oleh

Raja Bone Ke-13 La Maddaremmeng

LA MADDAREMMENG, MATINROE RI BUKAKA, adalah raja Bone ke-13 yang memerintah dalan tahun 1631-1644, Lelaki Bugis ini menggantikan pamannya La Tenripale To Akkeppeang Matinroe ri Tallo.

Dalam catatan Lontara Akkarungeng ri Bone, menjelaskan, bahwa, maka diangkatlah La Maddaremmeng sebagai Arumpone, karena pamannya yang bernama La Tenripale telah berpesan serta melalui persetujuan rakyat dan ade pitu untuk menggantikannya bila sampai ajalnya.

Jika membicarakan La Maddaremeng tidak lepas perjuangannya dalam penegakan syariat islam dan penghapusan perbudakan di Sulawesi Selatan. Dalam pemerintahannya selama 13 tahun di Bone ia dianggap banyak melakukan keputusan kontroversial yang mengguncang kehidupan para penguasa kerajaan dan pemilik Budak di Sulawesi Selatan Bone.

La Maddaremmeng sebagai penganut agama Islam yang taat, berupaya menegakkan syariat Islam serta tanpa ada stratifikasi sosial.

Raja Bone La Maddaremeng Matinroe ri Bukaka menerapkan aturan-aturan Islam dengan ketat, tak hanya dalam wilayahnya melainkan ke kerajaan tetangga seperti Soppeng dan Wajo.

La Madderemeng, mengeluarkan perintah untuk tidak lagi mempekerjakan ata (budak). Menurutnya, semua umat Islam adalah orang yang merdeka. Bila seseorang mempekerjakannya maka harus memperoleh nafkah sewajarnya.

Selain pembebasan budak, La Madderemeng juga menghancurkan berhala dan tidak mengijinkan kepercayaan leluhur yang tidak sesuai syariat Islam. Namun, tindakan itu tak begitu disenangi rakyat dan kalangan istana, bahkan ibunya sendiri, We Tenrisoloreng Datu Pattiro.

Pada tahun 1640, We Tenrisoloreng Datu Pattiro ibunda La Maddaremmeng berangkat ke Makassar untuk meminta perlindungan kepada Sultan Malikussaid, raja Gowa ke-15. Ia adalah pengganti Sultan Alaudin yang mangkat.

Kerajaan tetangga yang merasa tertekan dengan aturan La Maddaremmeng secara perlahan menggalang kekuatan dengan kerajaan Gowa.

Dalam lontara’ dijelaskan, bahwasanya kerajaan Gowa Tallo, beberapa kali mengirim utusan ke Bone untuk meminta penghentian aturan tersebut, namun tak pernah digubris oleh La Madderemeng. Akhirnya, perang pun kembali berkobar.

Gowa didukung oleh Wajo, Soppeng dan Sidenreng mereka menghimpun pasukan dalam jumlah besar dan menyerang Bone. Karena diserang di segala lini kerajaan Bone pun takluk pada tahun 1644.

La Maddaremeng ditangkap dan ditawan di Makassar. Sementara adiknya La Tenriaji yang mendukung segala aturan La Madderemeng, melarikan diri.

Kekosongan takhta di kerajaan Bone saat itu, kemudian diisu ileh Sultan Malikussaid menjadi raja Bone sekaligus Gowa

setelah kakaknya ditawan, beberapa tahun kemudian, La Tenriaja muncul dan menghimpun kekuatan. Dewan adat Bone mengangkat La Tenriaja sebagai raja tanpa sepengetahuan Gowa.

Oleh karena itu raja Gowa Sultan Malikussaid bersama Karaeng Patingalloang memimpin pasukan untuk kembali menggempur Bone. Dalam peperangan itu Bone kalah dan ratusan orang Bone menjadi tawanan termasuk La Tenriaja.

Sekutu kerajaan Gowa, kemudian meminta pembagian rata tawanan dari Bone untuk dijadikan budak. Di kerajaan Gowa, sendiri praktik dan sistem perbudakan memang telah berlangsung sejak lama.

Seperti diketahui, bahwasanya La Maddaremmeng memerintahkan kepada seluruh tuan budak untuk memerdekakan semua budak yang dimilikinya. Kecuali budak turun temurun, tetapi dengan syarat harus diperlakukan berdasarkan peri kemanusiaaan.

Ketika Islam muncul, perbudakan ini merupakan masalah umum dan merupakan penopang sistem ekonomi dan sosial di seluruh jazirah Arabia bahkan di seluruh belahan dunia.

Ironisnya tidak ada orang yang berpikir untuk mengakhirinya. Karena berpikir mengakhiri perbudakan akan menghadapi perlawanan yang sangat dahsyat dari penguasa dan lapisan masyarakat.

Namun tidak demikian dengan Raja Bone La Maddaremmeng yang secara terang-terangan menentang perbudakan serta menetapkan penghapusan budak di kerajaan Bone.

Syiar Islam yang dilakukan oleh La Maddaremmeng cukup giat. Ia terkenal gigih membentuk pemerintahan yang berbasis Islam dan terbukti pada kebijakan-kebijakannya.

Ajaran Islam di Kerajaan Bone berpengaruh di kalangan bangsawan dan kalangan orang kebanyakan atau orang merdeka, lain halnya di kalangan budak. Sebagaimana diketahui, bahwa budak adalah seseorang yang dimiliki dan tidak memiliki kebebasan.

Proses pemurnian agama Islam memerlukan waktu yang lama dan tidak dapat dilakukan secara instan. Hal tersebut karena kepercayaan nenek moyang masyarakat Kerajaan Bone masih melekat pada saat Islam masuk.

La Maddaremmeng merupakan seorang raja yang dikenal sangat patuh terhadap aturan Islam sebagaimana yang tercantum dalam Lontara’, yang mengatakan:

Iyatonaé Arung mangkau’ ri aseng maséro pagama. Na maraja pakkamase ri padanna winru’, ri Allah Taala. Artinya: Inilah raja Bone yang dikenal religius, serta memiliki kasih sayang yang tinggi terhadap sesama ciptaan Allah SWT.

Masa pemerintahan La Maddaremmeng nasib budak khususnya di di kerajaan Bone dan Sulawesi Selatan pada umumnya sangat memprihatinkan, tentu hal ini sangat bertentangan dengan ajaran islam.

Budak dapat disuruh bekerja sekeras-kerasnya tanpa bayaran, dan tidak memiliki kebebasan atas melakukan sesuatu tanpa perintah tuan. Bahkan membunuh budak milik sendiri tidak ada hukumnya.

Raja La Maddaremmeng harus menghadapi masalah yang cukup pelik dalam memberangus perbudakan dalam pemerintahannya.

Dari berbagai sumber mengatakan, bahwasanya, adapun bentuk perbudakan yang terjadi di Kerajaan Bone pada masa lalu, yaitu:

b.Budak sebagai Hamba Sahaya atau Ata

Budak yang melakukan pekerjaaan sebagai bentuk pengabdian diri terhadap sang tuan atau pada kerajaan, budak dengan pengertian hamba sahaya pada masa kerajaan biasa juga disebut budak turun temurun (Keturunan), yang melakukan pelayan istana, penjaga kerajaan, dayang-dayang, penata rambut, koki, pengasuh anak, penari, pengrajin, dan mengambil air secara rutin di sumur atau sungai.

Mereka dipandang memiliki status rendah, para budak pun dapat dengan mudah digantikan atau dibunuh tanpa proses hukum.

b. Budak sebagai Barang Dagangan

Praktik perdagangan budak sebetulnya telah lama dijalankan jauh sebelum Belanda datang menaklukkan Sulawesi Selatan secara defintif pada tahun 1667.

Kerajaan-kerajaan besar yang menang perang akan mendapat tawanan dari kerajaan yang kalah, selain dijadikan budak kerajaan, mereka juga dijual ke pulau-pulau seberang.

Praktik perdagangan budak semakin merajalela seiring dengan meningkatnya aktivitas produksi barang hasil pertanian maupun laut. Budak-budak yang dijual diambil dari pegunungan, serta dari kerajaan-kerajaan kecil.

Perdagangan budak menjadi komoditas yang sangat laku di pasaran dan Makassar merupakan tempat transit dari para pedagang budak di Sulawesi.

Perdagangan budak di Kerajaaan Bone pada masa pemerintahan Raja La Maddaremmeng dikarenakan ketersediaan budak yang cukup.

Budak dianggap sebagai harta kepemilikan yang dapat mengukur status seseorang sehingga terjadilah perdagangan budak antar bangsawan di Kerajaan Bone maupun di luar Kerajaan Bone.

c.Budak sebagai Buruh Tani

Budak sebagai buruh tani yaitu budak yang dipekerjakan oleh tuannya/pemilik tanah untuk mengolah ladang, membajak sawah, menanam dan memanen padi, jagung dan hasil ladang sesuai perintah sang tuan.

Kebanyakan budak laki-laki yang bekerja sebagai buruh tani sedangkan budak perempuan bekerja mengolah kulit atau juga menenun.

Namun Raja Bone La Maddaremmeng Sultan Muhammad Saleh sangat semangat menerapkan syariat Islam dan menentang segala jenis perbudakan.

Raja La Maddaremmeng ialah seorang Raja yang menganut agama Islam dan ingin menerapkan syariat Islam secara menyeluruh di Kerajaan Bone pada masa pemerintahannya, termasuk kedudukan manusia dimuka bumi semua sama, tanpa ada perbedaan sosial.

Raja La Maddaremmeng menetapkan keputusan untuk memerdekakan (membebaskan) semua budak yang dimiliki oleh tuan budak, kecuali budak turun temurun, namun juga harus diperlakukan sesuai dengan peri kemanusiaan.

Raja La Maddaremmeng mengeluarkan perintah untuk tidak lagi mempekerjakan budak (ata), karena semua umat Islam adalah orang yang merdeka. Bila seseorang mempekerjaan budak maka harus memperoleh nafkah sewajarnya.

Seperti dijelaskan sebelumnya, bahwasanya, La Maddaremmeng juga menghukum berat para penyembah berhala atau menyakralkan tempat dan benda-benda tertentu, pelaku zina, pencurian, miras, dan berbagai bentuk kemungkaran yang terjadi di wilayah pemerintahannya.

La Maddaremmeng merupakan Raja Bone yang menerapkan syariat Islam secara formal di Bone dan daerah sekitarnya.

Sebagaimana dalam lontarak disebutkan bahwa :

Iyana (La Maddaremmeng) mapparéntangngiri to Bonéwe, pamaradékai sininna ata riyalaé ri laleng musu’ kuwaé topa sininna ata riduiriyé. Iya muwasa’ ata mana’é manennungeng wedding mui ripowata naé kiyagi lise’ bolai padatosa’ séajingngé.

Artinya: Inilah (La Maddaremmeng) yang memerintahkan kepada masyarakat Bone untuk memerdekakan seluruh sahaya yang diambil dalam peperangan, juga seluruh sahaya yang dibeli. Adapun sahaya warisan yang telah lama mangabdi dibolehkan dijadikan sahaya, tetapi harus diperlakukan manusiawi sebagaimana perlakuan terhadap keluarga sendiri.

Perintah atau ketetapan Raja La Maddaremmeng tentang “larangan perbudakan” bahwa semua hamba sahaya harus dimerdekakan, kecuali hamba warisan. Budak yang dipekerjakan harus diberi upah yang sama dengan pekerja. Ketetapan “larangan perbudakan” dikenakan pada semua bangsawan, penguasa daerah dan pemilik budak tanpa kecuali.

Keputusan tersebut mendapat tentangan dari para petinggi kerajaan, bangsawan dan penguasa daerah. Para penentang menganggap budak sebagai satu-satunya kekayaan yang dapat bekerja di persawahan dan melakukan pekerjaan produktif lainnya.

La Maddaremmeng mengeluarkan beberapa kebijakan di antaranya penghapusan budak karena raja-raja sebelumnya tidak pernah mengeluarkan kebijakan yang serupa. Sang Raja juga berupaya memurnikan agama Islam di mana masyarakat masih banyak mencampuradukkan antara agama dan budaya lokal. Semua hal tersebut dilakukan oleh La Maddaremmeng untuk meningkatkan kualitas keagamaan di Kerajaan Bone.

Namun tidak semua jalan yang ditempuh berjalan dengan mulus, La Maddaremmeng dalam menjalankan kebijakannya banyak mendapat tantangan. Bahkan keputusan tersebut mendapat tantangan dari ibunya sendiri We Tenrisoloreng yang tidak sepakat dengan kebijakan sang anak.

Raja Bone La Maddaremmeng tetap teguh menjalankan syariat Islam, padahal dalam sejarah Kerajaan Bone menerima Islam karena diperangi oleh Kerajaan Makassar pada tahun 1611 M. Namun ketika Bone berusaha menjalankan syariat Islam malah ditentang kembali oleh Gowa, maka Gowa pada saat itu dianggap berkhianat kepada Kerajaan Bone.

Gowa kemudian dianggap berkhianat karena membantu menentang keputusan Raja Bone La Maddaremmeng tentang penghapusan perbudakan yang sesuai dengan ajaran Islam.

Daerah Cimpu merupakan tempat dimana pasukan La Maddaremmeng mengalami kekalahan yang dikenal dengan Beta Ri Cimpu (kekalahan di Cimpu wilayah Luwu). Setelah pasukan Raja La Maddaremmeng mundur karena kekalahan, akhirnya La Maddaremmeng ditawanoleh pasukan gabungan Gowa dan diasingkan di Gowa.

Raja La Maddaremmeng mempertaruhkan diri dan kekuasaannya demi menegakkan syariat Islam di Kerajaan Bone sehingga mengalami kekalahan dan akhirnya ditawan.

Pasukan Kerajaan Gowa kemudian mengadakan lagi serangan besar-besaran untuk menumpas perlawanan rakyat Bone di bawah pimpinan Raja To Senrima.

Raja To Senrima yang mendapat bantuan dari pihak keluarga yang berdiam di Kerajaan Soppeng antara lain keluarga La Tenritatta. Kerajaan Soppeng yang berbatasan dengan Kerajaan Bone sehingga bantuan dari Soppeng bisa lebih cepat tiba di Bone dibanding daerah lainnya.

Peperanganpun terjadi, pasukan Kerajaan Bone di bawah pimpinan Raja La Tenriaji To Senrima terus mengadakan perlawanan. Tetapi di akhir perang, pasukan Kerajaan Bone mengalami kekalahan di Pasempe yang dikenal dengan sebutan Beta Ri Pasempe (kekalahan di Pasempe).

Sejak kekalahannya, Raja La Tenroaji To Senrima menjadi tawanan perang bersama keluarga La Tenritatta dari Soppeng. Kekalahan pasukan Kerajaan Bone dibawah pimpinan Raja La Tenroaji To Senrima di Pasempe, mengakibatkan Kerajaan Bone sepenuhnya dikuasai/dijajah oleh Kerajaan Gowa.

Sejak tahun 1644 Kerajaaan Bone di bawah kekuasaan Gowa dengan ditempatkannya Jennang (pengawas) perwakilan dari Kerajaan Gowa di Kerajaan Bone sampai pada masa pemerintahan Raja La Tenritatta Arung Palakka tahun 1646.

Sejak saat itu, rakyat Bone dikatakan diperbudak oleh Gowa dikarenakan ketika Gowa membutuhkan tenaga kerja kasar maka tenaga pekerjanya diambil dari Kerajaan Bone, seperti pada saat pembangunan benteng Somba Opu.

Kemudian muncul Jennang yang bertugas untuk mengawasi pergerakan di Kerajaan Bone agar tidak ada lagi perlawanan yang mengganggu keamanan Kerajaan Gowa. Para budak yang ada di Kerajaan Bone dibawa ke Makassar untuk pembangunan benteng juga untuk dijual.

Bahkan bangsawan yang berani menentang kedudukan Jennang di wilayah Kerajaan Bone akan dibawa ke Makassar untuk dipekerjakan pada pembangunan benteng di Gowa dengan cara kerja paksa dan disiksa.

La Maddaremmeng meninggal dunia di Bukaka, sehingga dia dinamakan MatinroE ri Bukaka. Arumpone inilah yang pertama membuat payung putih untuk dipakai bila bepergian.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berikutnya