Dekadensi Moral Bukan Wacana Kosong

Dekadensi Moral Bukan Wacana Kosong

Dekadensi moral merupakan pengikisan jatidiri yang terkait merosotnya tentang nilai-nilai keagamaan, nilai-nilai sosial budaya bangsa, nasionalisme, dan moralitas individu.

Beragam permasalahan kini tengah dihadapi bangsa Indonesia. Mulai dari persoalan kesehatan, kemiskinan, pendidikan, pengangguran, bencana alam, moral anak bangsa, hingga medsos dan sederet problematika lainnya.

Semuanya menjadi pemandangan ironi di tengah rutinitas masyarakat Indonesia yang terus berdinamika dalam perputaran roda waktu. Ada yang bersikap apatis dan ada sebagian yang peduli.

Maka jangan heran bila muncul opini-opini pesimis di tengah masyarakat kita. Termasuk persoalan dekadensi (kemerosotan) moral yang menjadi biang keladi runtuhnya akhlak bangsa.

Dekadensi atau kemerosotan moral adalah masalah besar yang menggerogoti tubuh bangsa ini. Ibarat virus ganas yang dapat menghilangkan kekebalan tubuh. Dia tidak lahir dengan sendirinya. Dia ada karena sebuah sebab.

Lunturnya nilai-nilai agama dan kurangnya perhatian kita semua menjadi salah satu sebab dari beragam sebab yang ikut menyeret bangsa ini dalam kubangan lumpur kemerosotan.

Gaya hidup alabarat teraktualisasi dengan seronok lewat pergaulan sehari-hari tanpa malu dan canggung, sehingga melahirkan generasi-generasi abnormal yang miskin akhlak.

Benar apa yang diutarakan seorang Legislator dari Tanah Bugis Andi Muawiyah Ramly. Beliau terkesima dan tidak habis pikir melihat postingan TIKTOK Milenial. Prihatin melihat sejumlah postingan di medsos akhir-akhir ini.

Inti keprihatinan Sang Legislator, bahwa kaum milenial (tidak semuanya) tidak ada lagi rasa malu mempertontonkan aurat lewat foto dan video yang jelas-jelas menghinakan dirinya sendiri. Mereka telah terbawa arus dan gelombang teknologi.

Pesan luhur Bugis mengatakan “Aja’ mupabosiangngi pejjemu” artinya Jangan kasih kena hujan garammu. Hal ini bermakna jagalah kerahasiaanmu karena itu adalah jatidirimu yang paling berharga.

Senada dengan petuah ” Jangan pernah mengungkap dan membicarakan aib sesama”. Namun dewasa ini pesan sakral tersebut tidak berlaku lagi, sebab tanpa repot-repot lagi mencari-cari aib seseorang dengan mudah didapatkan di medsos karena ia sendiri yang mengekspos aibnya.

Jika dahulu kota-kota besar menjadi potret mini dekadensi yang terjadi. Namun, saat ini dekadensi moral itu telah merambah hingga ke kampung-kampung.

Fenomena ini bukan cuma ada di kota-kota besar, namun telah merambah ke desa-desa yang notabenenya adalah masyarakat yang masih bersih dari pengaruh modernisasi.

Penggunaan narkoba bukan lagi tren segelintir orang. Namun, telah menjadi tren masyarakat umum. Narkoba telah masuk jantung-jantung pedesaan, dikonsumsi para generasi muda desa, bahkan tak kalah sadisnya dengan masyarakat perkotaan.

Meskipun tidak semuanya, generasi muda bangsa ini telah terperangkap dalam lingkaran setan teknologi. Atas nama pergaulan dan kebebasan mereka rela kehilangan jatidiri, dan menghambakan diri kepada kesenangan sesaat. Tak peduli efeknya di kemudian hari sehingga menyeret mereka dalam jurang kehancuran.

Dekadensi Moral telah mencabik-cabik anak bangsa. Banyak nyawa melayang sia-sia karena pergaulan yang salah serta semakin meningkatnya tuntutan kesenangan sesaat.

Dekadensi moral bukanlah wacana kosong yang tengah diteriakkan oleh orang-orang yang peduli akan moral bangsa ini.

Sudah banyak fakta di depan mata kita, dekadensi moral benar-benar ada dan menjadi momok menakutkan bagi eksistensi bangsa kita. Tanpa penanganan serius dari pemerintah maka jangan pernah salahkan masyarakat atau ormas-ormas yang bertindak arogan memberantas penyakit ini.

Saudaraku
Marilah kita bangun negeri ini dengan moral dan akhlakul karimah sehingga eksistensi bangsa kita tetap ada dalam percaturan global sembari mengintrofeksi diri kita masing-masing.

Semoga kita adalah pewaris-pewaris bangsa yang dapat menjalankan amanat Ibu Pertiwi.