Falsafah Bugis Tentang Nilai Kemanusiaan

Apabila kita mau menoleh ke belakang banyak sekali pesan-pesan nenek moyang yang dapat kita dijadikan sebagai dasar berpijak dalam mengarungi kehidupan ini.

Warisan moyang itu tidak lahir begitu saja yang hanya tersusun dari kata-kata yang indah, melainkan terlahir dari hasil proses apa yang telah dilakukan dan berlangsung sangat lama.

Hasil proses yang telah dilakukan itu menyuguhkan berbagai pengalaman dan efek yang ditimbulkannya. Berhasil, gagal, suka, duka adalah efek dari suatu proses yang telah dilakukan. Efek-efek inilah kemudian menjadi sebuah pengalaman yang berharga.

Dari pengalaman-pengalaman inilah kemudian nenek moyang menyusun kata dan kalimat sehingga menjadi sebuah falsafah sebagai pedoman untuk langkah selanjutnya.

Oleh karena itu, falsafah tidak lahir dari sebuah ilusi yang sengaja dibuat-buat melainkan tersaring dari berbagai pengalaman dari hasil suatu proses. Nenek moyang berpikir sangat cerdas, di mana pengalaman-pengalamanya, baik atau buruk dituangkan dengan jujur.

Pada Suku Bugis dikenal istilah yang disebut “paddissengeng” dan “pangessereng”. Kedua istilah ini mempunyai makna yang berbeda. Paddissengeng berasal dari kata isseng yang artinya pengetahuan. Sementara pangessereng dari kata esse’ yang artinya ilmu.

Apabila hanya sekadar mengetahui tanpa memahami secara detail maka hanya tergolong “paddissengeng atau pengetahuan”. Jika memahami secara detail dan komprehensif maka tergolong “pangessereng atau ilmu”.

Oleh karena itu, “paddissengeng atau pengetahuan” ini masih bersifat mentah sehingga masih perlu diolah menjadi “pangessereng atau ilmu”. Dengan demikian untuk mendapatkan ilmu harus melalui tindakan praktik.

Nah, falsafah Bugis yang kita kenal selama ini lahir dari pengetahuan terproses menjadi ilmu yang mempunyai nilai hakikat dan pembenaran.

Sudah dijelaskan sebelumnya, bahwa nenek moyang Bugis banyak mewariskan petuah/falsafah dalam berbagai kehidupan. Misal dalam bidang pertanian, ekonomi, sosial, ekonomi, dan lainnya. Berikut contoh falsafah Bugis dalam bidang hubungan sosial kemanusiaan.

1. Rebba sipatokkong, artinya rebah saling menegakkan. Hal ini bermakna, bahwa dalam kehidupan ini terkadang saudara kita mengalami masalah yang memerlukan bantuan. Bisa saja pertolongan itu dianggap kecil akan tetapi dapat mengeluarkan masalah yang dihadapi sehingga bisa tegak kembali.

2. Mali siparappe, artinya hanyut saling mendamparkan. Hal ini bermakna, bahwa dalam kehidupan ini kerap kita dapati saudara-saudara kita sedang mengalami permasalahan yang cukup pelik. Mereka tidak bisa keluar apa yang menimpanya sehingga sangat membutuhkan uluran tangan.

3. Malilu sipakainge, artinya lupa saling mengingatkan. Hal ini bermakna, bahwa tidak ada manusia yang sempurna sehingga tidak luput dari kesalahan dan kekhilapan. Meskipun manusia memiliki cipta, rasa, dan karsa akan tetapi kekurangan tidak dapat dipungkiri. Dalam keadaan seperti inilah mereka membutuhkan asupan dari seorang sahabat untuk saling memperingatkan.

4. Mainge’pi nasikua, artinya apabila sudah sadar itulah asa (harapan). Hal ini bermakna, bahwa sebagai sahabat yang baik senantiasa mengingatkan dan menasihati. Jangan pernah merasa bosan sehingga ia berjalan pada kebenaran. Niscaya suatu waktu ia akan sadar sesuai harapan.

5. Sirui menre tessirui no, artinya dalam kehidupan ini hindari saling menjatuhkan nilai dan martabat. Sebaliknya kita harus saling menopang dan mendukung satu sama lain. Cemburu, dengki, iri hati biasanya penyebab utama untuk saling menjatuhkan.

Hal ini sesuai pesan Bugis, bahw empuru, sereati, dan kella-kella (ESK) merupakan penyakit yang paling berat dihadapi. Konon penyakit ESK ini belum ada obatnya sampai sekarang.

Semoga bermanfaat,

(Mursalim)

Selanjutnya