oleh

La Ummasa, Raja Bone Ke-2 Tahun 1365-1368

LA UMMASA menggantikan Manurunge ri Matajang sebagai mangkau/raja di Bone. Raja Bone ke-2 ini nama lengkapnya adalah La Ummasa Petta Panre Bessie Mulaiye Panreng.

Setelah La Ummasa meninggal maka digelarlah To Mulaiye Panreng, artinya orang yang mula-mula dikuburkan).

Apabila bepergian, La Ummasa hanya dinaungi dengan KALIYAO atau tameng, dengan tujuan untuk melindungi diri dari teriknya matahari. Hal ini dilakukan karena tidak ada lagi payung di Bone.

La Ummasa digelar pula Petta Panre Bessie (pandai besi) karena dialah yang mula-mula menciptakan alat-alat dari besi di Bone. Dahulu daerah Lassonrong merupakan tempat La Ummasa untuk menempa besi. Di kawasan Lassonrong ada pula sumur yang disebut bubung tello.

La Ummasa sangat dicintai oleh rakyatnya karena memiliki berbagai kelebihan seperti daya ingatnya tajam, penuh perhatian, jujur, adil dan bijaksana.

Dalam catatan Lontara Akkarungeng ri Bone, saudara perempuannya We Pattanra Wanua kawin dengan La Pattikkeng Arung Palakka.

La Ummasa tidak mempunyai putra mahkota yang kelak bisa menggantikan kedudukannya sebagai raja/mangkau di Bone. La Ummasa hanya mempunyai anak perempuan, yaitu To Suwalle dan To Sulewakka dari isterinya yang berasal dari orang biasa atau bukan turunan bangsawan. Sehingga kedua anaknya itu tidak berhak mewarisi kepemimpinannya

Tidak berapa lama setelah To Suwalle dan To Sulewakka tiba di istana We Pattanra Wanua, lahirlah anak laki-laki yang sehat dan memiliki rambut yang tegak ke atas (dalam bahasa Bugis disebut : korang) karena itu dinamakan Korampelua. Ketika anaknya dibawa ke Bone, Arung Palakka tidak ada di tempat dan tindakan itu menyakitkan hatinya.

Setibanya di istana, bayi tersebut barulah dipotong ari-arinya dan dicuci darahnya. Bayi itu dipelihara oleh saudara perempuan La Ummasa yang bernama We Samateppa.

Kemudian La Ummasa mengundang seluruh rakyatnya untuk berkumpul dan membawa senjata perang. Keesokan harinya berkumpullah seluruh rakyat lengkap dengan senjata perangnya.

Dikibarkanlah bendera Woromporongnge peninggalan Manurungne dan turunlah La Ummasa di Baruga. Selanjutnya dilantiklah La Saliyu Korampelua menjadi mangkau/raja di Bone.

Acara pelantikan itu berlangsung selama tujuh hari tujuh malam. Dalam acara itu pula Nariule Sulolona, yaitu selamatan atas lahirnya, dan ditanam tembuninya. Setelah itu dinaikkanlah La Saliyu Korampelua ke Langkanae atau singgasana istana.

Sejak dilantiknya La Saliyu Korampelua menjadi raja Bone, maka setiap La Ummasa akan bepergian selalu menyampaikan kepada pengasuhnya dalam hal ini saudaranya sendiri yang bernama We Samateppa. Jadi La Saliyu Korampelua adalah kemanakan dari La Ummasa.

Ketika sakit keras yang menyebabkan La Ummasa meninggal dunia, maka digelarlah La Ummasa Mulaiye Panreng, artinya orang yang mula-mula dikuburkan. Sebab orangtuanya Manurungnge ri Matajang raja Bone I tidak dikuburkan, karena jasadnya tiba-tiba menghilang.

Makam La Ummasa sekarang ini terletak di Kampung Jawa, Jalan Ahmad Yani Watampone, Kabupaten Bone.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berikutnya