penghargaan dengan gelar Kapiten Laut Pulo atau Kapiten Pulau Laut. Sejak itu semakin memperkukuh kedudukan La Pangewa atas Tanah Pagatan yang diserahkan sepenuhnya oleh panembahan Banjarmasin.

Dalam perkembangannya di kerajaan Pagatan terdapat 9 raja yang pernah berkuasa yang dimulai oleh La Pangewa yang berkuasa dalam tahun 1755-1800 Masehi hingga raja terakhir yang bernama Abdurrahman yang berkuasa dalam tahun 1893-1908 Masehi.

Dalam perjalanan waktu, meskipun kerajaan Pagatan telah tiada, akan tetapi menjadi bagian sejarah cikal bakal terbentuknya Kabupaten Tanah Bumbu setelah terpisah dari Kabupaten Kotabaru. Sementara itu, peradaban masyarakat Suku Bugis terus berkembang seiring zaman, dengan tidak menghilangkan tradisi dan karakter kesukuan mereka.

Meskipun jauh terpisah dari tanah luhur moyangnya di sulawesi, namun masyarakat bugis pagatan tetap menjunjung tinggi adat budaya dari tanah leluhurnya. Hal itu terlihat disetiap peringatan hari besar keagamaan, pernikahan, seperti silellung botting hingga ritual tahunan Mappanretasi dan mappanre dewata.

Selain itu, hingga saat ini masyarakat Bugis pagatan dan Tanah Bumbu masih bisa melihat makam Raja-Raja Pagatan dan keluarganya yang ada di Desa kampung Baru Mattone, bekas areal Kerajaan Pagatan di masa lalu.

Dari kerajaan itulah masyarakat Suku Bugis Pagatan terlahir, berkembang seiring zaman, membaur dengan masyarakat Suku Banjar dan Dayak sebagai suku Pribumi. Mereka memiliki daerah-daerah sebaran tersendiri. Membentuk populasi baru dari zaman ke zaman.

Secara geografis, masyarakat Bugis Pagatan sebagian besar hidup di kawasan pesisir Kelurahan Kota Pagatan, Desa Muara, Kampung Baru Mattone, Juku Eja, Wirittasi, Gusungnge, hingga pesisir Kecamatan Kusan Hilir.

Sementara mereka yang gemar bercocok tanam memilih sebagai Petani Rancah, yang juga hidup disekitar sungai Kusan Hilir dan Batulicin. Selebihnya memilih hidup sebagai pembuat kapal dan menetap di kawasan daratan sekitar pinggiran sungai dan laut.

Namun, tak dipungkiri merekapun kini mulai memilih peluang-peluang usaha baru di kawasan perkotaan melalui jalur perdagangan, meskipun tidak banyak, karena masih di dominasi oleh suku Banjar, dan warga keturunan China yang datang dari luar dan bahkan telah menetap secara turun temurun sejak Pagatan ditemukan.

Untuk menaungi aspirasi masyarakat bugis Pagatan, segaligus sebagai wadah pelestarian Kesenian dan beragam Budaya Bugis Pagatan, kini telah berdiri lembaga Adat yang disebut “Ade Ogi Pagatan” yaitu Lembaga Adat Bugis Pagatan). Hal ini bertujuan untuk mempererat tali persaudaraan Masyarakat Bugis Pagatan, serta menjaga kerukunan masyarakat Suku Bugis dengan Suku Suku lainnya di Tanah Bumbu dan Pagatan Kalimantan Selatan.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berikutnya