oleh

La Tenriruwa Raja Bone ke-11 Tahun 1611-1616

LA TENRIRUWA, SULTAN ADAM, MATINROE RI BANTAENG, adalah raja Bone ke-11 yang memerintah di kerajaan Bone dalam tahun 1611-1616, ia menggantikan sepupunya We Tenrituppu Matinroe ri Sidenreng.

Setelah dilantik menjadi raja Bone ke-11 tahun 1611 Masehi, La Tenriruwa menjalankan roda pemerintahan dengan baik, yang dibantu oleh ade pitu. Ia disukai oleh rakyatnya, karena bicaranya sangat fasih kepada siapapun.. Akan tetapi, konon salah satu kebiasaanya sewaktu beranjak dewasa, suka merenung dalam kesendirian di tempat sunyi, yang jauh dari hiruk pikuk. Pada saat itu ia tidak mau diganggu. Bisa saja dengan kebiasaannya itu sehingga diberi nama La Tenriruwa, artinya yang tidak suka dengan keramaian.

Suatu masa dalam pemerintahannya, pasukan Gowa memasuki Bone dan membangun pertahanan di Cellu dan Pallette. Pasukan itu dipimpin langsung oleh Raja Gowa Sultan Alauddin dengan maksud mengajak Bone memeluk Islam.

Ternyata ajakan Gowa tersebut disambut baik oleh La Tenriruwa, dan akhirnya ia memeluk agama Islam di Pallette. Setelah memeluk Islam, selanjutnya La Tenriruwa diberi gelar Sultan Adam.

Setelah itu, tak lama kemudian La Tenriruwa mengumpulkan para anggota Ade’ Pitu bersama rakyat dan menyampaikan pesan, yang intinya mengatakan, bahwasanya,

Kalian telah memberikan kepercayaan kepadaku untuk melihat kebaikan Tana Bone dan untuk itu engkau memayungi Saya, yaitu mengangkat menjadi raja. Kini Raja Gowa membawa cahaya kebaikan.

Oleh kerena itu, sebaiknya kita orang Bone menerima Islam. Karena hal itu berdasarkan perjanjian yang telah kita sepakati dengan Raja Gowa pada masa lalu, yakni: “Bahwa siapa yang menemukan kebaikan dialah yang menyampaikan”.

Sekarang Raja Gowa datang, karena menurut pemikiran baginda Raja Gowa bahwa agama Islam itu adalah jalan kebaikan.

Selanjutnya, ia menyampaikan pesan Raja Gowa yang mengatakan, bahwa jika Bone menerima Islam berarti hanya Bone dan Gowa yang besar. Marilah kita menerima agama Islam itu, dan marilah kita berpegang teguh kepada Tuhan Yang Maha Esa.

La Tenriruwa kemudian menambahkan, andaikata kita tidak menerima maksud baik yang ditawarkan oleh Raja Gowa dan nanti kita diserang kemudian kalah baru kita menerimanya, berarti kita diperhamba oleh Gowa. Sebaliknya, kalau kita menerimanya dengan baik berarti baginda hanya meninggalkan petuah-petuah kepada kita.

Akan tetapi, pesan La Tenriruwa rupanya tidak diindahkan oleh ade’ pitu dan rakyat Bone. Mereka masih berat meninggalkan kepercayaan lama untuk menerima agama baru.

Setelah seruan La Tenriruwa ditolak oleh Ade’ Pitu bersama rakyat Bone, lalu ia bersama permaisuri dan orang-orang yang masih setia kepadanya meninggalkan Lalengbata, ibu kota Kerajaan Bone, kemudian menuju Pattiro Sibulue.

Tiba di Pattiro, La Tenriruwa juga menyampaikan kepada orang Pattiro maksud kedatangan Raja Gowa di Pallette, namun rakyat Pattiro sependirian dengan ade pitu dan rakyat Bone untuk mempertahankan kepercayaan lamanya.

Tidak berapa lama setelah La Tenriruwa tinggal di Pattiro, daranglah utusan ade pitu dan rakyat Bone yang bernama To Alaungeng membawa hasil musyawarah rakyat Bone bersama Ade’ Pitu, yaitu menurunkan La Tenriruwa dari kedudukannya sebagai Raja Bone.

Alasan penurunan La Tenriruwa, kerena ia dipandang telah melanggar adat akibat meninggalkan rakyat dan Kerajaan Bone dalam keadaan genting dan terancam, yakni saat kedatangan Raja Gowa dan pasukannya di Pallette.

Menanggapi keputusan penurunannya sebagai Raja Bone, La Tenriruwa mengatakan:
“Engkau mengatakan bahwa saya meninggalkan rakyat dan Kerajaan Bone dalam kedaan terancam oleh musuh. Akan tetapi engkau lupa, karena kecintaankulah kepada rakyat Bone sehingga saya menganjurkan agar engkau semua menerima maksud baik kedatangan Raja Gowa yang membawa
agama Islam.

Oleh sebab kalian tidak mau menerima dengan baik, maka tetaplah kalian di tempat gelap gulita dan biarkanlah saya menuju ke tempat yang terang benderang yang diridhai oleh Tuhan Yang Maha Esa”.

Setelah utusan ade pitu dan rakyat Bone kembali, La Tenriruwa kemudian mengirim utusan kepada Raja Gowa di Pallette guna menyampaikan keadaan dirinya.

Setelah utusan tersebut menyampaikan pesan, lalu ia kembali ke Pattiro bersama pasukan Gowa di bawah pimpinan Karaeng Patu. Namun demikian, rakyat Pattiro tetap menolak, bahkan mengepung istana La Tenriruwa yang saat itu bersama pasukan Karaeng Patu.

Dalam pengepungan tersebut La Tenriruwa bersama Karaeng Patu dapat meloloskan diri dan melakukan perlawanan. Gabungan pasukan Gowa dan pendukung setia La Tenriruwa berhasil memukul mundur pasukan pengepung sampai ke pegunungan Maroanging dan berakhir dengan kemenangan La Tenriruwa.

Setelah itu, La Tenriruwa berangkat ke Pallette untuk menemui Sultan Alauddin raja Gowa, sedangkan Karaeng Patu dan pasukannya tetap tinggal di Pattiro untuk menjaga stabilitas keamanan. Tiba di Pallette, La Tenriruwa disambut langsung oleh raja Gowa Sultan Alauddin.Ia adalah raja Gowa ke-14 yang mula-mula memeluk Islam dan berkuasa mulai tahun 1593-1639 Masehi

Dalam pertemuan di Pallette, raja Gowa menanyakan daerah-daerah yang menjadi milik La Tenriruwa, dan dijawab dengan menyebut daerah-daerah, seperti Pattiro, Awangpone dan Palakka. Setelah itu, Raja Gowa menyerahkan permadani berhias emas.

Menanggapi pemberian itu, La Tenriruwa berkata: “Jika pemberian ini atas pertimbangan, karena saya memihak kepada Gowa dan berlawanan dengan rakyat Bone, maka saya tidak akan menerimanya.

Raja Gowa menjawab: “Kami lakukan ini karena mengikuti adat para pendahulu, yakni jika keluarga bertemu, maka ia memberi sesuatu sebagai tanda kegembiraan”.

Setelah mendengarkan penjelasan Raja Gowa, La Tenriruwa menerima permadani yang dimaksud.

Keduanya kemudian melanjutkan pembicaraan. Isi pembicaraan tersebut, sebagai berikut:

“Makkedai Karaengnge: iyana tappassabbiyang ri dewata seuwae baiseng, taniyapa wijammeng mangkau ri Gowa ri Tallo
temmuwanui anummu, murigau bawang naripadammu tau. Narekko engka ja’ tujuo utimpai tangekku, kuuttama rija’mu.

Artinya:
Raja Gowa berkata: “Dengan disaksikan Dewata yang tunggal, selama kami atau anak cucu kami yang berkuasa di Gowa dan
di Tallo, selama itu pula raja Bone tetap memiliki kepunyaannya dan tidak akan diganggu gugat oleh siapa pun. Kalau ada kesulitan yang menimpa dirimu, kami akan datang membantu.

Makkadai arungpone La Tenriruwa: temmarunu wesseku tessekke bilakku,
tenritimpa balao ri tampukku narekko engka ja’ tujui tanae ri Gowa nade kuuttama. Mauni si peppa mua awo kuoppangi nakulao
rimusu perimu Karaeng, lettu ri torimunrimmu, to rimunrikkuto, sarekko tenrilwelai ada tongeng”.

Artinya:
Arungpone La Tenriruwa berkata: “rasanya tidak lengkap kalau ada kesulitan yang menimpa kerajaan Gowa kalau kami tidak datang, meskipun sebatang bambu sekalipun kami pergunakan untuk menyeberang memberikan bantuan kepada Karaeng sampai kepada anak cucu kami asalkan kami tidak dikhianati/diingkari”.

Pada masa-masa selanjutnya, La Tenriruwa tidak bermukim di Bone, tetapi bermukim di Gowa dalam rangka memperdalam Islam. Ia berguru kepada Dato ri Bandang.

Kemudiab Raja Gowa memberi kepadanya kesempatan memilih tempat menetap. La Tenriruwa Sultan Adam memilih tinggal di Bantaeng. Di sanalah ia menetap dan mangkat sehingga diberi gelar anumerta Matinroe ri Bantaeng.

Raja Bone selanjutnya, Ade’ Pitu memilih dan melantik La Tenripale Arung Timurung menjadi Raja Bone ke-12 pada tahun 1616.

Berikutnya