oleh

Cara Menyampaikan Pesan Moral dalam sastra Bugis

Dalam kehidupan masyarakat Bugis pada awalnya memiliki sejumlah mitos. Sure’ Galigo menjelaskan tentang awal mula dihuninya negeri Bugis.

Dalam Sastra Bugis jenis sastra sejarah ini dikenal dengan Lontara. I La Galigo adalah sebuah cerita tentang sebuah cara hidup, keberadaan masyarakat Bugis dengan cara hidupnya, dieskpresikan dalam tradisi tutur dan tulis yang mereka kembangkan menjadi sastra lokal.

Sebelum Islam masuk, dalam filsafat hidup, orang Bugis di masa lampau, telah mengenal dan memiliki nilai-nilai motivatif yang terkandung dalam filsafat etika atau pangadereng.

Pangadereng ini merupakan cara bertingkah laku terhadap sesama manusia dan terhadap pranata sosialnya.

Sastra Bugis klasik meliputi Sure’ Galigo, Lontara’/silsilah, Pappaseng Toriolota/ Ungkapan, dan Elong/Syair. Bahkan Lagaligo yang terdiri dari berbagai petuah dan norma hidup tersebut menjadi kitab Orang Bugis sebelum Islam.

Demikian banyak pappaseng toriolo Orang Bugis semuanya menyampaikan pesan moral, mengingatkan dan mendidik, baik dalam lingkungan keluarga maupun sosial kemasyarakatan. Untuk pelestariannnya, maka perlu dilakukan berbagai upaya.

Nah, salah satu cara yang dapat ditempuh untuk pelestarian budaya kepada generasi agar tidak membosankan, maka petuah dan ungkapan leluhur itu dapat disusun dalam bentuk lirik dan syair lagu.

Salah satu contoh petuah Bugis yang disusun menjadi sebuah syair lagu yang dikemas dalam ininnawa sabbarae. Lagu-lagu sejenis ini tergolong jenis lagu Yabe Lale atau lagu Nina Bobo. Lagu sejenis ini biasanya dilantunkan sebagai pengantar tidur anak.

Contoh lagu Bugis yang bersumber dari pesan toriolo yakni inininawa sabbarae, capu campa, paseng riati, dll.

Lagu ininnawa sabbarae merupakan salah satu lagu bugis yang memiliki arti kesabaran dan hati yang tulus yang beralurkan mengenai sikap seseorang yang sabar akan menghasilkan suatu kebahagiaan. Dan kebahagiaan tersebut bisa dirasakan ketika seseorang menikmati, menerima dan mensyukuri takdirnya.

Kebaikan mudah didapatkan jika diawali dari diri sendiri, menanamkan rasa sabar merupakan salah satu kebaikan yang dapat memperoleh suatu hal yang baik pula.

Rasa syukur juga merupakan suatu hal yang penting dalam kehidupan, hal ini sebagai bentuk rasa terima kasih kepada pencipta, bahwa semua takdir yang terjadi dalam hidup adalah kuasa-Nya yang terbaik bagi umat-Nya.

Adapun pesan terakhir yang tersirat dalam lagu ini adalah bagaimana mengajarkan kita menjaga tutur kata yang baik. Kenangan dan kebaikan setinggi gunung bisa runtuh hanya karena sebuah tutur kata yang tidak baik.

Untuk memperkaya khazanah jenis lagu yabe lale, saya mencoba menyusun sebuah lagu yang menggambarkan harapan dan kasih sayang orangtua kepada anaknya.

Yabe lale antinroni mai anakku
Yabe lale upakkuru sumange’mu

buana buana atikku
engkalingani elokku
elong kininnawa buana atiku 2x

unganna ungganna atikku
engkalingani pasekku
paseng tiro deceng unganna atikku 2x

unganna unganna attiku
upakkuru sunge’mu
Tudang rilangkana mucawa cabberu 2x

Lagu ini mengajarkan kita untuk lebih mengedepankan kebutuhan anak. Di mana seorang anak butuh perhatian serius dalam tumbuh kembangnya.

Jangan salah, meskipun anak masih bayi ia sudah dapat menikmati apa yang kita tuturkan kepadanya. Ingat, kalbu seorang bayi lebih peka dibanding orang dewasa.

Jika sang buah hati senantiasa mendengar tutur yang baik maka akan terbawa hingga beranjak dewasa. Demikian pula sebaliknya.

Memang membutuhkan kreativitas untuk melestarikan kebudayaan seperti pesan-pesan leluhur. Ungkapan-ungkapan itu bisa dikembangkan dan disusun dalam bentuk sastra puisi maupun lirik dan syair.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berikutnya