oleh

La Tenrisukki Mappajungnge Raja Bone Ke-5 Tahun 1510-1535

LA TENRISUKKI, MAPPAJUNGNGE adalah lelaki Bugis yang pernah memimpin kerajaan Bone selama 25 tahun. Mulai tahun 1510-1535 Masehi. Dalam kepemimpinannya sebagai mangkau, banyak terobosan yang telah dilakukan. Selain melakukan ekspansi damai dengan kerajaan-kerajaan kecil di wilayah Bone. Dialah raja Bone yang mula-mula melakukan perjanjian perdamaian dengan kerajaan lain di luar wilayah Bone.

Salah satu bukti sejarah peninggalan La Tenrisukki adalah perjanjian Polo Malelae ri Unynyi artinya Gencatan Senjata di Unynyi.

Bukti perjanjian itu ditandai dengan sebuah tugu yang disebut Tugu Polo Malelae yang terletak di Kelurahan Unynyi, Kecamatan Dua Boccoe, Kabupaten Bone.

Hal ikhwal perjanjian polo malelae ri Unynyi tersrbut dipicu ketika Dewa Raja Datu Luwu melakukan ekspansi ke Bone.

Mula-mula pasukan Datu Luwu mendarat di Cellu sekitar pantai Teluk Bone sambil membangun pertahanan. Sementara itu, Laskar Bone yang dipimpin La Tenrisukki berkedudukan di Biru. Mendengar kabar kedatangan orang-orang Luwu di Cellu, La Tenrisukki tidak terlalu menggubris.

Namun setelah orang Luwu membangun pertahanan, maka La Tenrisukki mulai curiga. Menurutnya hal itu tidak boleh dibiarkan.

Taktik yang dilakukan La Tenrisukki adalah memerintahkan laskarnya untuk memancing orang Luwu dengan mengirim beberapa perempuan di Cellu.

Ternyata pancingan itu berhasil mengelabui orang Luwu sehingga pada saat perang berlangsung orang Luwu yang pada mulanya menyangka tidak ada laki-laki, bersemangat menghadapi perempuan-perempuan tersebut.

Namun tiba-tiba dari belakang muncul laki-laki dengan jumlah yang amat banyak, sehingga orang Luwu berlarian ke pantai untuk naik ke perahunya.

Dalam perang itu pasukan Bone berhasil merampas Payung Datu Luwu, dan beruntunglah Datu Luwu tidak dipenggal oleh laskar Bone. Namun, Raja Bone La Tenrisukki cepat tiba dan melarang menyakiti lawan ketika sudah menyerah.

Setelah perang selesai, Raja Bone La Tenrisukki dan Datu Luwu mengadakan pertemuan. Dalam pertemuan itu, Raja Bone La Tenrisukki mengembalikan payung warna merah itu kepada Dewa Raja, Datu Luwu.

Tetapi Datu Luwu mengatakan ; ”Ambillah itu payung, sebab memang engkaulah yang dikehendaki oleh Dewatae untuk bernaung di bawahnya. Karena, walaupun bukan karena perang, saya akan tetap berikan. Apalagi saya memang memiliki dua payung.
Sejak peristiwa itu, La Tenrisukki digelar Mappajungnge artinya yang memakai payung.

Selanjutnya Raja Bone La Tenrisukki mengadakan lagi pertemuan dengan Datu Luwu dan lahirlah suatu perjanjian yang bernama ; Polo Malelae ri Unynyi (gencatan senjata di Unynyi).

Dalam perjanjian ini Arumpone La Tenri Sukki berkata kepada Datu Luwu ; ”Alangkah baiknya kalau kita saling menghubungkan Tanah Bone dengan Tanah Luwu”. Dijawab oleh Datu Luwu ; ”Baik sekali pendapatmu itu, Arungpone”.

Merasa ajakannya disambut baik, maka Arumpone berkata ; ”Kalau ada yang keliru, mari kita saling mengingatkan – kalau ada yang rebah mari kita saling menopang – dua hamba satu Arung – tindakan Luwu adalah tindakan Bone – tindakan Bone adalah tindakan Luwu – baik dan buruk kita bersama – tidak saling membunuh – saling mencari kebaikan – tidak saling mencurigai – tidak saling mencari kesalahan – walaupun baru satu malam orang Luwu berada di Bone, maka menjadilah orang Bone – walaupun baru satu malam orang Bone berada di Luwu, maka menjadilah orang Luwu – bicaranya Luwu, bicaranya Bone – bicaranya Bone, bicaranya Luwu – adatnya Luwu, adatnya juga Bone, begitu pula sebaliknya – kita tidak saling menginginkan emas murni dan harta benda – barang. Siapa yang tidak mengingat perjanjiannya, maka dialah yang dikutuk oleh Dewata Seuwae sampai kepada anak cucunya – dialah yang hancur bagaikan telur yang jatuh terhempas ke batu –”

Dimasa pemerintahan La Tenrisukki, pernah pula terjadi permusuhan antara orang Bone dengan orang Mampu. Pertempuran terjadi di sebelah selatan Itterung.

Diburu sampai di kampungnya. Arung Mampu yang bernama La Pariwusi kalah dan menyerahkan persembahan kepada Raja Bone La Tenrisukki.

La Pariwusi Arung Mampu berkata ; ”Saya serahkan sepenuhnya kepada Arumpone, asalkan tidak menurunkan saya dari pemerintahanku”.

Arungpone menjawab ; ”Saya akan mengembalikan persembahanmu dan saya akan mendudukkanmu sebagai Palili atau wilayah bawahan kerajasn Bone. Akan tetapi engkau harus berjanji untuk tidak berpikir jelek dan jujur sebagai pewaris harta benda”.

Setelah itu, La Pariwusi Arung Mampu kembali memimpin kampungnya. Ternyata rasa persaudaraan dalam diri La Tenrisukki sangat luar biasa. Ia tidak suka perang, namun jika negerinya diganggu ia akan bangkit.

Setelah menjadi Mangkau’ di Bone selama 25 tahun, akhirnya La Tenrisukki menderita sakit. Dikumpulkanlah seluruh orang Bone dan menyampaikan; ”Saya sekarang dalam keadaan sakit, apabila saya wafat maka yang menggantikan saya adalah anakku yang bernama La Uliyo”. Setelah pesan itu disampaikan dan disepakti rakyat Bonr, ia pun mengembuskan nafasnya yang terakhir.

Hikmah yang dapat dipetik dalam kisah ini, bahwasanya, betapa pentingnya nilai persahabatan dan persaudaraan yang mulai dibangun oleh raja Bone La Tenrisukki. Di mana Bone dan Luwu adalah bersaudara. Hal itu juga dibuktikan sampai sekarang. Ketika Luwu dapat bencana dan butuh bantuan, maka serentak orang Bone mengalir ke Luwu untuk datang membantu saudaranya.

#RAJABONEMASAKEMASA

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berikutnya