oleh

La Padassajati Raja Bone ke-18

LA PADASSAJATI, TOAPPEWARE, PETTA RIJALLOE, SULTAN SULAEMAN, adalah raja Bone ke-18 yang memerintah dalam tahun1715-1718 Masehi. La Padassajati adalah anak dari La Patau Matanna Tikka Matinroe ri Nagauleng dengan isterinya We Mariama Karaeng Pattukangang.

Ia menggantikan kakaknya Bataritoja Datu Talaga. Ketika ayahandanya La Patau selaku Mangkau’ di Bone, La Padassajati membuat kesalahan besar sehingga ia harus mendapat dengan hukuman yang sangat berat. Namun untuk menghindari hukuman ia melarikan diri ke Gowa.

La Padassajati sangat takut kepada ayahandanya yang dikenal sangat menjunjung tinggi adat istiadat serta tidak memandang bulu dalam menegakkan hukum, yakni ade’é temmakkéana’ temmaké eppo yang berarti hukum tak mengenal anak, tak mengenal cucu.

La Padassajati melarikan diri ke Gowa. Di sana ia minta perlindungan kepada neneknya Karaenge ri Gowa. Oleh karena itu La Patau Matanna Tikka minta kepada Karaenge ri Gowa untuk mengembalikan La Padassajati ke Bone untuk diadili oleh adat.

Tetapi Karaenge ri Gowa tidak sampai hati untuk memberikan cucunya itu untuk menjalani hukuman berat di Bone. Hal ini membuat hubungan antara Bone dengan Gowa menjadi tegang dan nyaris menimbulkan peperangan.

Untung Kompeni Belanda cepat-cepat menengahinya. Karena La Patau Matanna Tikka sudah bertegas untuk memberi tindakan tegas kepada Gowa kalau anaknya itu tidak dikembalikan ke Bone untuk menjalani hukuman. Sementara Karaenge ri Gowa juga bertegas untuk tidak akan memberikan cucunya itu.

Dalam lontara akkarungeng ri Bone menyebutkan, bahwa berkat campur tangan Belanda sehingga perang antara Bone dengan Gowa dapat dicegah, yaitu perang antara ayah dan anak dapat terhindari.

Setelah ayahnya meninggal dunia, barulah La Padassajati kembali ke Bone setelah dikembalikan oleh kakaknya Bataritoja, kemudian memberinya akkarungeng atau raja di Bone sekalugus sebagai Datu Soppeng pada tanggal 14 Oktober 1715 Masehi.

Adapun kesalahan yang dilakukan La Padassajati pada masa pemerintahan ayahnya La Patau Matanna Tikka, adalah ia menyuruh untuk membunuh Datu Lamuru yang bernama La Cella anak dari La Malewai Arung Berru Addatuang Sidenreng Matinroe ri Tana Maridie dengan isterinya yang bernama We Karoro Datu Lamuru.

La Padassajati menyuruh orang membunuh La Cella dengan cara mencekiknya sampai mati.

Tindakan La Padassajati ini membuat marah Tellumpoccoe Bone, Wajo, Soppeng, dan memerintahkan menangkap La Padassajati untuk dijatuhi hukuman.

La Padassajati To Appeware hanya memerintah di Bone selama lebih kurang tiga tahun. Karena kesalahan yang dilakukan pada masa mudanya membuat orang banyak jadi dendam terhadapnya. Untuk menyelamatkan diri kemudian menyerahkan kepemimpinannya sebagai raja kepada kakaknya LA PAREPPA, TOSAPPEWALI sebagai raja Bone berikutnya.

Dalam catatan lontara akkarungeng ri Bone menyebutkan, bahwa untuk menghindari hukuman tersebut La Padassajati kemudian mengungsi ke Beula. Di sanalah ia meninggal dunia sehingga digelar Matinroe ri Beula, artinya yang mangkat di Beula. Adapun nama Beula hingga saat ini kami belum dapat letak georafisnya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berikutnya