oleh

Perlawanan We Imaniratu

PERANG BONE PERTAMA TAHUN 1824

Kisah perlawanan seorang perempuan bertangan besi dari tanah Bugis. Ia adalah We Imaniratu I Manneng Arung Data Sultanah Salimah Rajiyatuddin Matinroe ri Kessi, raja Bone ke-25 yang memerintah di kerajaan Bone tahun 1823-1835.

We Imaniratu adalah ratu yang sangat cantik, tidak memiliki anak karena tidak pernah menikah. Ia meninggal dalam tahun 1835 sehingga digelari Matinroe ri Kessi.

Ratu Bone We Imaniratu dikenal sangat patuh dalam menjalankan agama Islam, ia banyak memahami ilmu tasauf. Beliau belajar ilmu tasauf dari gurunya yang bernama Seikh Ahmad yang bergelar Alif Putih si penakluk Tambora.

Diawal pemerintahannya We Imaniratu diajak berkompromi oleh Belanda untuk bekerjasama dalam pemerintahannya terutama perjanjian Bongaya. Namun sang Ratu menolak melanjutkan apalagi mematuhi isi perjanjian Bongaya yang hanya menguntungkan pihak Belanda.

Tak ayal, penolakan itu membuat gusar kompeni Belanda. Tak ada jalan lain selain agresi. Dan agresi Belanda kali ini dikenal sebagai perang Bone pertama melawan Belanda.

Dalam catatan sejarah, terhitung 4 kali Belanda melakukan agresi ke Bone, yaitu mulai tahun 1824 (Agresi I yang gagal), setahun kemudian tahun 1825 (Agresi II juga gagal), selanjutnya tahun 1859 (Agresi III yang juga mengalami kegagalan tragis), akibat kekalahan itu, 46 tahun kemudian barulah Belanda kembali menyerang Bone pada tahun 1905 (Agresi IV berhasil).

Kali ini mari kita kupas agresi Belanda pertama terhadap Bone tahun 1824.

Setelah jatuhnya Kerajaan Gowa, Kerajaan Bone menjadi yang terkuat di seantero Sulawesi. Sejak itu Bone menyebarkan pengaruh ke seluruh negeri di Sulawesi. Kerajaan Luwu dan sejumlah negara kecil lain bersekutu dengan Bone, begitupun Kerajaan Soppeng.

Pengaruh kerajaan Bone tersebut membuat Belanda menjadi cemas. Bahkan tak segan-segan Bone melancarkan propaganda atas ketidaksukaannya terhadap Belanda yang sering memaksakan kehendaknya.

Sementara itu Belanda mengalami pengalihan kekuasaan, pemerintahan diambil alih oleh Herman William Daendels. Daendels adalah seorang politikus Belanda yang merupakan Gubernur-Jenderal Hindia Belanda yang ke-36. Ia memerintah antara tahun 1808 – 1811.

Daendels jenderal yang sangat disiplin, tegas dan kejam. Karena atas tindakan dan kekejamannya itu, akhirnya Daendels ini dipulangkan ke negara asalnya Belanda pada tahun 1811 dan digantikan adalah Jenderal Jassens.

Namun, ternyata Jassens lemah dan kurang cakap, dia selalu terbayang oleh ancaman Inggris. Pada Bulan Agustus 1811 Inggris menyerang namun tidak berhasil. Akhirnya mereka membuat perjanjian. Isi pokok perjanjian adalah wilayah nusantara diserahkan kepada Inggris. Indonesia pun jatuh ke tangan Inggris.

Seiring berjalannya waktu, Pada tanggal 17 Maret 1824 Inggris dan Belanda menandatangani perjanjian atau Traktat London. Perjanjian ini ditujukan untuk mengatasi konflik yang bermunculan akibat pemberlakuan Perjanjian Britania-Belanda.

Seiring dinamika dan waktu. Setelah peralihan kekuasaan dari Inggris ke Belanda, suasana masih tetap damai, tetapi setelah Raja Bone ke-24 La Mappasessu meninggal pada tahun 1823 digantikan oleh saudarinya We Imaniratu, I Manneng Arung Data keadaan menjadi berubah.

Ratu Bone We Imaniratu mencoba merevisi Perjanjian Bongaya yang sangat merugikan negeri-negeri di Sulawesi Selatan dan hanya menguntungkan pihak Belanda.

Belanda pun mendengar dan akan meredam rencana Ratu Bone We Imaniratu. Untuk itu Gubernur Jenderal Belanda Van der Capellen melakukan lawatan ke Sulawesi dan Maluku pada tanggal 8 Maret – 21 September 1824.

Kehadiran Gubernur Jenderal Belanda Van der Capellen disambut oleh penguasa-penguasa negeri di Sulawesi dan Maluku, namun Ratu Bone Imaniratu hanya mengirim perwakilannya, bahkan penguasa Suppa La Tenri Lengkang dan penguasa Tanete Daeng Tennisangnga
tidak hadir karena sebelumnya dipengaruhi oleh ratu Bone.

Lawatan Van der Capellen tidak menghasilkan apa-apa. Ia pun kecewa karena Imaniratu tidak hadir dalam perundingan. Padahal maksud lawatannya adalah berunding dengan We Imaniratu yang hendak merevisi perjanjian Bungaya. Ia berharap dalam perundingan bisa membujuk ratu Bone agar tidak mengungkit-ungkit lagi tentang perjanjian bongaya tahun 1667.

Akhirnya pada tanggal 21 September 1824 Gubernur Jenderal Van der Capellen kembali ke Batavia dengan tangan hampa dusertai rasa dan kesal.

Setibanya di Batavia Belanda pun mengatur strategi untuk melancarkan serangan ke Kerajaan Bone. Dalam rencana agresinya itu, Belanda terlebih dahulu menyisir daerah-daerah kerajaan di luar wilayah kerajaan Bone.

Sebuah ekspedisi dipersiapkan, Belanda mengirim 500 prajurit dengan membawa 4 meriam, 2 howitzer yaitu meriam yang dapat menembak dalam sudut tinggi dan memiliki daya penghancur yang sangat besar karena proyektil yang dilontarkan. Tidak hanya itu, Belanda juga mengirim 600 prajurit pembantu dari unsur pribumi.

Mereka datang hanya satu tujuan yaitu menghukum kerajaan Bone yang dipimpin oleh We Imaniratu I Manneng Arung Data.

Pasukan darat Belanda dipimpin oleh letnan kolonel Hubert Joseph Jean Lambert de Stuers. Sementara pasukan laut dipimpin oleh Letnan Buys.

Armada Belanda tiba di kerajaan Tanete pada tanggal 15 Juli 1824. Raja Tanete Daeng Tennisangnga melakukan perlawanan bersama laskarnya. Wilayah kerajaan Tanete adalah kabupaten Barru sekarang ini.

Meskipun mendapat perlawanan di Tanete, namun karena persenjataan Belanda yang lengkap akhirnya Tanete bisa diredam.

Selanjutnya Tentara Belanda bergerak ke wilayah timur sasaran utama yaitu Bone.

Sebelum penyerbuannya ke Bone, tentara belanda melakukan pengintaian dengan menyisir bulu dua hingga Lamuru dengan mengerahkan tentara pribumi. Namun kehadiran tentara Belanda sudah diketahui oleh We Imaniratu serta pasukannya.

Akhirnya pertempuran pun terjadi di kawasan perbukitan selama beberapa hari. Belanda yang didukung peralatan perang yang lebih unggul akhirnya berhasil menangkap ratu Bone We Imaniratu.

Letnan kolonel Hubert memerintahkan pasukannya menjaga ketat si wanita bertangan besi itu. Meskipun sudah ditawan tetapi sang ratu tetap memaki-maki pasukan Belanda utamanya dari unsur pribumi.

Meskipun We Imaniratu tertawan akan tetapi sebagian laskar Bone lari ke pedalaman dan bergabung bersama penduduk untuk melancarkan serangan-serangan gerilya.

Perlawanan Tanete dan Bone berhasil diredam oleh Belanda, kemudian mereka akan bergerak ke wilayah kerajaan Suppa.

Belanda melancarkan serangan ke Suppa bersama 240 prajurit namun harus menghadapi perlawanan laskar kerajaan Suppa karena ternyata pasukan We Imaniratu sebagian lari ke arah Suppa untuk datang membantu. Terpaksa Tentara Belanda harus mengatur siasat untuk memasuki wilayah suppa.

Pada tanggal 14 Agustus 1824 serangan Belanda diperbaharui. Pada pagi hari tanggal 30 Agustus 1824 operasi itu berhasil diselesaikan, setelah Suppa diberondong tembakan meriam peringatan akhirnya perlawanan Suppa berhasil diredam.

Setelah berhasil menguasai Suppa, maka Belanda berpikir Bone juga melemah, maka We Imaniratu dibebaskan. Namun di luar perhitungannya, We Imaniratu ternyata kembali menggalang kekuatan.

Awalnya Belanda bergerak wilayah pusat kerajaan Bone lainnya. Dan rakyat Bone bersama laskar gerilya We Imaniratu membiarkan pasukan Belanda mendekat tanpa ancaman apapun.

Namun tiba di kaki sebuah bukit, pasukan gerilya kerajaan Bone melancarkan serangan terhadap pasukan Belanda. Tentara Belanda tidak pernah menduga serangan itu. Hujan batu dari perbukitan bagai hujan yang dilontarkan oleh pasukan gerilya kerajaan Bone.

Serangan gerilya umumnya dilancarkan pada waktu malam sehingga tenrara Belanda banyak yang korban meninggal terkena batu dan kawelang.

Setelah kehilangan sepertiga pasukannya, Belanda harus mundur. Dengan korban tewas sebanyak 14 jiwa dan 60 korban luka-luka, pasukan Belanda memilih mundur dan keluar dari kerajaan Bone.

Belanda mengalami kegagalan dalam ekspedisi pertama ini. Belanda kembali harus menyusun strategi baru untuk melancarkan ekspedisi lain ke Bone.

Rujukan:

1. 1876. A.J.A. Gerlach. Nederlandse heldenfeiten in Oost Indë. Gebroeders Belinfante, Den Haag.

2. 1900. W.A. Terwogt. Het land van Jan Pieterszoon Coen. Geschiedenis van de Nederlanders in oost-Indië. P. Geerts. Hoorn

3. 1900. G. Kepper. Wapenfeiten van het Nederlands Indische Leger; 1816-1900. M.M. Cuvee, Den Haag.

Berikutnya