Agresi Belanda II Tahun 1825

Topik pembicaraan kali ini mengupas agresi Belanda kedua terhadap Bone tahun 1825. Perang ini juga dikenal sebaga perang Bone kedua.

Setelah agresi pertamanya tahun 1824 mengalami kegagalan, Belanda kembali menyusun strategi baru untuk menghabisi Bone. Invasi pertamanya ke Bone membawa korban yang tidak sedikit. Mereka mendapat perlawanan sengit dari tentara Bugis Tanete, Bone, dan Suppa.

Agresi Belanda kali ini kembali harus berhadapan dengan musuh bebuyutan yang sama, si perempuan bertangan besi berhati baja We Imaniratu penguasa kerajaan Bone.

Perang Bone kedua ini merupakan operasi militer Belanda atas Kerajaan Bone tahun 1825 dengan melibatkan ribuan tentara KNIL.

Gubernur Jenderal Belanda Van der Capellen baru meninggalkan Celebes setelah ekspedisi terdahulu atas Bone dilancarkan secara besar-besaran. Di mana pada agresi pertamanya Belanda meskipun menaklukkan Pangkajene dan Labakkang, menduduki Tanete dan menangkap We Imaniratu namun belakangan dilepas kembali, ternyata Belanda terkecoh.

Tak hanya itu, Belanda mengendalikan wilayah subur antara Tanete-Maros dan juga menduduki Bantaeng dan Bulukumba di bagian selatan. Belanda mengalahkan telak orang Bone setelah pertumpahan darah.

Di sisi lain, perlawanan Maros, Bantaeng, dan Bulukumba tak cukup kuat untuk membendung serangan berdarah tentara Belanda yang didukung personel dan persenjataan yang lebih canggih pada masanya. Dan seluruh Celebes terancam kalah.

Namun demikian, kemenangan demi kemenangan itu, Belanda tidak puas sebelum membalas dendamnya terhadap Si Cantik We Imaniratu penguasa kerajaan Bone. Wajah ayu di balik kerudung ternyata menaruh kebencian terhadap Belanda. Bahkan ia sempat membunuh 14 serdadu Belanda dengan gelindingan batu pada agresi Belanda setahun silam.

Tak mau dipermalukan lagi, dalam agresi Belanda terhadap Bone yang kedu kalinya ini mengirim kekuatan 4.100 personel. 2.200 adalah serdadu. 1.100 pasukan dari Sumenep, serta didukung 800 laskar dari sejumlah negeri antek-antek Belanda.

Tidak hanya itu, armada Belanda juga membawa 7 kapal perang, 3 perahu meriam dan sejumlah perahu panjang bersenjata.

Sementara itu penguasa Bone We Imaniratu, tidak tinggal diam, ia sudah tahu sebelumnya, kalau Belanda pasti kembali untuk membalas kekalahannya dan belum bisa menguasai Bone secara keseluruhan pada agresinya yang pertama.

Untuk menghadapi Belanda kali ini, We Imaniratu telah mempersiapkan segala sesuatunya serta langkah-langkah yang harus ditempuh bersama para laskar-laskarnya.

We Imaniratu menempatkan sebanyak 5 ribu laskarnya untuk mencegah pergerakan tentara Belanda di wilayah Sinjai. Termasuk laskar berkuda bersenjatakan duru’, tombak dan kawelang.

Pada tanggal 20 Januari 1825, tentara Belanda mulai bergerak dari makassar menyisir pantai timur sulawesi selatan Bantaeng, Bulukumba, namun belum berani merapat ke sinjai. Belanda tahu, kalau laskar Bone pasti sudah mengintai kedatangannya.

Belanda tak mau lagi bersikap ceroboh seperti pada agresinya yang pertama. Ia kena tipu muslihat sang ratu yang pura-pura mengalah. Belanda menyadari, bahwa We Imaniratu seorang wanita cerdas yang punya strategi perang yang tidak bisa diremehkan kemampuannya.

Penguasa Belanda Mr. Godert Alexander Gerard Philip Baron van der Capellen mengingatkan kepada tentaranya untuk berhati-hati memasuki wilayah Bone. Bahkan ia optimis agresinya ke Bone kali ini harus meraih kemenangan.

Penyerangannya ke Bone kali ini membawa taruna dan prajurit-prajurit muda yang tangguh, salah satunya Jan Carel Josephus van Speijk.

Jan Carel bergabung dengan AL Kerajaan Belanda pada tahun 1820 dan berdinas di Hindia Belanda antara tahun 1823-1825. Ia turut serta sejumlah ekspedisi militer ke Bangka, Jawa, dan Bone dan ia mendapatkan julukan si Teror Bandit.

Sebelum mendarat di tanah Bone untuk menghancurkan perlawanan We Imaniratu Jan Carel sebagai taruna kelas I mempelajari laut Teluk Bone. Semua titik-titik lokasi ditandai yang memungkinkan memperlancar serangannya dengan tidak menelan korban lebih banyak.

Setelah melakukan pengintaian dengan bantuan mata-mata dan keandalan pelaut-pelaut Makassar yang turut membantunya. Tentara Belanda mulai bergerak ke Bantaeng dan Bulukumba dan kedua wilayah itu dengan mudah ditaklukkan.

Selanjutnya Armada perang Belanda melanjutkan perjalanan ke Bone, Namun angkatan perang Kerajaan Bone telah menunggu di Sinjai. Tak ayal perang pun berkobar.

Laskar passiuno, pasukan berani mati Kerajaan Bone berkelompok di mana-mana dan menebar ancaman untuk memotong jalur tentara Belanda. Namun laskar Kerajaan Bone akhirnya mundur setelah dihalau panah api dari perahu-perahu Belanda.

Selanjutnya pasukan Belanda tiba kawasan timur kota Bone, tepatnya pantau di Bajoe, pada tanggak 27 Maret 1825. Di sana sudah berdiri 5.000 orang Bone yang siap menyerang pasukan Belanda.

Akan tetapi komandan pasukan Belanda Josephus Jacobus baron van Geen hanya mengizinkan roket ditembakkan ke arah para laskar Bone yang menunggang kuda. Tembakan roket itu bertujuan untuk menimbulkan kepanikan kepada laskar Bone.

Tembakan roket disertai bola api itu membuat pasukan Bone harus mundur. Ia menarik diri ke daerah pegunungan ponre.

Pada tanggal 22 Maret 1825 pasukan Belanda berhasil menguasai Bajoe dan dijadikan sebagai pangkalan militer. Lalu dijaga dengan senjata berat. Setelah pasukan Bone datang untuk menyerbu dihalau dengan senjata berat tanpa ampun.

Di daerah pegunungan Ponre terdapat 7.500 pasukan cadangan Kerajaan Bone. Namun serangan mendadak dengan kekuatan besar tentara Belanda memberondong melintasi rawa dan hutan, akhirnya laskar Bone berguguran.

Selanjutnya Tentara darat Belanda kembali bergerak ke pusat kekuatan Bone yang masih ada di Sinjai karena masih banyak laskar Bone lari ke hutan dan meneror tentara Belanda. Namun saat itu laskar Bone sudah tidak ada.

Pada tanggal 30 Maret 1825, pasukan Belanda berhasil mencapai kubu pertahanan Bone di Watampone. Namun kota Bone sudah ditinggalkan oleh penduduknya. Ratu Bone We Imaniratu juga telah mengungsi di daerah kessi wilayah kerajaan Suppa.

Selanjutnya di kampung Kessi We Imaniratu memerintahkan laskarnya bergerak mundur ke Suppa untuk menghindari korban lebih banyak. Selanjutnya bergabung dengan laskar kerajaan Suppa. Laskar Bone sudah mengetahui, bahwa Tentara Belanda akan menyerang Suppa, maka ia datang untuk membantu.

Selanjutnya Pasukan Belanda dipimpin Van Geen mengumandangkan proklamasi penguasaan Kerajaan Bone.

Sementara itu untuk mengejar sampai ke Suppa tentara Belanda dipimpin Le Bron de Vexela meminta bantuan tambahan personel di Makassar untuk menyerang suppa. Permintaan bantuan Belanda itu bertujuan untuk mengimbangi kekuatan Suppa yang kini bergabung dengan laskar Kerajaan Bone.

Pada tanggal 20 Juni 1825 armada Belanda bergerak menuju Suppa. Sebelum menyerang, maka Belanda mengultimatum Sultan Suppa
La Bampe La Tenri Lengkang untuk menyerahkan diri.

Setelah melalui pertimbangan matang dan demi keselamatan rakyat Suppa, maka Sultan Suppa menyerahkan diri, dan senjatanya dilucuti. Hal itu berdasarkan koordinasi yang dilakukan bersama We Imaniratu yang sedang berada di kessi.

Dengan demikian menandai pula berakhirnya perlawanan We Imaniratu dalam perang Bone kedua tersebut. Perang ini juga merupakan bukti persaudaraan antara tiga kerajaan Bugis yang menentang penjajahan Belanda yakni Bone, Tanete-Barru, dan Suppa-Pinrang.

WE IMANIRATU, I MANNENG ARUNG DATA, SULTANAH SALIMAH RAJIYATUDDIN, MATINROE RI KESSI, adalah penguasa Bone ke-25 memerintah di kerajaan Bone tahun 1823-1835.

We Imaniratu meninggal di Kessi dalam tahun 1835 dan digelar Matinroe ri Kessi. Selanjutnya digantikan oleh saudaranya yang bernama La Mappaseling Arung Panyili.

Rujukan:

1. 1876. A.J.A. Gerlach. Nederlandse heldenfeiten in Oost Indiƫ. Drie delen. Gebroeders Belinfante, Den Haag.

2. 1900. W.A. Terwogt. Het land van Jan Pieterszoon Coen. Geschiedenis van de Nederlanders in oost-Indiƫ. P. Geerts. Hoorn

3. 1900. G. Kepper. Wapenfeiten van het Nederlands Indische Leger; 1816-1900. M.M. Cuvee, Den Haag.