Mimpi Soeharto di Tanah Bugis

1355

Tepatnya Desa Paccing, Kecamatan Awangpone, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, di tengah persawahan berdiri sebuah tugu yang disebut Tugu LAPPO ASE. Monumen tersebut diresmikan langsung oleh Presiden Soeharto, pada Rabu 26 Agustus 1981. Tugu ini dibangun sebagai bukti prasasti bahwa Desa Paccing pernah terjadi suatu peristiwa Nasional.

Bone salah satu kabupaten di Sulawesi Selatan yang pernah diimpikan sebagai lumbung padi nasional oleh Presiden Soeharto. Ketika itu presiden RI ke-2 ini mencanangkan awal pembangunan pertanian Indonesia yang dimulai di Kabupaten Bone.

Pada masa itu, Bone yang dikenal memiliki cara bercocok tanam unik, sehingga menjadi perbincangan nasional. Kala itu Petani Bone menerapkan cara tanam padi yang dikenal dengan “Tandur Jajar”.

Cara tanam tandur jajar, yaitu tanam padi dengan mengatur jarak tanam di mana antara barisan tanaman diberi jarak yang agak lebar, sehingga ada barisan kosong antara barisan tanaman, namun tidak mengurangi jumlah rumpun per satuan luas bahkan bisa lebih banyak.

Nah, atas dasar itu, Presiden Soeharto bersama Ibu Siti Hartinah Soeharto (Ibu Tien) melakukan kunjungan kerja di Desa Paccing, Kecamatan Awangpone, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan dalam rangka Panen Raya Operasi Lappo Ase (OLA) artinya Operasi Gudang Beras, pada Rabu, 26 Agustus 1981.

Dalam Buku “Jejak Langkah Pak Harto 29 Maret 1978-11 Maret 1983”, hal 459. di situ dituliskan, kedatangan Kepala Negara dan rombongan disambut meriah oleh masyarakat setempat dengan upacara adat. Masyarakat Bone pun tumpah ruah menyambut kehadiran Kepala Negara. Suharto disambut dengan tari Padduppa, yaitu semacam tarian penjemputan.

Dalam sambutannya sambil mengenakan Songkok To Bone, Presiden menyatakan rasa bangga dan berterima kasih kepada para petani di Kabupaten Bone karena produksi beras kita dapat terus ditingkatkan dengan angka yang benar-benar mengesankan.

Dikatakannya bahwa tingkat produksi yang tinggi ini adalah hasil jerih payah para petani dengan bantuan para pembinanya. Presiden juga mengingatkan, bahwa peningkatan produksi beras itu bertujuan untuk menaikkan taraf hidup kaum tani yang merupakan lapisan terbesar masyarakat Indonesia.

Menurut Presiden Suharto, dengan meningkatnya penghasilan petani berarti bertambah besar pula daya beli masyarakat kita. Besarnya daya beli ini berarti pasaran yang bertambah luas bagi produksi industri dan produksi lain-lainnya yang berarti bertambah luasnya kegiatan ekonomi.

Suksesnya pembangunan pertanian merupakan kunci penting dari keberhasilan pembangunan Indonesia secara keseluruhan khususnya masyarakat Bone itu sendiri.

“Sesuai dengan GBHN maka dalam Repelita III ini kita harus berusaha keras agar dapat mencukupi kebutuhan pangan menuju swasembada” kata pak Harto.

Lanjut Presiden, dengan perbaikan para petani akan meningkat pula harkat dan martabat serta kesejahteraan rakyat Indonesia yang umumnya tinggal di perdesaan.

“Dengan peningkatan produksi pangan, maka impor pangan dapat dikurangi, dan peningkatan produksi pangan juga berarti perbaikan penghasilan berjuta-juta petani,” kata Presiden.

Presiden Soeharto menyatakan keyakinannya bahwa dengan melaksanakan sebaik-baiknya Panca Usaha Tani dan Intensifikasi menjadi peluang untuk menaikkan produksi pangan yang akhirnya terwujudnya tekad kita untuk berswasembada pangan.

Lanjutnya, “Operasi Lappo Ase di Bone ini telah membuktikan dan meningkatkan produksi, beras, walaupun daerah ini masih merupakan daerah tadah hujan” Pada kesempatan itu, Presiden Suharto bangga dan berterima kasih kepada orang Bone.

Sampai saat ini Desa Paccing Kecamatan Awangpone Kabupaten Bone di tengah persawahan berdiri sebuah tugu yang disebut TUGU LAPPO ASE. Tugu ini dibangun sebagai bukti prasasti bahwa Desa Paccing yang berjarak 7 km dari kota Watampone ini pernah terjadi suatu peristiwa/kegiatan Nasional.

Semoga tulusan ini dapat memotivasi kita semua khususnya warga petani Kabupaten Bone untuk kembali memikirkan langkah terbaik setidaknya mempelajari kembali cara bertani yang baik seperti yang dilakukan petani pada pemerintahan di masa lalu.

Fakta di lapangan, dewasa ini demikian banyak biaya produksi tidak sebanding hasil yang diperoleh. Para petani sudah meninggalkan cara-cara lama padahal lebih unggul dan efisien baik dari sisi biaya maupun hasil panen yang diperoleh.

Dibandingkan sekarang ini yang didukung teknologi canggih seperti traktor yang notabene hanya mempercepat pekerjaan/pengolahan sawah akan tetapi minim hasilnya.

Bahkan celakanya, makin banyaknya penggunaan unsur kimia seperti pupuk turut andil tanah pertanian menjadi kurus dan mandul. Tanah persawahan tidak lagi gembur, tanah menjadi pekat, cacing tanah semakin punah akibat penggunaan bahan kimia berlebihan. Bukankah cacing tanah menggemburkan tanah?.

Meskipun Suharto telah tiada, namun jejaknya masih ada di Bone dan sejatinya tugu Lappo Ase bisa menjadi reinspirasi kepada kita semua untuk meraih kembali kesuksesan itu.