We Fatimah Banri Ratu Bone ke-30 Tahun 1871-1895

We Fatimah Banri, Datu Citta, Sultanah Fatimah, Matinroe ri Bolampare’na adalah ratu Bone ke-30. Ia memerintah di kerajaan Bone 1871-1895. Menggantikan ayahnya yang bernama Singkeru Rukka.

Pada tahun 1879 We Fatimah Banri menikah dengan sepupu sekalinya yang bernama La Magguliga I Bangkung Karaeng Popo (anak dari We Pada Daeng Malele, Arung Berru dengan suaminya I Malingkaang Karaenge ri Gowa). Hasil pernikahan We Fatimah Banri dengan Karaeng Popo lahirlah We Sutera Arung Apala.

We Fatima Banri dikenal memiliki jiwa seni yang tinggi, ia memerintahkan agar perempuan Bugis memakai gaun lengan panjang yang sebelumnya memakai waju ponco’ ( baju lengan pendek). Dikenal sangat taat menjalankan ajaran agama Islam.

Dalam pemerintahan ia sangat tegas namun berhati lembut. Hal itu ditandai ketika sang ratu memainkan tari-tarian. Dari jiwa seninya itu, maka diawal pemerintahannya dibangunlah sebuah istana rumah panggung yang disebut Bolampare’e tahun 1871. Dinding istana dihiasi dengan ukiran sehingga istana itu disebut pula Bola Subbie.

Setelah kawin, We Fatimah Banri memberikan kepada suaminya (Karaeng Popo) jabatan Akkarungeng di Palakka. Setelah Sang Ratu meninggal dunia tahun 1895, maka Karaeng Popo berusaha untuk menggantikan isterinya sebagai raja Bone.

Lantas Karaeng Popo mendekati Adat Tujuh Bone agar dirinya dapat diangkat menjadi Mangkau’ di Bone menggantikan isterinya.

Akan tetapi maksudnya itu dihalangi oleh iparnya yang bernama La Pawawoi Karaeng Sigeri yang pada waktu itu menjadi Tomarilaleng di kerajaan Bone.

La Pawawoi Karaeng Sigeri beralasan, bahwa Karaeng Popo ketika isterinya masih hidup telah banyak melakukan tindakan yang tidak disenangi oleh orang Bone. Karaeng Popo bersama Jowana (pengawalnya) sering melakukan tindakan keras yang membuat rakyat kecil menderita.

Atas penolakan itu, maka Adat Tujuh Bone sepakat untuk mengangkat anak Fatimah Banri yang bernama We Sutera Arung Apala menjadi mangkau di Bone. Namun pada waktu itu baru berumur 13 tahun.

Akan tetapi kesepakatan Adat Tujuh Bone itu tidak disetujui oleh pembesar kompeni Belanda di Ujungpandang yang bernama Tuan Braan Manrits. Alasannya ada kekhawatiran Bone dan Gowa akan bersatu melawan Kompeni Belanda.

Untuk itu, Tuan Braan Manrits sendiri yang langsung masuk ke Bone. Pembesar Belanda itu langsung melakukan pertemuan dengan Adat Tujuh Bone. Diperoleh kesepakatan, bahwa yang bisa menggantikan We Fatimah Banri adalah saudaranya sendiri yang bernama La Pawawoi Karaeng Sigeri.

Adik kandung We Fatimah Banri tersebut dinilai lebih cakap untuk mengendalikan situasi dan pemerintahan di Bone. Selain itu, La Pawawoi memang sudah dikenal baik oleh pembesar Belanda. Oleh karena itu diangkatlah La Pawawoi Karaeng Sigeri sebagai raja Bone ke-31 tahun 1895.

We Fatimah Banri meninggal di istana Bolampare’e sehingga ia digelar Matinroe ri Bolampare’na (yang meninggal di istananya).

Ia salah satu perempuan Bugis yang pernah menduduki takhta di kerajaan Bone dan salah satu peninggalannya adalah Bola Subbie yang ada di kota Watampone.