oleh

La Tenripale To Akkeppeang Arung Timurun Raja Bone ke-12

LA TENRIPALE, TO AKKEPPEANG, ARUNG TIMURUNG, SULTAN ABDULLAH, adalah raja Bone ke-12 yang memerintah dalam tahun 1616-1631 Masehi.

Dalam catatan lontara akkarungeng ri Bone mengatakan, bahwa ketika La Tenriruwa Matinroe ri Bantaeng dilengserkan oleh ade pitu dan rakyat Bone, maka yang menggantikannya adalah sepupu satu kalinya yang bernama La Tenripale To Akkeppeang Arung Timurung. Dia adalah anak dari La Inca Matinro ri sapanana atau Addenenna, raja Bone ke-8.

Ketika menjadi Mangkau’ di Bone, La Tenri Pale dikenal sangat ramah dan merakyat. Beliau sangat memperhatikan masalah perekonomian dan pembangunan pertanian dalam wilayah kerajaan.

Dalam perjalanan pemerintahannya La Tenripale tidak mengikuti jejak sepupunya La Tenriruwa Matinroe ri Bantaeng terkait penerimaan islam di kerajaan Bone. Di mana La Tenriruwa secara terang-terangan mengumandangkan Agama Islam di Bone.

La Tenripale tetap sependirian dengan ade pitu untuk menolak kehadiran Islam di Bone. Dengan alasan mereka belum tahu seluk beluk tentang Islam.

Dalam catatan lontara akkarungeng ri Bone juga mengisahkan, bahwanya raja Bone La Tenripale membangkitkan kembali semangat orang Bone untuk menolak masuknya agama Islam di kerajaan Bone. Menurutnya ajakan Gowa itu lebih bernuansa politik untuk perluasan wilayah.

Atas penolakan itu, sehingga Gowa kembali memerangi Bone, yang pada akhirnya La Tenripale memerintahkan ade pitu dan rakyat Bone untuk lebih baik menyerah, ketimbang menimbulkan korban jiwa di kedua belah pihak Bone dan Gowa.

Selanjutnya karaenge ri Gowa mengundang seluruh negeri palili daerah bawahan Bone untuk mengucapkan syahadat sebagai tanda bahwa seluruh orang Bone telah menerima agama Islam. Setelah itu Karaenge ri Gowa kembali ke negerinya.

Satu tahun setelah orang Bone menerima Islam, raja Bone La Tenripale berangkat ke Tallo menemui Dato ri Bandang sekaligus mempelajari islam. Di sanalah ia diberikan gelar dengan nama Sultan Abdullah.

Selama menjadi Arumpone atau mangkau di Bone, La Tenripale selalu bolak balik ke Gowa untuk menemui Karaenge ri Gowa. Pada masa itu Bone dan Gowa sangat rukun dan damai.

Dalam tahun 1931 raja Bone La Tenripale kembali melakukan kunjungan di Tallo, lalu Ia jatuh sakit menyebabkan ia meninggal dunia. sehingga digelar La Tenripale To Akkeppeang Matinroe ri Tallo atau yang meninggal di Tallo.

Dalam catatan Lontara Akkaryngeng di Bone juga dikisahkan, bahwa ketika akan diangkat menjadi Mangkau’ di Bone, La Tenripale dengan orang Bone berjanji, yang intinya mengatakan, bahwa:

– La Tenripale berkata : “Siapa yang mengingkari janji, dialah yang menanggung risiko buruknya”
– Kemudian Orang Bone berkata : “Siapa yang berbuat kebaikan, dialah yang menerima imbalan kebaikan itu”

Setelah saling mengiyakan kesepakatan itu, maka diangkatlah La Tenripale To Akkeppeang Arung Timurung menjadi Mangkau’ di Bone.

Setelah beberapa waktu menjadi Arumpone, diadakanlah penggalian bendungan di sebelah selatan Leppangeng. Selama tiga tahun digali, ternyata airnya tak bakal naik.

Kemudian pindah lagi ke Sampano untuk membuat tiang rumah, tiba-tiba La Tenripale kena penyakit. Sehingga ia kembali ke Bone.

Setibanya di Bone, dipanggillah Arung Mampu dan menyampaikan, bahwa berangkatlah ke Sidenreng memanggil keluargaku untuk datang mengambil kembali hak miliknya.

Setelah itu, La Tenripale langsung berangkat ke Tallo. Akan tetapi di sana ia meninggal dunia karena sakit.

Ketika Arung Mampu kembali dari Sidenreng, La Tenripale sudah tidak ada di Bone. Ade pitu dan rakyat Bone sudah mengetahui atas wafatnya raja Bone La Tenripale.

Tak lama kemudian dalam tahun 1631 Masehi diangkatlah kemanakan La Tenripale yang bernama La Maddaremmeng sebagai Arumpone, sebab dialah yang dipesan oleh pamannya untuk menggantikannya bila sampai ajalnya. Dan La Maddaremmeng tercatat yang mula-mula membuat payung putih untuk dipakai bila bepergian.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berikutnya