oleh

Falsafah Bugis Kambacu

m e n g e n a l
K A M B A C U

Pernakah Anda menuai jagung di ladang? Alangkah riang gembira hati ini ketika melihat hamparan tanaman jagung dengan jambul serta bonggol yang gede-gede.

Bila kita perhatikan buah jagung memiliki rambut di ujungnya yang Orang Bugis menyebutnya jambong dalam bahasa Indonesia disebut jambul

Jambong berupa rambut ini keluar dari ujung jagung yang menjuntai berwarna-warni. Ada kuning, merah, hijau, hingga agak keputih-putihan. Tapi bukan itu masalahnya.

Dahulu, ketika biji jagung sudah kering, aku bersama teman-teman sebaya kerap mengisi waktu pergi Orang Bugis bilang maggoce-goce, yaitu menggoreng jagung pada debu sekam yang dibakar.

Kalau tidak ada sekam tak jarang aku maggoce-goce di atas tumpukan kotoran kerbau yang sudah mengering. Bahkan rasa berti dan kambacunya lebih gurih. Tapi bukan ini persoalannya.

Jagung yang digoreng biasanya menghasilkan dua bentuk, yaitu bentuk mengembang yang disebut wenno (berti), dan kambacu yang tidak berhasil mengembang. Titik masalahnya adalah kambacu.

Kambacu adalah biji jagung yang gagal menjadi mekar/berti yang disebabkan biji jagung belum benar-benar kering dan cara menggoreng yang tidak merata.

Istilah kambacu ini lalu digunakan Orang Bugis menjadi sebuah falsafah, yaitu ” Aja Muakkambacu ” artinya jangan engkau bersifat seperti kambacu. Hal ini bermakna, bahwa kambacu adalah suatu kegagalan. Sehingga apabila kita menghadapi sebuah pekerjaan harus t u n t a s

Jadi ketika Anda hendak menghasilkan berti/wenno pilihlah biji jagung yang benar-benar kering. Persiapkanlah api sekam secukupnya dan gorenglah secara merata.

Selanjutnya