oleh

Bedah Lirik dan Syair : Mappabali Temakkutana

MAPPABALI TEMMAKUTTANA adalah judul lagu yang khusus saya buat untuk mengenang terbakarnya rumah adat Kabupaten Bone Bola Soba atau Saoraja.

Mappabali temakkutana
Ri tengngana bitarae
Salassa…na arung pugi
rilangkana bola soba

Tea melle tessaile
Uraganna rimunrie
Silasana arung mangkau
Ri lebo’na tana bone
Temmadinging salompena

Tuppua bulu kuteri
Siruttungeng langie
Waseng magi nakkutana
Ri..labu kessoe
Nalettu limbang rimajeng

Bedah Lirik dan Syair :

“Mappabali temakkutana, ritengngana bitarae”
Artinya : Jawaban atas sesuatu tanpa didahului pertanyaan. Di lingkungan kehidupan sebuah negeri.

Maksudnya : dalam kehidupan sehari-hari, kerapkali timbul berbagai persoalan baik lingkungan keluarga, organisasi, daerah maupun sejenisnya.

Persoalan kecil dibesarkan, tapi permasalahan besar tidak mendapat perhatian. Akibatnya permasalahan itu menimbulkan polemik berkepanjangan.

Sejatinya segala permasalahan yang memang dianggap besar dan penting yang berhubungan erat kehidupan berkelompok/bernegara segera diselesaikan dengan musyawarah sebelum muncul persoalan yang lebih besar. Akhirnya persoalan tersebut terjawab dengan sendirinya diluar harapan bersama.

“Salassana Arungpugi, rilangkana Bola Soba”
Artinya : Istana para pemimpin, berkedudukan yang telah ditentukan.

Maksudnya : Di negara manapun di belahan dunia ini tentu memiliki pemimpin yang bertugas mengayomi masyarakatnya. Mereka dipersiapkan tempat khusus untuk berpikir dan merancang strategi yang hendak dilakukan sesuai kebutuhan dan kemaslahatan masyarakatnya.

” Tea melle’ tessaile, uraganna rimunrie”
Artinya : Sesuatu yang baik menurut kita, tapi belum tentu baik bagi orang lain.

Maksudnya : Apapun yang kita pikirkan dan usulkan meskipun hal itu yang terbaik, akan tetapi lebih baik lagi apabila disertai dengan argumentasi yang didasari ilmu dan bukti.

Tidak hanya mengumbar yang muluk-muluk, sehingga mendapat respon yang kurang baik pula. Utarakan argumentasi tanpa menafikan pendapat orang lain. Akibatnya muncul masalah dan persoalan yang sama kemudian hari.

” Silasana Arung Mangkau, rilebo’na tana Bone”
Artinya : Harapan pemimpin pendahulu, untuk negeri tumpah darahnya.

Maksudnya : Tidak ada pemimpin di dunia ini yang bercita-cita menghancurkan rakyatnya kecuali ia berlaku sebagai penguasa. Seorang pemimpin mampu melihat sekelilingnya, sebagai penguasa hanya melihat garis lurus.

Pemimpin itu memberikan bercahaya, sementara penguasa hanya memberikan sinar tertentu. Pemimpin pendahulu kita telah meletakkan dasar dan program yang baik serta disepakti bersama. Jangan pula dirusaki, akan tetapi lanjutkan program itu, hargailah pendahulu kita.

” Temmadingin salompena ”
Artinya : Tak kendur sebagaimana petuah warisan leluhur.

Maksudnya: Sebagai orang dan warga, serta generasi yang baik, sejatinya senantiasa menjunjung tinggi adat budayanya. Sebab petuah leluhur menganjurkan hal-hal yang baik dan dilaksanakan penuh semangat.

Petuah leluhur bak cermin untuk melihat masa lalu, kekinian, dan masa datang. Dengan begitu kita mampu membentuk jatidiri.

” Tuppua Bulu Kuteri, Siruttungeng Langie”
Artinya : Mendaki air, tumpah dari langit.

Maksudnya : Setiap pekerjaan membutuhkan pengorbanan baik tenaga, pikiran, dan material yang kadang diselingi tawa dan air mata. Mengharap air tidak hanya turunnya hujan, melainkan carilah cara untuk mendapatkan air tanpa menunggu turunnya hujan.

Upayakan musim hujan menjadi kemarau dan sebaliknya. Hal ini tentu tidaklah mudah dan memerlukan cipta, rasa, karsa serta langkah-langkah strategis untuk mewujudkannya.

” Waseng magi nakkutana, rilabu kessoe, nalettu limbang rimajeng”
Artinya : Kenapa bertanya lagi, masa yang telah silam, hingga terbawa mati.

Maksudnya : Adat budaya tak lekang masa, ia berjalan seiring sepanjang kehidupan manusia, sesampai akhir hayat. Olehnya itu, pertahankan dan rawatlah apa yang telah diwariskan oleh nenek moyang. Karena kesemuanya itu, titian untuk mengenal jatidiri dan bangsamu.

Semua kearifan lokal adalah muatan lokal, namun tidak semua muatan lokal sebagai kearifan lokal. Sebab tidak semua perilaku masa lalu bisa menjadi kearifan lokal yang sesuai kaidah dan ajaran agama.

Oleh karena itu, seleksilah muatan lokal yang dapat dijadikan kearifan lokal sehingga dapat diaplikasikan dalam kehidupan yang lebih baik. Dalam artian bebas dari segala kesukaran dan bencana, aman dan tenteram, sejahtera, alias sentosa. (Mursalim).

Selanjutnya