oleh

Belajar Nilai Kebangsaan Para Pendahulu

Untuk tetap tegaknya NKRI tidak hanya mengumbar seremonial dan semangat para pemuda. Persatuan Indonesia juga dapat terwujud dengan belajar dari nilai-nilai semangat para pemimpin kerajaan nusantara masa lalu.

NKRI berdiri karena kekuatan dan jiwa kebangsaan yang dimiliki oleh para pemimpin terdahulu. Ia rela meninggalkan singgasananya demi merajuk sebuah negeri yang lebih besar, yaitu Negara Republik Indonesia yang kita cintai ini.

NKRI terbentuk dari ratusan wilayah kerajaan dari Andalas-Jawa-Borneo-Celebes-Maluku, Irian, dan nusa lainnya. Ia rela melebur jadi SATU INDONESIA meskipun harus ditebus dengan pengorbanan harta, nyawa, dan perasaan.

Sebagai contoh kerajaan-kerajaan di Jasirah Selatan Sulawesi seperti Luwu, Gowa, Bone, dan lainnya telah berdiri ratusan tahun sebelum NKRI. Meskipun dihuni dari berbagai suku, yaitu Bugis-Makassar-Mandar-Tator akan tetapi mereka dapat eksis dalam persaudaraan.

Walaupun dalam perjalanan hidupnya kerap diwarnai perbedaan dan perselisihan yang bahkan tidak jarang dengan perang. Di balik pengorbanan itu menjadi kenangan pahit demi manisnya NKRI.

Seyogianya pemimpin masa kini berhenti mengumbar kesombongan apa yang telah diperoleh. Berhentilah memamerkan kekuatan kelompok dan kesenjangan, karena hal ini dapat memicu ketidakterimaan dan pergolakan rakyat.

Ada nilai-nilai kebangsaan kearifan lokal Sulawesi Selatan yang kerap kita dengar : SIATTINGLIMA – SITONRAOLA – TESIBELLEANG. Falsafah ini ternyata cukup ampuh memersatukan dan mengukuhkan ekstensi masing-masing kerajaan hingga berabad-abad.

Siattinglima, bermakna saling bergandeng tangan mempertahankan diri, kelompok, wilayah, dan peradaban.

Sitonraola, bermakna saling berjalan seiring untuk membangun diri dan negeri tanpa menghalangi yang lainnya.

Tesibelleang, bermakna tidak saling menghianati antara pemimpin dan rakyat demi menjaga persatuan dan kesatuan negeri.

Falsafah tersebut memang cukup simpel sederhana namun tajam dalam menjaga nilai-nilai kebangsaan dan patriotisme.

Jikalau pesan-pesan ini terimplementasi dalam kehidupan bernegara sekarang ini niscaya NKRI tetap kukuh hingga akhir masa. Insya Allah.

(Mursalim)

Berikutnya