Tak ada orang yang menginginkan musibah datang menimpa dirinya. Sayangnya musibah bisa datang kapan dan dimana saja tanpa terduga.

Hal tersebut tentu atas kehendak Allah SWT. Meski kita tak bisa menolak apapun yang telah ditetapkan oleh Allah, sebagai umat muslim kita dianjurkan untuk berdoa dan memohon keselamatan dari segala musibah.

Salah satu caranya ialah dengan melantunkan doa tolak bala agar terhindar dari segala macam bencana, musibah, malapetaka dan berbagai hal buruk lainnya.

Berikut doa tolak bala yang bisa dilantunkan:

Ya Allah, dengan kebenaran fatihah dan dengan rahasia yang terkandung dalam fatihah,

Ya Allah Tuhan Yang melapangkan kedudukan dan Yang menghilangkan kesedihan,

Ya Allah Tuhan Yang Maha kasih sayang kepada hambanya,

Ya Allah, Tuhan Yang menghindarkan bala,

Ya Allah Tuhan Pengasih Yang menolakkan bala,

Ya Allah, Tuhan Yang Maha Penyayang Yang menjauhkan bala, tolakanlah dari kami malapetaka, bala, bencana, kekejian dan kemungkaran, sengketa yang beraneka, kekejaman dan peperangan, yang tampak dan yang tersembunyi,

Ya Allah, bukalah bagi kami pintu kebaikan, pintu keberkahan, pintu kenikmatan, pintu rezeki, pintu kekuatan, pintu kesehatan, pintu keselamatan, pintu afiyah, dan pintu surga.

Kita berharap melalui doa tolak bala agar Allah menjaga kita dan masyarakat dari segala macam musibah baik lahir maupun batin. Doa tolak bala berisi permohonan keselamatan kepada Allah daripada segala bencana dan ujian di dunia, serta siksa di akhirat.

Pada suku Bugis, salah satu bentuk tolak bala yang sering dilakukan adalah ritual Massuro Mabbaca. Silakan baca dan cermati tulisan ini sampai tuntas.

Indonesia memiliki suku yang sangat beragam, dengan suku yang beragam berarti Indonesia juga memiliki tradisi-tradisi kebudayaan yang beragam pula.

Di setiap daerah, tradisi-tradisi tersebut juga memiliki berbagai macam tata cara
pelaksanaannya, atau juga bisa berbeda dari segi tempat pelaksanaannya. Ada juga di suatu daerah yang memiliki tata cara pelaksanaan yang hampir sama, namun istilah yang di gunakan berbeda.

Manusia merupakan makhluk yang berbudaya, melalui akalnya manusia dapat mengembangkan kebudayaan. Begitu pula manusia hidup dan tergantung pada
kebudayaan hasil-hasil ciptaannya.

Manusia dalam mengemban amanah kebudayaan, tidak dapat melepaskan diri dari komponen-komponen kehidupan yang juga merupakan unsur-unsur pembentuk kebudayaan yang bersifat universal, seperti: bahasa, sistem teknologi harian, sistem mata pencaharian, organisasi sosial, sistem pengetahuan religi dan kesenian.

Manusia memerlukan suatu bentuk keyakinan dalam hidupnya karena keyakinan akan melahirkan tata nilai guna menopang hidup budayanya. Dengan keyakinan yang sempurna, hidup manusia tidak akan ragu. Keyakinan yang benar haruslah bersumber dari nilai yang benar.

Kebudayaan adalah perwujudan dari sebuah renungan, kerja keras dan kearifan masyarakat dalam mengarungi dunianya. Kebudayaan yang menjadikan suatu masyarakat memandang lingkungan hidupnya dengan bermakna.

Sebagian orang beranggapan bahwa ekonomi, politik, teknologi, religi dan sebagainya termasuk unsur-unsur kebudayaan. Namun, pemahaman seperti ini tidak mengungkap lebih dalam apa yang dikandung oleh kebudayaan walaupun sebenarnya terdapat kebudayaan yang terkandung di dalamnya.

Oleh karena itu, maka kebudayaan adalah kerangka persepsi yang penuh makna dalam struktur dan perilaku. Nilai budaya adalah tingkatan tertinggi dan paling abstrak dari adat istiadat. Oleh sebab itu nilai budaya terdiri dari konsep-konsep mengenai segala sesuatu yang dinilai berharga dan penting oleh warga suatu masyarakat, sehingga dapat berfungsi sebagai suatu pedoman orientasi pada kehidupan para warga masyarakat yang bersangkutan.

Dalam setiap masyarakat, baik yang kompleks maupun yang sederhana, ada sejumlah nilai budaya yang saling berkaitan dan bahkan telah merupakan suatu sistem. Pedoman dari konsep-konsep ideal, sistem itu menjadi
dorongan yang kuat untuk mengarahkan kehidupan warga masyarakat.

Dalam jiwa manusia terdapat keindahan yang melekat secara utuh, naluri yang tertanam akan budaya ataupun kebudayaan, segala bentuk yang membuat manusia itu hidup tertata dalam masyarakat adalah budaya itu sendiri yang dimana setiap manusia wajib melestarikan budaya demi kesejahteraan dalam hidup bermasyarakat.

Dengan melestarikan budaya, diyakini mampu mencerminkan jatidiri bangsa Indonesia yang bersumber terhadap keselarasan jiwa setiap masyarakatnya, untuk itulah manusia yang ideal harus menganggap budaya sebuah hal yang intens.

Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat konkret, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupannya.

Di daerah manapun kebudayaan itu berada dan apapun jenis kebudayaannya pasti dibangun oleh unsur-unsur kebudayaan termasuk unsur religi atau kepercayaan karena unsur tersebut menunjukan sifat universal dan menyeluruh yang dimilki oleh setiap kebudayaan.

Tradisi yang mewarnai corak hidup masyarakat Bugis tidak mudah diubah walaupun setelah masuknya Islam sebagai agama yang di anutnya. Budaya masyarakat Bugis setelah masuknya Islam itu terjadi pembauran dan penyesuaian antara budaya yang sudah ada dengan budaya Islam itu sendiri.

Budaya dari hasil pembauran inilah yang bertahan sampai sekarang sebab dinilai mengandung unsur-unsur budaya Islam di dalamnya. Setelah Islam diterima sebagai agama oleh masyarakat Bugis, maka unsur
pangngadereng yang sebelumnya hanya empat kini menjadi lima unsur dengan sara’ (syari’at Islam) sebagai tambahan untuk melengkapi dan menyempurnakan unsur budaya lokal tersebut.

Islam datang dan dianut masyarakat Bugis bukan berarti tidak ada kepercayaan sebelumnya yang dianut dan dipercayai seperti halnya agama Islam setelah diterima baik oleh masyarakat. Namun, melainkan telah ada sebelumnya kepercayaan-kepercayaan seperti kepercayaan terhadap arwah nenek moyang, kepercayaan terhadap dewa-dewa patuntung, dan kepercayaan pada pesona-pesona jahat.

Tradisi-tradisi kebudayaan yang ada di Tana Bugis begitu banyak, ada yang bertentangan dengan ajaran Islam, namun ada juga tradisi yang mengikuti ajaran-ajaran Islam, walaupun di dalamnya tidak menutup kemungkinan seratus persen semuanya tidak mengikuti ajaran agama Islam, seperti tradisi Mattula’ bala.

Mungkin ada sebagian orang yang beranggapan, bahwa tradisi mattula’ bala itu adalah tradisi yang menyekutukan Allah SWT, tapi ada juga beberapa tokoh masyarakat yang berpendapat bahwa tradisi tersebut adalah bentuk rasa syukur terhadap Sang Maha Pencipta.

Tradisi Mattula’ bala seperi Massuro Mabbaca pada suku Bugis ini dilaksanakan jika telah melakukan sebuah nazar, misalnya apabila berhasil dalam sebuah usaha. Apabila ingin membayar nazar tersebut melakukan Massuro Mabbaca.

Mattula bala dalam prosesnya menyiapkan bahan-bahan seperti pisang. Namun tidak semua pisang bisa digunakan dalam ritual ini, pisang yang bisa digunakan misalnya pisang Ambon bisa juga Utti Manurung.

Kemudian pisang tersebut disiram dengan air dan dinaikkan ke atas loyang besar. Di atas loyang itu pun ada perlengkapan salat, seperti sajadah, pakalu (mukena). Tidak lupa setiap pisang ujungnya dibuang. Selain itu, ada juga dupa, dan gula pasir.

Tradisi Massuro Mabbaca tidak hanya dilakukan setelah bernazar, tapi juga pada saat acara kematian, misalkan orang meninggal tersebut telah meninggal lebih dari tujuh hari maka masyarakat Bugis biasanya melaksanakan acara Mattampung, yaitu emberi jirat dan nisan pada makam pada waktu yag telah di tentukan.

Biasanya dalam melaksanakan acara mattampung tersebut menyembelih sapi, kambing, atau ayam. Tapi belum bisa ke makam memberikan jirat dan nisan apabila belum Massuro Mabbaca.

Dalam tradisi Massuro Mabbaca tersebut, cara pelaksanaannya tidak begitu rumit. Hanya membuat beberapa jenis makanan yang memang menjadi syarat dalam tradisi massuro mabbaca. Namun ritual ini pun tidak bisa begitu saja lepas dari kehidupan masyarakat, karena ini merupakan warisan dari nenek moyang.

Dalam ritual Massuro Mabbaca, pihak yang didoakan biasanya menyiapkan sajian makanan yang memiliki filosofi luas. Misalnya Onde-onde, Baje, Lapisi, dan lain-lain. Jenis kue ini sangat identik dengan tepung, gula merah, dan kelapa yang dianggap sebagai filosofi kehidupan yang sejahtera.

Juga sering dihidangkan makanan seperti nasi putih, beras ketan, lengkap dengan lauk seperti ayam, ikan, telur dan air putih. Makanan ini melekat filosofi kehidupan yang berkecukupan dan Mapan.

Pada umumnya tokoh agama dan masyarakat Bugis berpandangan, bahwa Massuro Mabbaca ini tidak dilarang oleh masyarakat penyebar Islam terdahulu, bahkan menganjurkan agar ritual Massuro Mabbaca ini tetap dilakukan dijaga dan dilestarikan

Dalam pelaksanaanya, mereka hanya merubah doa-doa yang sebelumnya bercorak Animisme (kepercayaan nenek moyang) dan bernuansa kepercayaan lokal diganti dengan doa yang sesuai tuntunan Al-quran dan Hadits. Doa-doa tolak bala, kalimat-kalimat kesyukuran, dan doa untuk orang mati versi sebelumnya diubah dengan versi yang bernuansa Islam.

Tidak semua orang bisa menjadi pabbaca, hanya yang benar-benar dianggap bisa menyampaikan rasa syukur kepada Allah SWT, seperti Imam Desa, tokoh agama yang dianggap sebagai guru di kampung tersebut.

Seperti diketahui, Animisme adalah suatu kepercayaan tentang realitas jiwa. Di mana kepercayaan terhadap Animisme mengalami perkembangan sejalan dengan perkembangan masyarakat. Menurut paham Animisme, arwah leluhur juga mempunyai struktur sosial sebagaimana halnya dengan manusia.

Namun, jangan sampai sebuah kepercayaan membawa pada kesyirikan terhadap Allah SWT. Sebagaimana Firman Allah:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang
dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh
ia telah berbuat dosa yang besar.”

Dari ayat tersebut mengajarkan hikmah, yaitu perkataan tegas dan benar yang dapat membedakan antara hak dengan yang bathil terutama dalam praktik kebudayaannya.

Oleh karena itu, budaya tradisi Bugis dengan budaya Islam diramu menjadi satu bagian yang utuh yang tidak bisa dipisahkan dalam adat Bugis. Dalam tradisi Massuro Mabbaca terdapat unsur kepercayaan kepada Tuhan.

Pada proses pelaksanaan tradisi Massuro Mabbaca masih terdapat praktik-praktik budaya pra-Islam, yaitu budaya lokal masyarakat yang telah disandingkan dengan budaya Islam. Hal ini, disebabkan karena Islam masuk, tidak serta-merta menghapus budaya yang sudah ada sebelumnya. Namun, menyesuaikan dengan keadaan masyarakat tersebut sehingga budaya lokal ke dalam budaya Islam terdapat penyesuaian dalam pelaksanaannya.

Pengertian Tradisi Massuro Mabbaca

Secara etimologi atau studi kata,Massuro Mabbaca berasal dari bahasa Bugis, yaitu kata Massuro berarti meminta, sedangkan Mabbaca berarti membaca.

Jadi Massuro Mabbaca diartikan sebagai usaha seseorang untuk meminta orang lain untuk membacakan doa-doa keselamatan dan kesyukuran serta doa untuk orang yang meninggal dunia. Hal ini didorong dengan kesadaran seseorang atas kurang dalamnya ilmu agama yang dimiliki.

Biasanya orang yang diminta mabbaca adalah orang yang diangap punya ilmu agama yang dalam, rajin menjalankan syariat, serta punya hubungan sosial yang baik kepada masyarakat.

Dengan demikian acara Tula’ bala seperti Massuro Mabbaca sudah menjadi tradisi bagi suku Bugis. Tradisi adalah segala sesuatu seperti adat, kepercayaan, kebiasaan ajaran dan sebagainya yang turun temurun dari nenek moyang.

Tradisi itu menjadi bagian dari hasil kreasi manusia Bugis dalam mengembangkan
potensi yang dimilikinya sebagai mahkluk ciptaan Allah SWT di muka bumi. Dalam
menjalankan fungsinya sebagai khalifah manusia mengatur kehidupannya
berdasarkan aturan dari agamanya demi terwujudnya hidup yang diridhai-Nya.

Begitu pula dalam menjalin hubungan dengan sesama makhluk berdasarkan petunjuk dan tuntunan agama, sehingga segala bentuk aktivitasnya baik berupa adat-istiadat, norma, kebiasaan atau tradisi harus sejalan dengan syariat. Hal tersebut terungkap dalam konsep pangadereng orang Bugis, yakni ade, bicara, rapang, wari, dan sara.

Dalam pandangan Bugis, tradisi dan agama harus sejalan beriringan sehingga tidak terjadi ketimpangan yang menyebabkan tradisi itu keluar dari aturan agama.

Dalam konteks penyebaran Islam khususnya di Sulawesi Selatan, tradisi yang merupakan bagian dari kebudayaan masyarakat diramu dengan cermat, cerdas dan proporsional.

Para penyiar agama Islam menjadikan media tradisi sebagai salah satu strategi dalam membumikan ajaran Islam dengan menggunakan berbagai macam pendekatan sesuai kebiasaan masyarakat.

Dengan melalui proses asimilasi, maupun akulturasi budaya maka agama Islam di Sulawesi Selatan dapat dikembangkan tanpa menghilangkan nilai-nilai tradisi lokal, bahkan memberi muatan-muatan keislaman terhadap nilai-nilai tradisi yang sudah ada dan memperkaya pemaknaannya dalam masyarakat.

Bahkan, jika para Ulama menyebar Islam tanpa mengakulturasikan budaya, maka Islam tidak akan diterima dan tidak akan menjadi agama mayoritas di Indonesia saat ini.

Tradisi Tula’ bala seperti Massuro Mabbaca merupakan usaha yang dilakukan masyarakat Bugis untuk menghadirkan tokoh agama atau tokoh adat untuk membacakan doa-doa tertentu sebagai upaya untuk menolak bala yang dianggap kapan saja bisa menyerang seperti wabah penyakit, angin buting beliung, banjir dan lain sebagainya. Ritual ini juga sering dilakukan sebagai bentuk kesyukuran atas apa yang diperoleh.

Massuro Mabbaca tidak dilarang oleh
tokoh-tokoh masyarakat Islam terdahulu, bahkan menganjurkan agar ritual tersebut
tetap dilakukan dan dijaga. Dalam praktiknya mereka hanya merubah doa-doa yang sebelumnya bercorak Hindu, Budha dan berbau kepercayaan lokal dengan doa yang sesuai dengan tutunan Al-quran dan Hadits.

Seperti sudah dijelaskan sebelumnya, bahwa doa-doa tolak bala, kalimat-kalimat
kesyukuran, dan doa untuk orang mati versi sebelumnya dirubah dengan versi yang
bernuansa Islam. Begitu pula makanan yang disajikan mempunyai simbol dan filosofi tersendiri.

Adapun makna simbol yang disiapkan dalam prosesi Massuro Mabbaca, yaitu:

1. Pisang:
Dalam melaksanakan Massuro Mabbaca ada beberapa jenis pisang yang sering digunakan, yaitu : Pisang Manurung, bermakna semoga Allah SWT senantiasa menurunkan segala rahmat-Nya.Sedang Pisang Ambon, bermakna agar kita diberi umur yang panjang oleh Allah SWT.

2. Onde-onde:
Kue onde-onde ini bermakna agar jiwa kita senatiasa baik dalam lahir maupun batin.

3. Kue Apang:
Kue ini berarti tidak kenapa-kenapa yang maknanya agar orang yang melaksanakan Massuro Mabbaca tersebut tidak terkena musibah dan selalu dalam lindungan-Nya.

4. Benno Ware’ (beras goreng):
Dalam acara tersebut benno ditaburkan ke mobil, maknanya agar tidak pecah misalnya pada saat mobil kecelakaan semoga pengemudi selamat, dan kalaupun cedera tidak terlalu parah.

5. Dupa:
Dupa memiliki asap dengan aroma sangat wangi yang bermakna agar kita selalu merasakan aroma-aroma positif dalam kehidupan kita.

Demikian makna yang terkandung dalam tradisi Massuro Mabbaca yang selalu dilakukan pada masyarakat Bugis. Di mana simbol-simbol tersebut memiliki makna yang baik. Adapun dari pelaksanaan tradisi tersebut tetap menurut pada aturan-Nya dan tidak ada maksud lain.

Namun, ketika Islam datang, prosesi ini mengalami sinkretisme atau berbaur dengan budaya Islam. Bahkan Islam sebagai agama
mayoritas suku Bugis telah mengamini prosesi ini

Tradisi Massuro Mabbaca diperbolehkan selama dalam prosesnya tidak memiliki niat untuk menyekutukan Allah SWT, apalagi sampai percaya bahwa makanan yang kita baca itu sampai kepada nenek moyang kita akan mendatangkan rezeki, padahal yang mendatangkan rezeki itu jua Allah SWT.

Adapun mengapa harus ada sajian makanan hanya sebagai simbol rasa syukur kita kepada Allah SWT yang telah mendatangkan
rezeki. Selain itu dalam acara tula’ bala seperti massuro mabbaca sekaligus fungsi berbagi terhadap sesama dan silaturahmi.