oleh

Arti kata tompang, sossoro, langiu, dalam acara Mattompang Arajang

Mattompang arajang adalah penyucian/pembersihan benda-benda pusaka kerajaan Bone yang dilaksanakan secara ritual adat. Dilaksanakan setiap perayaan Hari Jadi Bone.

Adapun benda-benda pusaka yang dibersihkan berupa senjata yaitu keris seperti Lamakkawa, Latea Riduni, Lasalaga dan benda-benda pusaka lainnya seperti sembang pulaweng (kalung/rantai emas), potongan rambut Arung Palakka, Benda-benda pusaka tersebut merupakan peninggalan Arung Palakka Raja Bone ke-15.

Jadi acara mattompang arajang tidak hanya membersihkan senjata keris melainkan juga benda-benda pusaka lainnya.

Dari sisi bahasa Bugis kata mattompang berasal dari kata “tompang” artinya bersih dan cuci. Sementara awalan ” ma ” artinya melakukan (kata kerja). Sehingga “mattompang” artinya melakukan pembersihan dan penyucian.

Lain halnya kata ” pattompang ” yaitu bahan yang dipergunakan untuk melakukan pembersihan seperti jeruk nipis serta air yang diambil di tempat khusus. Dalam bahasa Bugis awalan ” pa ” artinya alat/bahan. Sehingga “pattompang” artinya alat/bahan yang diperlukan dalam proses pembersihan dan penyucian.

Dari sisi makna denotasi seluruh proses penyucian/pembersihan benda pusaka tersebut dalam bahasa Bugis disebut “mappepaccing”, yaitu melakukan pembersihan.

Sementara makna konotasi adalah ilangiri/dilangiri (berasal dari kata langiu artinya daki atau kotoran yang menempel), sossoro’ / massossoro’ ( bersihkan dengan cara menggunakan tangan atau alat lainnya).

Kemudian makna denotasi mattompang adalah melakukan pembersihan terhadap senjata keris dan badik dengan menggunakan jari-jari tangan.

Agar terdengar lebih sakral maka digunakan istilah “Mattompang” yang mewakili kata massossoro, mappepaccing, dan ilangiri/dilangiri.

Selanjutnya