oleh

La Inca Matinroe Risapanana Raja Bone Ke-8 Tahun 1564-1565

La Inca Matinroe Risapanana Raja Bone Ke-8 Tahun 1564-1565

Berdasarkan Lontara’ Akkarungeng ri Bone, Oleh: Drs. A. Amir Sessu Mantan Kepala Seksi Kebudayaan Kandep Dikbud Kabupaten Bone yang diterbitkan oleh Pemerintah Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan Tahun 1985.

Bahwasanya La Inca Matinroe Risapana adalah raja Bone ke-8 yang memerintah tahun 1564-1565. Ia menggantikan saudara kandungnya yang bernama La Tenrirawe Bongkangnge Matinroe ri Gucinna. Kedudukan ini memang telah diserahkan ketika La Tenrirawe Bongkangnge masih hidup.

Sebelumnya, La Tenrirawe Bongkangnge berpesan, jika sampai ajalnya, agar La Inca mengawini iparnya yang bernama We Tenripakkiu Arung Timurung (mantan isteri La Tenrirawe Bongkangnge).

Setelah La Inca menjadi raja Bone, kemudian Karaeng dari kerajaan Gowa datang untuk menyerang kerajaan Bone. Ternyata La Inca tidak mewarisi kepemimpinan yang telah dilakukan oleh saudaranya La Tenrirawe Bongkangnge.

Banyak langkah-langkah yang dilakukan La Inca sangat merugikan orang banyak. Ia berwatak egois dan pemarah, kehendaknya jua yang berlaku. Seringkali memarahi para Arung Palili dan dihukumnya tanpa alasan yang jelas.

Semasa pemerintahannya La Inca banyak melakukan tindakan-tindakan tidak terpuji. Ia banyak melanggar tatanan dan norma adat yang berlaku, sehingga ia tergolong to malaweng.

Menurut Budayawan Bugis, Andi Najamuddin Petta Ile, bahwa dahulu di kerajaan Bone dikenal istilah tomalaweng, yaitu orang yang melakukan pelanggaran adat istiadat yang berlaku.

Malaweng ini terdiri atas tiga tingkatan, yaitu malaweng pakkita (penglihatan), malaweng werekkada (tutur, ucapan), dan malaweng pangkaukeng (perbuatan dan tindakan).

Contoh malaweng pakkita, yaitu memandang sinis kepada orang lain, memandang liuk tubuh perempuan yang bukan muhrimnya.

Sementara itu, yang tergolong malaweng werekkada yaitu berkata yang tidak pantas dan senonoh, mengata-ngatai orang lain tanpa alasan yang jelas. Ia berbicara tanpa melihat dengan siapa ia berbicara, serta mengumbar aib orang lain.

Kemudian contoh malaweng pangkaukeng, yaitu berzinah, melakukan tindakan merusak sarana kepentingan umum. Kegiatan mengadu domba yang merugikan orang banyak sehingga menghancurkan kehidupan negeri, serta pemimpin yang melakukan tindakan semena-mena terhadap rakyatnya.

Orang yang melanggar atau malaweng pakkitta dan malaweng werekkada biasanya masih bisa ditolerir oleh adat, akan tetapi pelanggaran malaweng pangkaukeng atau perbuatan tergolong yang pelanggaran berat, sehingga tidak bisa ditolerir atau diampuni oleh adat.

Menurut Andi Najamuddin Petta Ile, bahwa di kerajaan Bone berlaku sistem pangadereng sehingga bagi yang melakukan tindakan malaweng, ia harus mendapat hukuman atau ganjaran yang setimpal.

Adapun bentuk hukuman di kerajaan Bone pada masa lalu terdiri empat jenis. Pertama hukuman ripoppangi batu, kedua hukuman ripoppangi tana, dan ketiga hukuman riladung.

Hukuman ripoppangi batu lappa, yaitu orang yang melakukan perbuatan dan perbuatannya itu melibatkan orang banyak. Daripada negeri hancur, lebih baik ditutup saja kasusnya. Namun orang-orang terlibat mendapat hukuman sosial yang ditentukan oleh ketua adat.

Kedua, hukuman ripoppangi tanah, yaitu orang yang melanggar berkali-kali, mereka sudah diperingati dan dinasihati oleh tetuah adat, akan tetapi masih melakukan pelanggaran dan mempengaruhi orang banyak.
Bentuk hukumannya mereka di usir di kampung itu, agar segera keluar mencari negeri lain dan tidak boleh kembali lagi.

Ketiga, hukuman riladung, yaitu orang yang melakukan pelanggaran adat yang berat. Ia ditenggelamkan ke laut dengan menggunakan batu pemberat yang disebut riladung. Salah satu tempat eksekusinya adalah Tanjung Pallette. Pelanggar adat tersebut di bawa dengan perahu ke tengah laut Teluk Bone untuk ditenggelamkan.

Hukuman yang terakhir adalah hukuman riludda, yaitu dengan cara memukul benda tumpul bagi pelanggar adat, jika pelanggarannya berat bahkan dipukul hingga tewas. Hukuman riludda ini berlaku universal termasuk raja. Kayu pemukul yang digunakan tidak boleh runcing. Jadi pelanggar hanya diludda atau ditumbuk sampai meninggal tanpa mengeluarkan darah.

Akan tetapi menurut budayawan Andi Najamuddin Petta ile, bahwasanya belum pernah ada raja Bone yang dihukum secara riludda, karena pemmali darah raja mengucur ke tanah, yaitu temppedding massolo cella’na maungkaue tateppa ri tanae.

Kita lanjut tentang La Inca raja Bone yang kontroversial. La Inca dengan perangainya yang buruk dan bengis dan pemarah, sehingga tidak cukup setahun menjadi mangkau. Ia dilengserkan oleh rakyatnya.

Konon, salah seorang Arung Palili yang bernama La Patiwongi To Pawawoi diasingkan ke Sidenreng oleh La Inca. Namun karena merasa sudah lama berada di Sidenreng, La Patiwongi akhirnya kembali ke Bone untuk minta maaf kepada La Inca. Akan tetapi apa yang dialami setelah kembali di Bone, malah ia dibunuh oleh La Inca. Dalam catatan lontara akkarungeng ri Bone tidak jelas mengapa ia dibunuh.

Tidak hanya La Patiwongi To Pawawoi akan tetapi To Saliwu Riwawo Arung Paccing mengalami nasib yang sama, dan masih ada bangsawan Bone lainnya yang tidak tercatat.

Pada suatu hari La Inca melakukan tindakan yang sangat memalukan, yaitu mengganggu isteri orang. Karena didapati oleh suaminya, La Inca lantas mengancam orang tersebut akan dibunuhnya sehingga orang tersebut melarikan diri.

Untuk menutupi kesalahannya, malah isteri orang tersebut yang dibunuh. Kemarahan La Inca belum cukup sampai di situ, lalu ia membakar Kota Bone dan Macege. Orang Bone pun mengungsi ke Majang.

Melihat orang Bone berlarian mengungsi, lalu Arung Majang bertanya, “Ada apa gerangan di Bone?”

Dengan ketakutan orang Bone berkata ; ”Kami tidak bisa mengatakan apa-apa, Puang. Silakan Puang melihat sendiri bagaimana Bone sekarang”.

Mendengar jawaban orang Bone, kemudian Arung Majang keluar melihat ke arah Bone. Disaksikan nyala api yang melalap rumah-rumah penduduk yang dibakar oleh La Inca.

Arung Majang kemudian menyuruh beberapa orang ke Palakka untuk memanggil I Damalaka. Tidak lama kemudian I Damalaka pun tiba di Majang. Sesampainya di rumah Arung Majang ia pun disuruh untuk ke Bone menghadapi La Inca.

Kemudian I Damalaka menyuruh salah seorang untuk pergi menemui raja Bone La Inca dan menyampaikan agar tindakannya yang brutal itu dihentikan.

Akan tetapi setelah orang itu tiba di depan La Inca, ia pun dibunuh. Setelah itu, La Inca bahkan semakin mengamuk, ia membakar semua rumah yang ada di Lalebbata (kota Bone). Maka habislah rumah di Bone, hanya menyisakan puing-puing.

Mendengar itu, Arung Majang kemudian berangkat ke Bone disusul oleh I Damalaka untuk menghadapi La Inca yang tidak lain adalah cucunya sendiri.

“Mari kita menghadapi La Inca, dia bukan lagi sebagai raja Bone, karena telah melakukan pengrusakan”. Maka berangkatlah semua orang mengikuti Arung Majang bersama I Damalaka.

Tiba di Bone didapatinya La Inca berdiri sendirian di depan rumahnya. Setelah melihat orang banyak datang, La Inca lalu menyerbu dan menyerang membabi buta.

Banyak orang yang dibunuhnya pada saat itu dan bagi yang kuat masih mampu bertahan.
Namun karena dikeroyok, akhirnya La Inca kehabisan tenaga.

Karena kelelahan, ia pun melangkah menuju sapana (tangga rumahnya). Lalu ia bersandar dengan nafas terputus-putus.

Melihat cucunya sekarat, Arung Majang timbul naluri kemanusiaannya, lalu berlari mendekati dan memangku kepalanya. La Inca pun mengembuskan nafasnya yang terakhir.

Oleh karena itu disebutlah La Inca Matinroe ri Sapanana (yang meninggal di tangga rumahnya).

Untuk menggantikan La Inca, maka Arung Majang mengumpulkan orang Bone lalu berkata : ” Inilah cucuku yang bernama La Pattawe yang kita sepakati menggantikan sepupunya La Inca”.

Kemudia dilantiklah La Pattawe Matinroe ri Bettung sebagai raja Bone ke-9 tahun 1565 Masehi.

Dari Catatan: Lontara’ Akkarungeng ri Bone, Oleh: Drs. A. Amir Sessu Mantan Kasi Kebudayaan Kandep Dikbud Kabupaten Bone yang Diterbitkan dengan Biaya Pemerintah Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan Tahun 1985.

Berikutnya