Warisan Sapulidi

205
loading...

Lidi bukanlah hal baru bagi kita semua. Lidi dalam bahasa Bugis disebut “adidi” yaitu sejenis benda  serba guna yang berasal dari tulang daun  kelapa, ijuk, ataupun lontar dan sejenisnya.

Salah satu kegunaan lidi yang paling menonjol adalah karena bersifat lentur dapat dibuat sapu dengan menggabungkan beberapa batang lidi menjadi satu kesatuan, yakni “Sapulidi” dalam bahasa Bugis dianamakan “ Passaring Adidi “

Hingga kini, masyarakat Bugis masih menggunakan sapu lidi sebagai alat pembersih halaman rumah baik di kampung-kampung  maupun sebagian di kota-kota walaupun bermunculan berbagai jenis sapu sebagai alternatif lain namun Sapu Lidi masih unjuk gigi. Sapu lidi digunakan untuk mengumpulkan sampah-sampah yang berserakan.

Kesannya memang selalu bersahabat dengan rasa jijik dan kotor akan tetapi melahirkan sebuah pesona bersih dan nyaman.

Sebatang lidi belum seberapa kekuatan yang ditimbulkan namun setelah digabung menjadi beberapa batang lidi maka akan menjadi kuat.

Dengan dasar ini raja Bone I Manurunge ri Matajang  menggunakan “Konsep Sapulidi”? untuk mempersatukan kembali rakyat Bone yang pada masa itu terjadi keadaan yang tak menentu (sianrebale).

Konon, Seorang Ayah sedang menghadapi detik-detik akhir hidupnya tiba-tiba memanggil semua anak-anaknya untuk mendekat.

Kemudian menatap satu demi satu anak-anaknya, lalu berpesan “ Anak-anakku yang kucintai dan kusayangi, kepadamu semua tak satupun ayah perlakukan selaku anak manis, kalian semua kubesarkan dan kubimbing serta kuberikan sesuatu secara adil dan merata.

Hidup ayah selama ini hanya untuk mengabdikan diri untuk kepadamu semua wahai anak-anakku, harta yang ada sekarang ini cukup menghidupi kalian”.

Anak-anaknya merasa gembira, dalam hati masing-masing, terbayang ayahnya akan membagi harta warisan. Sesaat, kemudian sang ayah melanjutkan pesannya “ Anak-anakku yang tercinta.

Hidup ini adalah perjuangan, suka dan cita harus dilalui. Apakah kalian menyayangi ayahmu ?” Serentak anak-anaknya menjawab “ Kami semua sangat mencintai dan menyayangi ayah dan apa yang dipesankan ayah, maka kami  siap menerima apapun keputusan dari ayah”.

Anak-anaknya semakin merapat dan masing-masing membayangkan pembagian warisan. “ Terima kasih anak-anakku, ternyata kalian semua anak yang baik”.

Sang ayah sangat bahagia mendengar pernyataan anak-anaknya. Tetapi sebagian anak anaknya merasa gelisah mengapa sang ayah belum juga  membagi cepat harta yang ada.

“ Harta itu hanya titipan Tuhan untuk kehidupan dunia sedangkan  budi baik adalah titipan sepanjang hidup di dunia yang bermuara di akhirat”. Anak-anaknya semakin gelisah menunggu pembagian warisan.

Kemudian sang ayah dengan suara mulai terputus-putus melanjutkan “  Demi kebahagiaan dan kebersamaan kalian maka harta yang ada sekarang ini, ayah wakafkan kepada fakir miskin dan satu-satunya harta paling berharga yang dapat ayah wariskan kepada kalian adalah sebuah S…A…P…U…L…I…D…I “. Sang ayahpun  pun menghembuskan nafas terakhir.

Kisah di atas menunjukkan, bahwa apabila ayahnya mewariskan harta seperti tanah dan sejenisnya maka akan menjadi sumber perpecahan bagi anak-anaknya kelak. Dan warisan sapulidi menunjukkan, bahwa sang ayah mengharapkan anak-anaknya tetap bersatu setelah meninggal.

Warisan Sapulidi itu memiliki nilai tersirat  ternyata mampu menyatukan anak-anaknya.

Konsep Sapulidi bagi bangsa Bugis  dianalogikan sebagai :
1.Siattinglima (Saling berpegangan tangan) yakni untuk mengangkat dan memikul beban yang berat dapat menjadi ringan apabila dilakukan secara bersama-sama;

2.Sitonraola (Sependapat dan berjalan searah) yakni : untuk memutuskan sebuah masalah akan lebih baik bila disepakati secara bersama-sama;

3.Sipakainge (Saling mengingatkan) yakni : Tidak ada manusia yang tak luput dari kesalahan dan kekhilapan maka sebaiknya saling menasihati;

4.Siparappe (Saling membantu) yakni : Dalam kehidupan ini tak ada mahluk yang dapat hidup sendiri-sendiri tanpa bantuan mahluk lain, maka manusia sebagai mahluk sosial maka sebaiknya saling terhubung dan saling membantu satu sama lain.

5.Tessipano (Tidak saling menjatuhkan) yakni diantara sesama manusia tak ada yang saling menjatuhkan maka sebaiknya saling menghargai;
6.    Tessibelleang (Tidak saling menghianati) yakni apabila sudah disepakati dan telah diputuskan bersama-sama maka sebaiknya dipatuhi putusan itu.

Konsep tersebut di atas menurunkan  TEORI SAPULIDI ? (red) dianalogikan sebagai analis SWOT yang diaplikasikan menjadi sistem Manajemen Partisipatif.

Di kalangan bangsa Bugis Teori Sapulidi telah menjadi “Petuah atau  Pesan” tak ternilai bagi generasinya hingga sekarang ini dan bahkan di masa-masa akan datang.

Oleh karena itu salah satu ciri khas Bangsa Bugis adalah kemampuannya menjaga harkat dan martabat leluhurnya dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan di manapun mereka berada serta tetap menjalin kesatuan antar sesama.