oleh

We Bataritoja Datu Talaga Arung Timurung Raja Bone ke-17

We Bataritoja, Datu Talaga Arung Timurung, Sultanah Zainab Zulkiyahtuddin adalah raja Bone ke-17 yang memerintah dalam tahun 1714-1715 Masehi. Ia adalah perempuan bugis ketiga setelah We Banrigau dan We Tenrituppu yang memperoleh kesempatan memimpin di kerajaan Bone dimasa lalu. Bataritoja menggantikan ayahnya La Patau Matanna Tikka sebagai mangkau di Bone.

Selain sebagai mangkau di Bone, Bataritoja juga sebagai Datu Luwu dan Datu Soppeng.

Sebelum menjadi mangkau di Bone, Bataritoja sebagai Arung Timurung, namun setelah terpilih menjadi mangkau, maka Timurung diserahkan kepada adiknya yang bernama We Patimana Ware. We Patimana Ware inilah disamping sebagai Arung Timurung, juga sebagai Datu Citta.

Seperti diketahui, bahwa secara nasional Indonesia yang menjadi simbol perempuan adalah RA Kartini. Raden Adjeng Kartini lahir di Jepara, Jawa Tengah, 21 April 1879 dan meninggal di Rembang, Jawa Tengah, 17 September 1904 pada umur 25 tahun. Ia adalah seorang tokoh Jawa dan Pahlawan Nasional Indonesia. Kartini dikenal sebagai pelopor kebangkitan perempuan pribumi.

Namun jauh sebelumnya Bone juga punya perempuan selevel RA Kartini. Artinya jauh sebelum RA Kartini sudah berlaku emansipasi perempuan di Bone. Tidak ada perbedaan hak antara laki-laki dan perempuan di Bone. Siapapun berhak memperoleh kesempatan untuk memimpin.

Mereka bukan sekadar pemimpin simbolik, Para ratu itu telah menorehkan sejarah gemilang bagi perkembangan Kerajaan Bone. Bahkan satu di antaranya pernah menjadi ratu dua kali yakni We Batartoja Datu Talaga.

Dalam lontara akkarungeng di Bone menyatakan, bahwa We Bataritoja Datu Talaga tercatat sebanyak dua kali memimpin di kerajaan Bone, yaitu sebagai raja Bone ke-17 dan raja Bone ke-21.

Dalam catatan lontara diketahui, bahwa ada 6 perempuan yang pernah menjadi pemimpin di kerajaan Bone, yaitu We Banrigau, We Tenrituppu, We Bataritoja, We Imaniratu Arung Data, We Tenriawaru Pancaitana Besse Kajuara, dan We Fatimah Banri Datu Citta.

Bataritoja lahir pada tahun 1668 Masehi, kemudian diangkat menjadi Mangkau’ di Bone pada tanggal 19 September 1714 Masehi dalam usia 46 tahun.

Karena pada saat itu banyak upaya-upaya dari orang lain untuk menghalanginya, maka Bataritoja menyerahkan kepada saudaranya yang berada di Gowa. Bataritoja minta perlindungan kepada saudaranya yaitu La Pareppai To Sappewali SombaE ri Gowa. Sementara akkarungengE ri Bone diserahkan kepada saudaranya yang bernama La Padassajati, Toappeware, Petta Rijalloe.

La Padassajati disetujui oleh Adat bersama Arung PituE untuk menjadi Arumpone menggantikan saudaranya Bataritoja Datu Talaga

Bataritoja diangkat menjadi Mangkau’ ri Bone pada tanggal 17 Oktober 1704 Masehi. dan diberi gelar Sultanah Zaenab Zakiyatuddin. Bataritoja menikah dengan Sultan Sumbawa yang bernama Mas Madinah. Tetapi perkawinan itu tidak berlangsung lama akhirnya bercerai sebelum melahirkan anak. Pernikahan ini memang hanya memenuhi pesan La Tenritatta Petta To RisompaE semasa hidupnya yang menghendaki Bataritoja dikawinkan dengan Sultan Sumbawa Mas Madinah. Bataritoja resmi diceraikan oleh Mas Madinah pada tanggal 27 Mei 1708 Masehi.

Sultan Sumbawa kemudian kawin di Sidenreng dengan perempuan yang bernama I Rakiyah Karaeng Agangjenne. Pernikahannya itu membuat Bataritoja marah, I Rakiyah dikeluarkan sebagai Karaeng Agangjenne, sehingga pergi ke Sumbawa bersama suaminya. Perkawinan I Rakiyah dengan Sultan Sumbawa Mas Madinah melahirkan seorang anak perempuan yang bernama I Sugiratu. Karaeng Agangjenne adalah anak mattola (pewaris) dari La Malewai Arung Berru. I Rakiyah Karaeng Agangjenne adalah anak dari La Malewai Arung Berru Addatuang Sidenreng dengan isterinya yang bernama I Sabaro anak Karaeng Karunrung Tu Mammenanga ri Ujungtana.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berikutnya