oleh

Dampak Angin Timur dan Angin Barat di Tanah Bugis

Pergantian arah angin biasa disebut muson, kalau di Tanah Bugis disebut musso. Ketika angin bertiup dari timur ke barat orang Bugis menyebutnya TIMO sebaliknya angin yang bertiup dari barat ke timur disebut BARE’.

TIMO biasanya berlangsung mulai April-Oktober sementara BARE’ bertiup dari Oktober-April. Jadi musso/muson atau pergantian tahun berlangsung selama 6 bulan/enneng uleng.

Pada musim TIMO biasanya banyak hujan di daerah/wilayah pesisir timur Sulawesi karena berdekatan Laut Teluk Bone akan tetapi daerah/wilayah yang terletak di pesisir barat Sulawesi/Ajattapareng biasanya mengalami kekeringan.

Adapun daerah/wilayah yang terdampak TIMO, di antaranya Bone, Soppeng, Wajo, Sinjai, Bulukumba, dan daerah lainnya yang berada di pesisir timur Sulawesi Selatan. Makanya daerah tersebut saat ini musim penghujan karena masih berada pada kondisi TIMO (April-Oktober).

Memasuki Oktober-April, terjadi ANGING BARE sehingga daerah/wilayah di pesisir barat Sulawesi Selatan/Ajattappareng mengalami musim penghujan (Wettu bosi) karena berdekatan Laut Sulawesi. Pada masa ini Bone dan wilayah sekitarnya mengalami musim kemarau (Wettu TIKKA).

Daerah yang mengalami BARE yaitu Pangkep, Barru, Parepare, Sidrap, Pinrang, dan wilayah sekitarnya di sepanjang bagian barat Sulawesi Selatan.

Dampak Timo dan Bare’ :

Apabila terjadi timo/angin timur, tanaman seperti padi biasanya mengalami produksi rendah, bahkan banyak petani gagal panen karena terlalu banyak air dan sebagian wilayah terdampak banjir. Wilayah yang terdampak di antaranya Bone, Soppeng, Wajo, Sinjai, serta daerah yang berada di bagian timur Sulawesi Selatan.

Akan tetapi daerah yang berada di pesisir barat terjadi kemarau, artinya tidak terlalu banyak air, sehingga petani padi panen dengan baik. Sebab padi bukanlah tumbuhan air tetapi membutuhkan air.

Dahulu petani padi di Bone apabila terjadi BARE’ banyak menghasilkan beras, mereka memanfaatkan seluruh lahannya, namun apabila musim TIMO ia hanya mengerjakan sawahnya beberapa petak saja, karena ia sudah tahu banyak hujan.

Jadi musim BARE merupakan kesempatan emas bagi petani padi yang berada di bagian timur Sulawesi Selatan. Bahkan dahulu, untuk melaksanakan hajatan pernikahan biasanya menunggu setelah BARE. ” uppanna mbo botting ana’ta? Iyye, purapi bare”. Hal itu dilakukan karena mereka mendapatkan panen padi yang melimpah.

Permasalahan kekinian:

Dahulu orangtua Bugis mempunyai pedoman yang disebut “pananrang paggalung” mereka sudah memahami tanda-tanda alam, kapan daerahnya akan mengalami musim penghujan dan musim kemarau. Dan pedoman itu jarang meleset, ia bisa menerka kapan datangnya hujan dan kemarau.

Akan tetapi dalam beberapa tahun terakhir sering terjadi musim hujan di wilayah timur Sulawesi Selatan, tetapi terjadi juga di wilayah barat Sulawesi Selatan yang semestinya mengalami kemarau.

Hal tersebut umumnya disebabkan oleh terjadinya penggundulan dan pembabatan hutan tanpa perhitungan. Dahulu apabila hujan di Bone maka di Makassar tidak mengalami hujan. Tetapi sekarang ini hujan di Bone hujan juga di Makassar. Artinya ini, hutan antara Bone dan Makassar mengalami kehancuran.

Bayangkan sekitar tahun 80-an apabila kita naik motor dari Bone-Makassar ketika sampai kawasan Tompo Ladang Maros kita merasa menggigil kedinginan, tapi sekarang ini udara terasa panas. Artinya terjadi pembabatan hutan yang memprihatinkan. (Mursalim)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berikutnya