loading...

Jogjakarta pada masa lampau merupakan sebuah Kesultanan Islam yang menjalin hubungan politik dengan berbagai wilayah di Indonesia. Termasuk wilayah Sulawesi. Meski tidak berhubungan secara langsung, namun keberadaan Pasukan Bugis sebagai pasukan Keraton Kesultanan Jogjakarta menunjukkan ada hubungan menarik di antara keduanya yang juga menjadi sejarah Jogjakarta di masa lampau.

Apa saja informasi tentang hubungan menarik antara Bugis Makassar dan Jogjakarta? Simak ulasannya berikut ini.

Sejarah Pasukan Bugis

Pasukan Bugis merupakan pasukan yang dikenal keberaniannya. Panji panji atau bendera dari pasukan Bugis adalah Wulandadari yang berbentuk empat persegi panjang dengan warna dasar hitam dibagian tengah terdapat lingkaran dengan warna kuning emas.

Wulandadari berasal dari kata wulan yang berarti bulan dan dadari yang berarti mekar/muncul/timbul. Secara flosofis berarti pasukan Bugis diharapakan selalu memberikan penerangan dalam kegelapan seperti munculnya bulan dimalam hari yang gelap yang menggantikan fungsi dari matahari.

Seragam yang dikenakan oleh pasukan Bugis adalah baju berbentuk kurung/jas tutup dan celana panjang hitam serta topi hitam. Persenjataan yang dipakai adalah tombak (Waos), tombak pusakanya bernama Kanjeng Kiai Trisula. Pada saat Bregada Bugis berjalan diiringi gendhing Sandung Liwung.

Sedangkan peralatan musik yang melengkapinya berupa tambur, pui-pui, bende dan ketipung kecil. Lagu atau mars yang dikumandangkan adalah Mars Endroloko.

Pasukan Bugis, Pengawal Putri Hamengkubuwono I

Dari Ensiklopedia Keraton Jogjakarta, dikatakan bahwa kedatangan pasukan Bugis itu ke Jogjakarta dikarenakan peranannya Raden Mas Said dengan Putri Mangkubumi (Hamengkubuwono I) yang bernama Gusti Kanjeng Ratu Bendoro. Pasukan ini diminta mengawal dan menjaga keamanan Gusti Kanjeng Ratu Bendoro dari Surakarta sampai ke Jogjakarta.

Sesampai di Jogjakarta ternyata diterima dengan sangat baik oleh Sultan dan rakyatnya, sehingga dengan kejadian itu membuat Pasukan Bugis memutuskan untuk tetap tinggal dan menetap di Jogjakarta.

Putusan itu diterima oleh Hamengkubuwono I, bahkan kemudian diangkat sebagai pasukan kerajaan yang dibagi dalam dua Brigade yaitu Daengan dan Bugisan. Pasukan Bugisan ini kemudian bertugas untuk menjaga Putra Mahkota dan Pepatih Dalem. Pada masa Hamengkubuwono IX , Pasukan Bugisan juga ditugaskan untuk menjaga Grebeg. Mereka juga diberi tempat tinggal yang diberi nama kampung Bugisan.

Kampung di Jogjakarta Yang Dinamai Berdasarkan Pasukan Bugis

Terdapat sebuah kampung bernama Bugisan yang merupakan kampung tempat kediaman Pasukan Bugisan di Jogjakarta. Meski saat ini tidak lagi didiami oleh Pasukan Bugisan namun telah membaur bersama masyarakat, tetap saja kampung ini menjadi simbol sejarah Kesultanan Jogjakarta pada masa lampau. Kampung Bugisan berlokasi di bagian paling selatan kawasan kelurahan Patangpuluhan, kecamatan Wirobrajan, Jogjakarta.

Pasukan Bugis Saat Ini

Pasukan Bugis saat ini sudah tidak terdiri dari orang-orang yang berasal dari Suku Bugis Makassar lagi. Saat ini telah menjadi satu sebagai Pasukan Keraton Jogjakarta yang masih sering menghiasi perhelatan yang diadakan oleh keraton. Salah satunya pada saat perhelatan grebeg. Grebeg diadakan oleh Keraton Jogjakarta untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad. Grebeg ini merupakan puncak sekaligus mengakhiri perayaan tahunan Sekaten.

Bregada Prajurit Bugis di Keraton Jogyakarta

Keberadaan Pasukan Bugis di Jogjakarta pada masa lampau merupakan salah satu fakta tentang keberadaan Pasukan Bugis yang menyebar ke daerah-daerah di Nusantara. Terdapat daerah-daerah lainnya selain Jogjakarta yang juga bercerita tentang sejarah Pasukan Bugis.

Bregada Bugis awalnya berasal dari Bugis, Sulawesi. Namun prajurit yang ada kini sudah tidak lagi terdiri dari orang-orang Bugis. Dalam upacara Garebeg bertugas sebagai pengawal gunungan yang dibawa menuju Kepatihan.

Saat ini, keraton memiliki sepuluh kelompok pasukan yang disebut sebagai bregada. Jumlah seluruh prajurit cukup kecil, sekitar 600 orang. Jumlah anggota tiap pasukan berbeda-beda. Bregada Nyutra misalnya, hanya terdiri dari 64 orang saja.

Pimpinan tertinggi dari keseluruhan bregada prajurit keraton adalah seorang Manggalayudha atau Kommandhan/Kumendham. Sebutan lengkapnya adalah Kommandhan Wadana Hageng Prajurit. Manggalayudha bertugas mengawasi dan bertanggung jawab penuh atas keseluruhan pasukan. Ia dibantu oleh seorang Pandhega (Kapten Parentah), dengan sebutan lengkapnya Bupati Enem Wadana Prajurit, yang bertugas menyiapkan pasukan.

Setiap pasukan atau bregada dipimpin oleh perwira berpangkat Kapten. Kecuali bregada Bugis dan Surakarsa yang dipimpin oleh seorang Wedana.

Pandhega didampingi oleh perwira yang disebut Panji (Lurah). Perwira ini bertugas mengatur dan memerintah keseluruhan prajurit dalam bregada. Setiap Panji didampingi oleh seorang Wakil Panji. Sementara itu, regu-regu dalam setiap bregada dipimpin oleh seorang bintara berpangkat sersan.

Keseluruhan perwira dalam semua bregada dipimpin oleh seorang Pandhega, kecuali Bregada Wirabraja dan Bregada Mantrijero yang langsung di bawah Kommandhan.

Prajurit Keraton Yogyakarta dapat dibagi ke dalam tiga kelompok. Prajurit yang dimiliki Kepatihan, yaitu Bregada Bugis. Prajurit yang dimiliki Kadipaten Anom (putera mahkota), yaitu Bregada Surakarsa. Dan sisanya dimiliki oleh keraton.

Pakaian keprajuritan telah dikenal dalam sejarah Kasultanan Yogyakarta sejak Pangeran Mangkubumi masih berperang melawan pemerintah VOC (Kompeni Belanda). Pakaian keprajuritan ini kemudian berubah dari waktu ke waktu hingga yang kita kenal saat ini.

Pakaian perang Pangeran Mangkubumi berupa semacam seragam, celana dan bebed (kain yang menutup badan bagian bawah dan kaki), baju sikepan (baju luar yang dipakai saat membawa senjata), udheng atau ikat kepala, sebilah keris yang diselipkan dalam sabuk, dan satu buah keris lagi yang digantungkan pada sabuk.

Pakaian Prajurit pada Awal Kesultanan

Gubernur VOC Nicolaas Hartingh pernah mendeskripsikan pakaian yang dikenakan Pangeran Mangkubumi saat pertemuan pribadi mereka di Pedagangan, Grobogan, saat mereka menegosiasikan tuntutan Pangeran Mangkubumi atas bumi Mataram. Pangeran Mangkubumi menggunakan pakaian putih dan kain, memakai dua keris, tutup kepala ulama yang dibalut dengan ikat kepala linen halus berjahit benang emas. Para pengiring Pangeran Mangkubumi juga mengenakan pakaian yang mirip.

Kain lurik pada pakaian Prajurit Jagakarya

Deskripsi mengenai pakaian yang dikenakan Pangeran Mangkubumi dalam berperang menunjukkan bahwa pakaian keprajuritan pada awal Kasultanan Yogyakarta telah dipengaruhi oleh kebudayaan Islam. Namun menilik beberapa lukisan tentang prajurit Jawa pada masa-masa awal Kasultanan Yogyakarta, tidak dapat dikatakan bahwa corak Islam ada dalam tiap seragam prajurit.

Masuknya Pengaruh Eropa pada Pakaian Prajurit Keraton Jogyakarta

Pada masa Sri Sultan Hamengku Buwana IV (1816-1823), desain Eropa mulai dipakai pada pakaian prajurit keraton. Hal ini bersamaan dengan diterimanya pengaruh-pengaruh Eropa pada beberapa hal, termasuk pemberian pangkat Mayor Jenderal tituler pada Sultan yang berkuasa.

Selepas kekalahan Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa (1825-1830), pemerintah Hindia Belanda memangkas kemampuan militer Kasultanan Yogyakarta hingga prajurit keraton hanya berfungsi sebagai kesatuan pengawal istana dan upacara keraton saja. Mulai masa inilah pakaian prajurit keraton berkembang menjadi yang dikenal sekarang. Saat ini kita melihat unsur-unsur Eropa tersebut diselipkan secara bijak dalam bentuk kaos kaki, sepatu, maupun topi.

Makna Warna pada Pakaian Prajurit Keraton

Desain dari pakaian prajurit keraton tidak sekadar mengejar keindahan semata. Mulai warna hingga motif kain memiliki muatan filosofisnya sendiri. Dalam dunia simbolik Jawa terdapat istilah mancapat dan mancawarna. Segala sesuatu dalam dunia dibagi ke dalam empat bagian yang tersebar seusai arah mata angin, dan satu lagi bagian di tengah sebagai pusatnya. Begitu juga dengan empat macam nafsu manusia, yaitu aluamah, amarah, supiyah, dan mutmainah. Keempat nafsu ini kemudian diwujudkan dalam empat macam warna, yaitu warna hitam, merah, kuning, dan putih.

Warna hitam terletak di utara. Warna merah berada di selatan. Warna putih di timur. Warna kuning bertempat di barat. Sedang sebagai pusat adalah perpaduan berbagai warna tersebut. Masing-masing warna tersebut memiliki asosiasi dengan berbagai macam hal. Seperti sifat, benda-benda, maupun titah alus.

Pada pakaian prajurit keraton, warna-warna ini juga memiliki makna maupun asosiasinya masing-masing.

Warna hitam, digunakan secara dominan pada baju, celana, dan topi Prajurit Bugis, baju prajurit Prawiratama, baju sebagian Prajurit Nyutra Ireng, dan topi mancungan dari Prajurit Dhaeng. Warna hitam adalah warna tanah. Dalam masyarakat Jawa, warna ini dapat diartikan sebagai keabadian dan kekuatan.

Warna wulung, yaitu hitam keunguan, digunakan oleh hampir semua prajurit. Misalnya untuk blangkon Prajurit Dhaeng atau untuk dodot yang dikombinasikan dengan warna putih. Warna wulung dekat dengan warna hitam sehingga bermakna sama.

Warna biru, digunakan secara terbatas. Misalnya pada kaos kaki Prajurit Jagakarya, lonthong (sabuk) Prajurit Dhaeng (Jajar Sarageni, Jajar Sarahastra, dan Prajurit Dhaeng Ungel-ungelan). Makna dari penggunaan biru dekat dengan makna warna biru yang berkonotasi teduh dan ayom.

Warna hitam dalam mancapat berasosiasi dengan arah utara, besi, burung dhandang (semacam bangau hitam), lautan nila (warna biru indigo), hari pasaran Wage, serta Dewa Wisnu. Warna ini merupakan perwujudan dari nafsu aluamah, yaitu nafsu yang dasar seperti nafsu untuk makan dan minum.

Warna merah, digunakan pada beberapa pasukan. Prajurit yang paling dominan menggunakan warna merah adalah Prajurit Wirabraja, yang menggunakan warna ini pada topi centhung, baju sikepan, celana, srempang, dan endhong. Prajurit lain yang juga menggunakan warna merah adalah Prajurit Dhaeng. Warna merah diterapkan pada hiasan di depan dada, ujung lengan baju, serta plisir pada samping celana.

Prajurit Nyutra Abang menggunakan warna merah pada baju tanpa lengan dan celana. Prajurit Prawiratama menggunakannya sebagai celana. Prajurit Patangpuluh menggunakan warna merah untuk pelapis baju serta rangkapan baju dan celana. Warna merah juga digunakan dalam kain cindhe yang dikenakan oleh berbagai pasukan prajurit. Warna jingga atau oranye digunakan untuk baju dalam Prajurit Jagakarya. Warna ini jarang digunakan dan sering dimasukkan ke dalam warna merah.

Merah sering dikonotasikan dengan keberanian. Dalam mancapat, warna merah berasosiasi dengan api, arah selatan, logam swasa (campuran antara emas dan tembaga), burung wulung, lautan darah, hari pasaran Pahing, serta Dewa Brahma. Warna ini merupakan perwujudan nafsu amarah, dimana manusia memiliki nafsu untuk bercita-cita hidup sejahtera, termasuk nafsu untuk memiliki harga diri.

Warna kuning tidak digunakan secara dominan pada prajurit keraton. Warna ini hanya digunakan sebagai hiasan saja. Warna kuning bermakna keluhuran, ketuhanan, dan ketentraman.

Warna emas dianggap dekat dengan warna kuning. Warna kuning emas digunakan misalnya oleh Prajurit Wirabraja untuk plisir pada topi centhung Panji dan plisir pada baju sikepan Panji. Warna emas digunakan antara lain untuk membedakan antara Lurah dan Prajurit Jajar. Warna emas adalah lambang kemuliaan dan keagungan.

Warna kuning dalam mancapat berasosiasi dengan udara, arah barat, logam emas, burung podhang, lautan madu, hari pasaran Pon, serta Dewa Bayu. Warna ini merupakan perwujudan nafsu supiyah, di mana manusia memiliki cita-cita untuk menikmati keindahan (lukisan, pemandangan, kecantikan, dll).

Warna putih digunakan oleh hampir semua prajurit dalam berbagai bentuk, terutama untuk bagian yang sekunder seperti baju rangkap, atau sayak. Pasukan yang menggunakan warna putih secara dominan adalah Prajurit Dhaeng dan Surakarsa. Kedua pasukan ini menggunakan warna putih untuk baju dan celana panjang. Sebagian lain yang menggunakan warna putih untuk celana panjang adalah Prajurit Ketanggung, Prawiratama, dan Patangpuluh.

Warna putih berdekatan dengan makna dengan kebersihan dan kesucian. Dalam mancapat, warna putih berasosiasi dengan arah timur, perak, burung kuntul, air, santan, hari pasaran Legi, serta Dewa Komajaya. Warna ini merupakan perwujudan nafsu mutmainah, di mana manusia memiliki jiwa yang bersih dan bisa membedakan hal baik dan hal buruk.
Makna Motif pada Pakaian Prajurit Keraton

Selain dibedakan atas warna, kain yang digunakan untuk bahan dan perlengkapan pakaian prajurit juga memiliki motif. Motif yang ada antara lain batik, lurik, dan cindhe.

Kain dengan motif batik digunakan oleh para Manggala, Wedana Ageng, Pandhega, dan Panewu Bugis. Prajurit lain yang mengenakan kain batik adalah Surakarsa. Kain batik digunakan secara simbolik untuk menunjukkan adanya hirarki. Kain batik dengan ragam hiasnya yang bervariasi tersebut memiliki lebih banyak makna dan relatif lebih mahal memiliki lebih banyak makna daripada sekadar kain polos.

Kain dengan motif lurik digunakan sebagai baju luar untuk Prajurit Jagakarya, Ketanggung, Mantrijero, Patangpuluh, dan Langenastra. Baik untuk Lurah Parentah maupun untuk Prajurit Jajar. Kain lurik bukanlah kain mahal seperti batik. Filosofinya juga tidak sesarat kain batik. Kain ini cenderung digunakan untuk pakaian sehari-hari seperti surjan dan peranakan. Oleh karena itu, makna kain ini cenderung kepada kesederhanaan, kesetiaan, dan kejujuran.

Motif lurik yang digunakan sebagai pakaian seragam prajurit keraton dinamakan Lurik Ginggang yang berarti renggang karena antara lajur warna yang sama diisi oleh lajur warna yang lain. Namun makna yang lebih dalam lagi adalah kesetiaan prajurit kepada rajanya, serta hubungan antar prajurit jangan sampai ada kerenggangan.

Warna lurik yang mendekati abu-abu melambangkan kasih sayang dan restu raja terhadap prajurit laksana abu yang tak dapat dibakar oleh api. Meskipun demikian, terdapat motif lurik yang berbeda di antara prajurit-prajurit tersebut. Dalam hal ini, perbedaan motif dapat dianggap bermakna identitas.

Kain dengan motif cindhe digunakan untuk celana panji-panji, lonthong (misalnya untuk Manggala, Prajurit Ketanggung, Prajurit Patangpuluh, dan Prajurit Mantrijero), serta bara (misalnya untuk Manggala, Prajurit Patangpuluh, dan Prajurit Mantrijero). Cindhe merupakan motif kain yang terpengaruh dari India. Penggunaan motif ini dapat bermakna teknis sebagai aksen dari kain-kain polos dan batik. Biasanya berdasar warna merah. Penggunaan warna yang cenderung menegaskan makna keberanian yang disandang oleh para prajurit.

Mengenal Bregada Prajurit Keraton Berdasar Pakaiannya

Dengan mengamati warna dan motif pakaian, prajurit keraton dapat dibedakan dengan mudah. Prajurit Wirabraja mudah dikenali lewat pakaian yang dominan merah. Termasuk topinya yang berujung lancip sehingga sering disebut sebagai Prajurit Lombok Abang.

Prajurit Nyutra terbagi dua. Prajurit Nyutra yang memakai baju merah dan yang memakai baju hitam. Persamaannya adalah kedua prajurit tersebut menggunakan lengan baju berwarna kuning. Pada masa lalu, warna kuning itu dimunculkan dengan lulur yang langsung diberikan pada kulit lengan dan kaki prajurit.

Ada dua prajurit yang dapat dikenali lewat pakaiannya yang dominan putih. Prajurit Surakarsa dan Prajurit Dhaeng. Bedanya adalah Prajurit Dhaeng memiliki hiasan berwarna merah di dada.

Adapun prajurit yang pakaiannya dominan hitam adalah Prajurit Bugis dan Prajurit Prawiratama. Bedanya adalah Prajurit Bugis menggunakan topi tinggi berbentuk silindris.

Ada empat bregada prajurit yang menggunakan pakaian bermotif lurik. Prajurit Ketanggung, Prajurit Patangpuluh, Prajurit Mantrijero, dan Prajurit Jagakarya. Perbedaannya mudah dilihat dari celana dan kaus kaki. Prajurit Ketanggung menggunakan celana hitam. Prajurit Patangpuluh menggunakan celana merah. Prajurit Mantrijero dan Jagakarya sama-sama menggunakan celana bermotif lurik, namun Prajurit Mantrijero menggunakan kaos kaki putih sedang Prajurit Jagakarya menggunakan kaos kaki hitam/biru tua.

Pakaian prajurit keraton memang telah kehilangan fungsi praktisnya dalam peperangan. Hal ini sesuai dengan fungsi prajurit keraton yang sebelumnya sebagai kesatuan militer berubah menjadi pengawal kebudayaan. Walau demikian, simbol-simbol yang diwakili oleh pakaian dan atribut yang dikenakan oleh prajurit keraton tidak lantas pudar. Watak ksatria yang dimiliki oleh prajurit keraton diharapkan tetap dipegang teguh oleh para prajurit dan dapat dipancarkan kepada masyarakat yang lebih luas.

Rujukan :

1. Mari Condronegoro, 1995. Memahami Busana Adat Kraton Yogyakarta (Cetakan Kedua/Edisi Revisi). Yogyakarta: Yayasan Pustaka Nusatama

2. M. Ricklefs. 2002. Yogyakarta di Bawah Sultan Mangkubumi. Yogyakarta: Matabangsa.

3. RM Pramutomo. 2009. Tari, Seremonial, dan Politik Kolonial (I). Surakarta: ISI Press Solo
_____________. 2010. Tari, Seremonial, dan Politik Kolonial (II). Surakarta: ISI Press Solo