oleh

We Tenri Tuppu Matinroe ri Sidenreng Raja Bone ke-10

We Tenrituppu, Matinroe ri Sidenreng, adalah perempuan Bugis kedua setelah We Banrigau yang memperoleh kesempatan memimpin di kerajaan Bone. Hal ini menunjukkan bahwa, perempuan di Kerajaan Bone dapat menjadi seorang raja karena perempuan dianggap memiliki kemampuan yang sama seperti halnya dengan laki-laki.

Dalam sejarahnya Kerajaan Bone pernah dipimpin oleh enam raja perempuan yaitu We Benrigau Makkaleppie Mallajange ri Cina raja Bone ke-4 (1496-1516), We Tenrituppu Raja Bone ke-10 (1602-1611), Bataritoja Daeng Talaga Raja Bone ke-17 (1714-1715), kemudian terpilih lagi sebagai Raja Bone ke-21(1724-1749), We Imaniratu Arung Data Raja Bone ke-25 (1823-1835), Pancaitana Besse Kajuara Raja Bone-28 (1857-1860), dan Fatimah Banri Raja Bone ke-30 (1871-1895).

Pada awal kepemimpinan raja perempuan, Kerajaan Bone telah memiliki perekonomian yang cukup mendukung di sektor pertanian. Kebijakan dan keberhasilan yang dilakukan oleh raja-raja perempuan ini berbeda-beda, seperti dalam bidang ekonomi (pada masa kepemimpinan We Benrigau), sistem pemerintahan (pada masa kepemimpinan We Tenrituppu), kerja sama dengan kerajaan lain (pada masa kepemimpinan Batari Toja), pertahanan dan keamanan (pada masa kepemimpinan I Maniratu Arung Data dan Besse Kajuara), dan dalam bidang kesenian (pada masa kepemimpinan Fatimah Banri)

Sementara We Tenrituppu Matinroe ri Sidenreng memimpin kerajaan Bone selama 9 tahun, mulai tahun 1602-1611. Dalam pemerintahannnya, inilah mangkau’ atau raja Bone yang mula-mula membentuk dan mengangkat Arung Pitu atau tujuh pemegang adat di Bone.

Adapun ketujuh Matoa atau Kepala Wanua yang ditunjuk, adalah:
1. Matoa Tibojong,
2. Matoa Ta,
3. Matoa Tanete Riawang,
4. Matoa Tanete Riattang,
5. Matoa Macege
6. Matoa Ujung dan
7. Matoa Ponceng

Ketujuh matoa atau kepala wanua tersebut biasa disebut arung pitue atau ade’ pitue.

We Tenrituppu berkata kepada Arung Pitue, ”Saya mengangkat kalian sebagai Arung Pitu untuk membantu saya dalam menyelenggarakan pemerintahan di Bone. Hal ini saya lakukan karena saya adalah seorang perempuan yang tentunya membutuhkan bantuan. Namun perlu kalian tahu, bahwa saya mengangkatmu menjadi pemegang adat, tetapi kalian tidak bisa melangkahi adat Bone, tidak bisa menyatakan perang, tidak bisa mewariskan kepada anak cucu jika saya tidak mengetahuinya. Kacuali apabila duduk semua turunan Mappajunge kemudian direstui oleh Mangkau’.

Pada masa pemerintahan We Tenrituppu, Karaenge ri Gowa datang ke Ajattappareng membawa agama Islam. Sepakatlah Tellumpoccoe (Bone, Wajo, dan Soppeng ) untuk menghalangi, sehingga Karaenge ri Gowa kembali ke kampungnya.

Satu tahun kemudian datang lagi Karaenge ri Gowa, namun dihalangi lagi oleh Tellumpoccoe. Kedua kubu bertemu di sebelah timur Bulu Sitoppo dan terjadilah perang yang berakhir dengan kekalahan Tellumpoccoe.

Satu tahun kemudian datang lagi Karaenge ri gowa ke Soppeng. Tetapi tidak ada lagi bantuan dari Bone dan Wajo, sehingga Soppeng dikalahkan dan masuklah agama Islam di Soppeng. Datu Soppeng yang menerima Islam bernama Beowe.

Setelah Soppeng menerima Islam, Karaenge ri Gowa menyerang Wajo dan kalahlah orang Wajo. Lalu Arung Matoa Wajo yang bernama La Sangkuru menerima Islam. Sejak itu seluruh orang Wajo memeluk Islam.

Tahun berikutnya setelah orang Wajo masuk Islam, Arumpone We Tenrituppu berangkat ke Sidenreng untuk menanyakan tentang Islam. Ternyata begitu sampai di Sidenreng langsung masuk Islam. Di Sidenreng We Tenrituppu jatuh sakit yang menyebabkan meninggal dunia. Oleh karena itu dinamakanlah We Tenrituppu Matinroe ri Sidenreng.

Penerimaan Islam di Kerajaan Bone didahului beberapa proses berliku. Setelah Kerajaan Gowa berhasil mengislamkan Soppeng (1608) dan Wajo (1610), Raja Bone We Tenrituppu (Raja Bone ke-10) secara diam-diam berangkat ke Sidenreng dengan maksud mempelajari Islam. Namun belum sempat kembali ke Bone, We Tenrituppu menderita sakit yang menyebabkannya wafat, setelah
sebelumnya memeluk agama Islam.

Setelah berita wafatnya We Tenrituppu diterima, Ade Pitu memilih dan melantik La Tenriruwa menjadi Raja Bone ke-11.Lebih kurang tiga bulan setelah pelantikan La Tenriruwa menjadi Raja Bone ke-11) dalam tahun 1611 M, pasukan Gowa tiba di Pallette dipimpin langsung oleh Raja Gowa Sultan Alauddin dengan maksud mengajak Bone memeluk Islam. Ajakan Gowa tersebut
disambut dengan baik oleh La Tenrirua, dan akhirnya ia memeluk agama Islam. La Tenrirua diberi gelar Sultan Adam.

Namun demikian, We Tenrituppu adalah raja Bone secara pribadi yang mula-mula masuk islam, ia tidak turut menyebarkan islam di lingkungan kerajaan atau kepada orang banyak. Namun jejaknya diikuti oleh raja berikutnya, yaitu La Tenriruwa Matinroe ri Bantaeng setelah memeluk Islam, ia secara terang-terangan mengajak rakyat Bone untuk menerima Islam.

Berdasarkan Lontara Akkarungeng ri Bone, bahwasanya We Tenrituppu berangkat ke Sidenreng atau Kabupaten Sidrap sekarang. Keberangkatannya ke Sidenreng bertujuan untuk mengenal dan mempelajari islam yang ditawarkan oleh Gowa. Namun, setelah mengetahui dan memahami, We Tenrituppu Matinroe ri Sidenreng langsung memeluk agama Islam. Hingga beliau meninggal di Sidenreng tahun 1611 dan makamnya terletak di Sidenreng Kabupaten Sidenreng Rappang atau Sidrap saat ini.

Selama menjadi mangkau di Bone, We Tenrituppu berhasil membentuk struktur pemerintahan kerajaan yang disebut Matoa Pitu. Matoa Pitu ini kemudian menjadi Ade Pitu , yaitu semacam DPR sekarang.

Tak heran hingga sekarang ini banyak perempuan Bugis yang berhasil duduk di pemerintahan. Sekaligus pertanda bahwa emansipasi atau persamaan hak antara laki-laki dan perempuan telah berlangsung di Bone sejak ratusan tahun silam, yang dimulai oleh ratu Bone We Banrigau tahun 1470 Masehi

Bandingkan pelopor emansipasi perempuan di Tanah Jawa, RA Kartina pada tahun 1879 Masehi.

Setelah We Tenrituppu meninggal kepemimpinan di kerajaan Bone dilanjutkan oleh La Tenriruwa Matinroe ri Bantaeng.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berikutnya