oleh

La Saliyu Korampelua, Raja Bone Ke-3 Tahun 1368-1470

LA SALIYU KORAMPELUA, menggantikan pamannya La Ummasa menjadi mangkau di Bone. Ia memerintah di kerajaan Bone selama 102 tahun, yaitu dari tahun 1368-1470.

Kedudukannya sebagai mangkau dimulai sejak masih bayi berusia satu malam. Jadi boleh dikata La Saliyu memecahkan rekor yaitu mangkau sepanjang hayat. Mereka dijuluki korampelua, karena rambutnya tegak lurus yakni berambut landak.

Akan tetapi jika ada sesuatu yang akan diputuskan maka To Suwalle yang memangkunya menjadi juru bicaranya. Kemudian yang bertindak selaku Makkedang Tana adalah To Sulewakka. Makkedang Tana adalah jabatan kedua setelah raja. Tugasnya adalah mengepalai urusan umum di pemerintahan.

Memasuki usia dewasa, barulah La Saliyu Korampeluwa mengunjungi orang tuanya di Palakka. Setibanya di Palakka, kedua orang tuanya sangat gembira dan diberikanlah pusakanya yang menjadi miliknya, termasuk Pasar Palakka. Selanjutnya La Saliyu memindahkan pasar Palakka di Laccokkong.

La Saliyu Korampeluwa kawin dengan sepupunya yang bernama We Tenri Roppo yaitu putri mahkota atau anak pattola Arung Paccing. Dari perkawinan itu lahirlah We Banrigau yang kelak menjadi mangkau di Bone selanjutnya.

Pada masa pemerintahannya, La Saliyu Korampeluwa sangat dicintai oleh rakyatnya karena memiliki sifat-sifatjujur, rajin, cerdas, adil dan bijaksana. Ia juga dikenal pemberani dan tidak pernah gentar menghadapi musuh. Konon sejak masih bayi tidak pernah terkejut bila mendengarkan suara-suara aneh atau suara-suara besar.

Dalam catatan Lonrara Akkarungeng di Bone, yang pertama-tama memulai mengucapkan ada passokkang atau osong terhadap musuh adalah La Saliyu. Dalam bahasa Makassar osong ini disebut angngaru, yaitu ungkapan kesetiaan.

Kemudian La Saliyu juga membuat bate atau tanda, yaitu semacam bendera yang bernama Cella’-e ri Abeo dan Cella’-e ri Atau, yang artinya Merah di sebelah kiri dan Merah di sebelah kanan, kemudian di tengah adalah worongporongnge.

Pada masa itu orang Bone terbagi atas tiga bagian dan masing-masing bagian bernaung di bawah bendera tersebut. Yang bernaung di bawah bendera Woromporonge adalah mangkau dan orang Majang sebagai pembawanya.

Sementara yang bernaung di bawah bendera Cella’-e ri Atau adalah orang Paccing, Tanete, Lemo-lemo, Melle, Macege, Belawa dan pembawanya adalah Kajao Paccing.

Sedang yang bernaung di bawah bendera Cella’-e ri Abeo adalah orang Araseng, Ujung, Ta, Katumpi, Padaccengnga, Madello, dan pembawanya adalah Kajao Araseng.

Untuk memperluas wilayah kerajaannya, La Saliyu Korampeluwa menaklukkan negeri-negeri sekitarnya seperti ; Pallengoreng, Sinri, Anro Biring, Melle, Cirowali, Bakke, Apala, Tanete, Attang Salo, Soga, Lampoko, Lemoape, Bulu Riattang Salo, Parigi, Lompu, serta wilayah sekitarnya.

Pada masa pemerintahannya La Saliyu Korampelua mempersatukan orang Bone dengan orang Palakka. Dan menjadikan Palakka sebagai wilayah bawahan dari Bone.

Beberapa negeri berikutnya menyatakan diri bernaung di bawah pemerintahannya, seperti ; Limampanuae ri Alau Ale’ yaitu : Lanca, Otting, Tajong, Ulo dan Palongki).

Disusul kemudian turut bergabung yaitu: Arung Baba Uwae yang bernama La Tenriwaru. Begitu pula Arung Barebbo dan Arung Pattiro yang bernama La Paonro menyatakan bernaung di bawah Kerajaan Bone. Kemudian Arung Cina, Ureng dan Pasempe turut bergabung dalam wilayah kerajaan Bone.

Tidak hanya itu, Arung Kaju yang bernama La Tenribali juga datang menyatakan diri bergabung dengan Bone, sekaligus melamar anak gadis La Saliyu yang bernama We Banrigau dan dutanya diterima.

Selanjutnya Arung Ponre, Limae Bate ri Attang ale’, Aserae Bate ri Awangale’ datang bergabung dengan Bone. Sehingga boleh dikata pada masa pemerintahannya, seluruh wilayah disekitarnya menyatakan diri bergabung dengan Bone.

La Saliyu Korampeluwa dikenal sangat mencintai dan menghormati kedua orang tuanya. Hambanya dikeluarkan dari Saoraja dan ditempatkan di Panyula. Sementara hamba yang didapatkan setelah menjadi mangkau di tempatkan di Limpenno. Sehingga Orang Panyula dan orang Limpenno yang selalu mempersembahkan ikan. Dia pula yang menjadi pendayung perahu dan pengusungnya manakala Arumpone La Saliyu bepergian jauh.

Setelah genap 102 tahun menjadi Mangkau’ di Bone, dikumpulkanlah seluruh orang Bone dan menyampaikan bahwa : Saya mengumpulkan kalian untuk memberitahukan, bahwa mengingat usia saya sudah tua dan kekuatan saya sudah semakin melemah, maka saya bermaksud untuk memindahkan kekuasaan saya sebagai Mangkau’ di Bone.

Pengganti saya adalah anak saya sendiri yang bernama We Banrigau Daeng Marowa.

Mendengar itu, semua orang Bone menyatakan setuju. Maka dikibarkanlah bendera Woromporongnge.

Setelah itu berkata lagi La Saliyu : Di samping saya menyerahkan kekuasaan, juga saya serahkan perjanjian yang telah disepakati oleh orang Bone dengan Puatta La Ummasa Mulaiye Panreng untuk dilanjutkan oleh anak saya.

Setelah orang Bone kembali, hanya satu malam saja Arumpone La saliyu meninggal dunia setelah memerintah selama sepuluh pariama.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berikutnya