oleh

Sejarah Bugis di Tanjung Pinang

nenek moyangku orang pelaut
gemar mengarung luas samudra
menerjang ombak tiada takut
menempuh badai sudah biasa

Demikian penggalan syair lagu nenek moyangku seorang pelaut karya Ibu Sud tahun 1940. Rupanya lagu ini tepat pula jika disematkan dalam perjalanan panjang orang bugis dalam kiprahnya menantang prahara samudera.

Kali ini kita akan beranjak kesuatu negeri dalam bilangan Tanjung Pinang, Provinsi Kepulauaan Riau. Di sana terdapat sebuah lipu nun jauh dari tanah Sulawesi. Lipu itu adalah kampung Bugis. Perlu diketahui, bahwa dalam bahasa Bugis dikenal istilah lipu dan wanua. Lipu artinya kampung yang jauh sementara wanua artinya kampung yang dekat. Sehingga sering kita dengar lipu mabelae artinya kampung nun jauh.

Nah, pertanyaan yang muncul sekarang, mengapa bisa ada kampung Bugis di negeri melayu seperti yang ada di Tanjung Pinang, Provinsi Kepulauan Riau.

Almarhum Prof. Dr. Hamid Abdullah, salah seorang Sejarawan dari Universitas Diponegoro dalam penelitiannya tentang silsilah Melayu Bugis dan sebab musabab terjadinya perantauan orang Bugis.

Seperti diketahui, bahwa dalam bingkai sejarah sebelum kemerdekaan Indonesia, perang saudara menjadi hal yang lumrah terjadi dan sering dijumpai di berbagai tempat. Pergolakan-pergolakan terjadi akibat perebutan harta, tahta dan kekuasaan.

Perantauan Opu Bugis Lima Bersaudara ke Semenanjung Melayu tidak lepas dari hiruk pikuk politik yang terjadi antara Kerajaan Gowa dan Bone yang memperebutkan hegemoni politik di Sulawesi Selatan pada abad ke-17.

Pergolakan- pergolakan itulah yang mengawali kehadiran Opu Bugis Lima Bersaudara, yaitu Daeng Parani, Daeng Marewa, Daeng Chelak, Daeng Menambung, dan Daeng Kemasi. Mereka melanglang buana bukan karena faktor ekonomi, akan tetapi disebabkan oleh pergolakan pilitik yang terjadi di Tanah Celebes pada masa itu.

Namun dibalik pergolakan itu, tentu ada hikmahnya, yaitu dengan menyebarnya orang-orang Bugis diseluruh pelosok negeri. Mereka meninggalkan kampung halamannya demi mencari ketenangan hidup. Padahal di Tanah Sulawesi sendiri pada masa itu, telah menyediakan potensi-potensi alam yang mumpuni yang tersebar di gunung, lembah, ngarai, dan lautan yang disebut Mangkalungung ribulue, massulappe ripottanangnge, makkoddang ritasie.

Opu Bugis Lima bersaudara ini merupakan anak-anak dari Opu Tenri Borong Daeng Rilekke yang masih memiliki hubungan dengan kerajaan Luwu di Sulawesi Selatan. Kelima bersaudara tersebut terkenal sebagai pelaut yang pemberani dan banyak membantu kerajaan-kerajaan yang sedang mengalami kesulitan atau peperangan.

Seperti telah disinggung sebelumnya, sebelum Indonesia merdeka, perang saudara menjadi hal yang lumrah terjadi di berbagai tempat. Pergolakan itu, sebagai akibat terjadinya perebutan tahta dan kekuasaan.

Keadaan seperti itu, juga terjadi di semenanjung Melayu seperti perseteruan Raja Sulaiman dengan Raja Kecik Sultan Mahmud Syah.

Kepulauan Riau juga mengalami hal yang sama. Johor yang pada saat itu menjadi legasi dari kesultanan Malaka terlibat ke dalam intrik perebutan kekuasaan. Dendam ini muncul karena sebelumnya seorang hulubalang yang bernama Megat Sri Rama bersekongkol dengan Tun Abdul Jalil untuk membunuh penguasa yang sah pada masa itu, yakni Sultan Mahmud Syah yang berkuasa dalam tahun 1685-1699 masehi. Siasat ini berhasil dan tampuk kekuasaan akhirnya jatuh ke tangan Tun Abdul Jalil dan keluarganya dalam tahun 1699-1718 Masehi.

Keturunan Sultan Mahmud Syah kemudian melarikan diri kejaran Tun Abdul Jalil. Peristiwa ini kemudian menimbulkan dendam bagi keturunan dari Sultan Mahmud Syah yang dikenal dengan sebutan Raja Kecik dari Siak. Ia kemudian meminta bantuan dari orang-orang Minangkabau, Suku Laut, dan persenjataan dari Belanda untuk menggempur Johor. Tun Abdul Jalil kemudian terbunuh dan Johor kemudian berhasil dikuasai oleh Raja Kecik Sultan Mahmud Syah.

Terbunuhnya Tun Abdul Jalil ini rupanya kembali menyebabkan dendam di hati anaknya yaitu Raja Sulaiman. Untuk mengalahkan Raja Kecik Sultan Mahmud Syah, maka Raja Sulaiman meminta bantuan kepada orang-orang Bugis.

Perang pun kembali berkecamuk, Pasukan Raja Sulaiman yang dibantu angkatan perang Bugis kemudian menyerang pasukan Raja Kecik Sultan Mahmud Syah di wilayah di Bintan dan Siak. Raja Kecik Sultan Mahmud Syah beserta pendukungnya kemudian berhasil dikalahkan.

Raja Sulaiman kemudian dinobatkan sebagai Sultan dan di masa pemerintahannya pusat Kerajaan Johor kemudian dipindahkan ke Pulau Bintan.

Opu Daeng Perani sebagai anak yang tertua memiliki peranan yang penting dalam membantu Raja Sulaiman untuk meraih kemenangan dan menyelamatkan adiknya yakni Tengku Kamariah yang ditawan oleh Raja Kecik pada saat peperangan terjadi.

Sebagai penghargaan atas jasanya, Raja Sulaiman kemudian membentuk suatu jawatan dan memberikan gelar kepada Opu Daeng Parani sebagai Yang Dipertuan Muda atau Yamtuan Muda. Akan tetapi Daeng Perani menolak dan mengusulkan agar yang menjadi Yamtuan atas Johor-Riau diberikan kepada adiknya yang bernama Daeng Marewa sebagai Yamtuan I.

Atas penolakan Opu Daeng Parani tersebut, maka sebagai gantinya Raja Sulaiman menjadukan Daeng Parani sebagai anggota keluarga dengan menikahkan Daeng Parani dengan adiknya yang bernama Tengku Tengah.

Selanjutnya, keturunan Opu Daeng Parani inilah yang kemudian memegang peranan politik yang besar di dalam pemerintahan Kerajaan Johor-Riau-Lingga.

Dari perkawinan Opu Daeng Parani dengan Tengkuh Tengah, melahirkan lelaki yang bernama Opu Daeng Kemboja yang kemudian menjadi Yang Dipertuan Muda Riau ke-3 dalam tahun 1745 -1777. Pengangkatannya itu setelah pamannya Opu Daeng Chelak meninggal dunia.

Pada saat Yang Dipertuan Muda I Daeng Marewah yang berkuasa dalam tahun 1721-1728 Masehi, memerintah sebagai perdana menteri, ia mendapatkan gelar Kelana Jaya Putera. Berkuasa penuh dan memiliki wewenang untuk memutuskan berbagai urusan pemerintahan.

Setelah wafat, Daeng Marewa kemudian digantikan oleh adiknya yang bernama Daeng Chelak yang berkuasa dalam tahun 1728-1745 Masehi.

Kedua tokoh Bugis ini Daeng Marewa dan Daeng Celak dimakamkan dalam satu kompleks permakaman di Tanjungpinang. Hingga saat ini, makam kedua tokoh bugis itu, kerap dikunjungi para peziarah tidak hanya berasal dari Indonesia saja, melainkan juga berasal dari negara serumpun yakni Malaysia, Singapura, dan Brunai Darussalam.

Orang Bugis yang memiliki posisi dalam pemerintahan pada masa itu, kemudian disebut dengan para Yamtuan atau Yang Dipertuan yang kedudukannya setara dengan para bangsawan Melayu.

Sebagai penghargaan atas jasa kedua tokoh bugis tersebut, maka pada tahun 2009 lalu, Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau menerbitkan buku yang berisi silsilah Melayu dan Bugis atau yang dikenal dengan Kitab Silsilah Melayu dan Bugis dan Sekalian Raja-rajanya.

Itulah sebabnya, hingga sampai sekarang
Orang-orang Melayu menganggap para pendatang Bugis ini sebagai saudara karena telah berjasa membantu mereka mengalahkan Raja Kecil dari Siak. Sebagai rasa terima kasih orang-orang Melayu kepada orang Bugis yang telah membantunya, maka mereka kemudian memberikan tempat untuk ditinggali sejak tahun 1718 Masehi.

Dalam perkembangannya, orang-orang Bugis pun semakin banyak yang berdatangan dan tempat tersebut lambat laun berkembang menjadi sebuah perkampungan yang disebut kampung Bugis.

Eratnya keterkaitan sejarah antara Suku Bugis dengan Masyarakat Melayu yang telah berlangsung sejak lama, menyebabkan proses asimilasi budaya dapat berjalan dengan baik.
Sehingga pada saat ini, sangatlah sulit membedakan antara orang Melayu dengan orang Bugis yang menetap di Tanjungpinang.

Namun, jika kita menyusuri Kampung Bugis, masih banyak dijumpai rumah-rumah yang bercirikan adat Bugis dengan bentuk memanjang ke belakang dan tambahan di samping bangunan utama serta bagian depan yang biasa disebut lego-lego.

Pada masa sekarang ini kebanyakan generasi muda keturunan dari orang Bugis sudah tidak begitu fasih dalam berbahasa Bugis.

Namun demikian, masyarakat Kampung Bugis masih menggunakan pakaian adat Baju Bodo atau Waju Tokko untuk perempuan dan laki-lakinya menggunakan Baju Lipa Sabbe yang atasannya menggunakan jas pada acara-acara tertentu. Bahkan, beppa Barongko juga masih menjadi sajian kuliner masih dapat dijumpai di kampung Bugis hingga sekarang.

Salah satu Ciri khas yang menandai kampung bugis di Tanjung Pinang adalah terdapat “Pelantar” yang mirip seperti dermaga sebagai tempat bersandarnya perahu, menaikan dan menurunkan penumpang serta hasil laut. “Pelantar” ini pun juga menjadi tempat favorit bagi orang-orang di Kampung Bugis untuk bercengkrama bersama handai tolan.

Selain itu, banyak diantara orang-orang di Kampung Bugis yang gemar menghabiskan waktunya di warung kopi selepas mereka melakukan pekerjaan. Karena bagi kaum laki-laki, warung kopi adalah arena sosial yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupannya.

Pendekatan adat istiadat juga dilakukan untuk membangun kembali kesadaran masyarakat Pangkal Pinang akan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan.

Nilai leluhur dalam pepatah Bugis kemudian digunakan untuk mengajarkan tentang arti kebersihan. Seperti “Aja Munampui Tanae, Mataruko” artinya “Jangan Menumbuk Tanah, Nanti Kamu Bisa Tuli”. Pepatah ini memiliki maksud agar manusia hidup, janganlah mengotori dirinya sendiri.

Kemudian “Aja Muanre Tebbu Ri Leuremmu, Matei Indo’mu” yang artinya “Jangan Makan Tebu di Tempat Tidur, Akan Mati Ibumu”. Pepatah ini memiliki maksud bahwa orang Bugis janganlah suka membuang kotoran sembarangan karena dapat di kerumuni semut dan menimbulkan penyakit.

Filosofi ini sama hal nya ketika digunakan dalam menjaga kualitas air bersih karena dengan menjaga kebersihan air, maka air itu tidak akan terkontaminasi oleh bahan-bahan yang berbahaya. Usaha ini pun ternyata berhasil dilakukan, sehingga beberapa titik di Kampung Bugis dijadikan sebagai destinasi wisata yang populer.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berikutnya