oleh

La Tenriaji Tosenrima Raja Bone Ke-14

LA TENRIAJI, TOSENRIMA, MATIROE RI SIANG, adalah raja Bone ke-14 yang memerintah dalam tahun 1644-1672 Masehi. Ia menggantikan saudaranya La Maddaremmeng Sultan Muhammad Saleh, Matinroe ri Bukaka menjadi raja Bone.

Setelah pengangkatannya sebagai mangkau di Bone, La Tenriaji Tosenrima melanjutkan perjuangan kakaknya La Maddaremmeng untuk melakukan perlawanan terhadap Gowa. Ketika kakaknya ditangkap ia lari masuk hutan membentuk kekuatan.

Dalam keadaan genting La Tenriaji Tosenrima diangkat oleh ade pitu untuk menggantikan kakaknya La Maddaremneng yang ditawan oleh Gowa. Pengangkatannya secara diam-diam sebagai raja oleh ade pitu tersebut, mengakibatkan raja Gowa Sultan Malikussaid menjadi berang dan marah besar. Karena Bone pada saat itu dibawah pengawasan Gowa.

Tak ayal, Gowa kembali menggempur Bone
yang akhirnya Bone kembali mengalami kekalahan. Karena pada perang ini, Gowa ternyata dibantu oleh Luwu dan Wajo.

Sementara Raja Bone La Tenriaji To Senrima dan laskarnya mendapat bantuan dari pihak keluarga La Tenritatta Arung Palakka yang berada di Kerajaan Soppeng yang berbatasan langsung dengan Kerajaan Bone.

Peperanganpun terus berkecamuk, pasukan Kerajaan Bone di bawah pimpinan Raja La Tenriaji To Senrima terus mengadakan perlawanan. Tetapi di akhir perang, pasukan Kerajaan Bone mengalami kekalahan.

Pertahanan terakhir Arumpone La Tenriaji To Senrima adalah Pasempe Cinennung, sehingga peristiwa kekalahan ini biasa disebut Beta ri Pasempe artinya Kekalahan di Pasempe.

Sejak kekalahannya itu, Raja Bone La Tenriaji To Senrima menjadi tawanan perang bersama keluarga La Tenritatta Arung Palakka dari Soppeng. Kekalahan di Pasempe Cinennung ini mengakibatkan Kerajaan Bone sepenuhnya dikuasai atau dijajah oleh Kerajaan Gowa.

Setelah menguasai Bone, maka Gowa menempatkan Jennang (pengawas) sebagai perwakilan kerajaan Gowa di Bone sampai pada masa munculnya La Tenritatta Arung Palakka.

Sejak saat itu, rakyat Bone dikatakan diperbudak oleh Gowa dikarenakan ketika Gowa membutuhkan tenaga kerja kasar, maka tenaga pekerjanya diambil dari Kerajaan Bone, seperti pada saat pembangunan benteng Somba Opu. Bahkan sebagian pekerja itu dijual sebagai budak belian.

Bangsawan Bone termasuk keluarga La Tenritatta yang berani menentang kedudukan Jennang sebagai perwakilan kerajaan Gowa di Bone juga dibawa ke Makassar untuk dipekerjakan pada pembangunan benteng di Gowa dengan cara kerja paksa dan disiksa.

Sejak kekalahan di Pasempe Cinennung, maka Bone menjadi milik Gowa, Luwu, dan Wajo. Di mana Bone pada masa itu boleh dikata selain rakyatnya disiksa diluar batas peri kemanusian, juga wilayahnya dicabik-cabik.

Wilayah kerajaan Bone dibagi tiga, sebagian diambil oleh Gowa, sebagian diambil oleh Luwu dan sebagian diambil oleh Wajo. Ditawanlah semua anak bangsawan Bone dan Soppeng, termasuk La Pottobune’ bersama isterinya We Tenrisui’ dan anaknya yang masih kecil, yaitu La Tenritatta.

Dalam lontara’ dijelaskan, bahwa adapun yang menjadi milik Wajo tetap berada di Bone, sebab Wajo masih ingat perjanjian yang telah disepakati oleh Arung terdahulu, yaitu ”Yang rebah akan ditopang, yang hanyut akan diraih” sebagaimana isi perjanjian Tellumpocco yang melibatkan Bone, Soppeng dan Wajo.

Disaat pembagian itu, Arung Matowa Wajo yang bernama La Makkaraka mengatakan, ”Bahagian Wajo yang pergi ke Gowa, adalah milik Gowa, bahagian Luwu yang pergi ke Wajo, tetap milik Luwu. Kemudian bahagian Wajo yang masih tinggal di Bone, tetap milik Bone. Kecuali dia sendiri yang datang ke Wajo, barulah milik Wajo”. Permintaan ini akhirnya disetujui oleh Karaenge ri Gowa dan Datu Luwu.

Ketika La Tenriaji To Senrima ditangkap dan dibawa ke Gowa, diikutkanlah semua anak bangsawan Bone lainnya. Setelah itu Bone dibakar oleh orang Gowa, menjadilah Bone sebagai wilayah jajahan Gowa dan seluruh rakyatnya dijadikan hamba.

Sementara La Tenriaji To Senrima di tempatkan di Siang yaitu Pangkep sekarang ini, sedangkan anak bangsawan lainnya dibagi-bagi kepada anggota Hadat Gowa yaitu Bate Salapangnge untuk dijadikan hamba dan sebagainya.

Seperti dijelaskan sebelumnya, bahwa di antara anak bangsawan yang ditawan oleh Gowa, terdapat juga La Pottobune’ Arung Tana Tengnga bersama isteri dan anak-anaknya. Sebab yang tidak tertawan oleh Gowa hanyalah anak kecil, orang tua lanjut umur, kecuali atas permintaan orang tuanya.

La Pottobune’ Arung Tanatengnga, isteri dan anak-anaknya tinggal di rumah Karaenge. Ketika itu La Tenritatta baru berusia 11 tahun. Karena dia seorang anak yang cerdas, sehingga banyak yang menyukainya. Oleh karena itu, semua anggota Hadat Gowa Bate Salapangnge pernah ditempatinya.

Karena La Tenriji To Senrima diasingkan ke Siang, maka Karaenge ri Gowa menyuruh orang-orang Bone untuk mencari Arung (Mangkau’). Tetapi orang Bone tidak berani lagi menunjuk seorang Mangkau’, sehingga orang Bone menyerahkan sepenuhnya kepada Karaenge ri Gowa. Oleh karena itu, Karaengr ri Gowa menunjuk Karaeng Summana untuk melaksanakan pemerintahan di Bone.

Tetapi karena Karaeng Summana tidak bisa menghadapi orang Bone yang kelihatannya tetap berusaha menghalang-halangi segala langkahnya, maka kembalilah Karaeng Summana ke Gowa.

Setibanya di Gowa, Karaeng Summana melapor kepada karaengnge ri Gowa atas ketidakmampuannya menghadapi orang Bone. Oleh karena itu, terjadilah kevakuman pemerintahan di Bone saat itu.

Selama beberapa waktu tidak ada pengganti La Tenriaji To Senrima sebagai Arumpone. Orang Bone dan segenap anggota ade pitu, sudah tidak mau menunjuk seorang Mangkau’. Sementara Karaenge ri Gowa juga ragu untuk mengangkat seorang Arung kalau bukan yang diinginkan oleh orang Bone.

Oleh karena itu, Karaenge ri Gowa hanya menunjuk seorang jennang (pelaksana) yang memiliki wewenang sebagai pengganti Mangkau’ di Bone.

Dalam tahun 1672 Raja Bone La Tenriaji Tosenrima meninggal dunia di Siang, sehingga digelar Matinroe ri Siang.

Siang adalah sebuah kerajaan yang pernah ada dan berkembang di bagian barat jazirah Sulawesi Selatan, Bekas pusat wilayahnya berada di Sengkae’, kelurahan samalewa, kecamatan bungoro, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan atau Pangkep saat ini.

Di sanalah terletak makam raja Bone ke-14 La Tenriaji Tosenrima tepatnya di lokasi Makam Raja Siang yang berada di Kampung Siang.

Dalam perjalanan waktu selanjutnya Bone dipimpin oleh La Tenritatta Arung Palakka.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berikutnya