Membangun Museum Bawah Laut Teluk Bone

243

Museum bawah laut layaknya sebuah museum yang ada di darat. Jika museum di darat diisi benda-benda yang masih asli, tetapi dilaut diisi dengan benda-benda replika.

Replika adalah sebuah salinan yang sama persis dengan bentuk dan fungsi dari alat, barang atau lainnya.

Replika biasanya digunakan untuk tujuan ilmu pengetahuan dalam bidang sejarah, dan biasanya disimpan di dalam museum kadangkala alat atau benda aslinya tidak pernah dibuat.

Replika juga dibuat untuk berbagai macam tujuan misalnya, untuk souvenir atau barang dagangan dan membuat replika bawah laut guna kepentingan pariwisata.

Menikmati pemandangan bawah laut berupa hewan laut atau terumbu karang mungkin sudah biasa. Bagaimana bila kita berwisata ke museum yang ada di bawah laut?

Apabila perairan Teluk Bone ditilik seksama bisa dimanfaatkan selain menikmati keindahan terumbunya, dapat diperluas dengan menambah semacam replika sebagai menu pilihan. Laut Teluk Bone yang membiru itu bisa dibangun istilahnya memindahkan museum bawah laut.

Museum bawah laut tersebut bisa diisi berbagai replika seperti patung Arung Palakka, Songkok To Bone, dan lainnya. Bahkan replika Bone dapat dibuat di sini. Dengan begitu akan menjadi pilihan bagi penyelam (diving) sebagai tempat tujuan wisata bawah laut.

Membangun replika bawah laut bukan lagi hal baru bagi kebanyakan negara maritim seperti Indonesia. Seperti Wisata alam di Kepulauan Seribu mengundang banyak wisatawan. Salah satu yang menjadi magnetnya adalah keeksotisan bawah lautnya. Selain itu pengunjung dapat menemui replika Tugu Monas.

Pengunjung dapat menemuinya dengan melakukan penyelaman di sekitar Pulau Pramuka, salah satu pulau di Kepulauan Seribu. Untuk mencapai titik tempat Monas berada, pengunjung harus menaiki kapal kayu untuk menuju tengah laut.

Kemudian harus menyelam sedalam 15 meter di titik tersebut. Di sana, pengunjung akan melihat tugu Monas dengan ketinggian sekitar 2,5 meter berdiri tegak. Lokasi ini biasa digunakan sebagai salah satu spot foto menarik para penyelam.

Kemudian, di sekitar Monas juga dapat melihat stupa-stupa yang mulai menjadi tempat tinggal biota laut. Kemudian tak jauh dari stupa, ada juga bangunan-bangunan replika piramida yang mulai menjadi tempat tinggal belut Moray.

Demikian juga Museum “Alley of Leaders” diciptakan pada 1992 oleh Vladimir Broumenskyy. Vladimir sendiri merupakan seorang penyelam scuba yang berasal dari Donetsk.

Sejarah museum ini berawal saat Uni Soviet runtuh. Waktu itu, ada sisa-sisa patung para pemimpin yang dipaksa turun dari posisinya. Kemudian, sisa-sisa patung tersebut dibawa ke Moskow dan ditempatkan di “Park of the Fallen Heroes”.

Sementara itu, Vladimir mengumpulkan sisa reruntuhan patung dan membawanya ke Cape Tarkhankut untuk ditenggelamkan ke dasar laut.

Patung yang bisa kita lihat di sana, antara lain Felix Dzerzhinsky Edmundovich (negarawan Uni Soviet keturunan Polandia), Vladimir Ilyich Ulyanov Lenin (revolusioner komunis Rusia dan politisi), Yuri Gagarin (pilot dan manusia pertama yang melakukan perjalanan ke luar angkasa), Buddha yang sedang tersenyum, dan masih banyak lagi.

Museum di dasar laut ini sangatlah unik dan layak untuk dikunjungi. Meski harus menyelam sampai ke dasar laut dengan usaha yang tak mudah, museum ini tak pernah sepi pengunjung.

Kabupaten Bone salah satu daerah yang timurnya dikelilingi laut yakni Teluk Bone memungkinkan dibangunnya museum bawah laut. Dengan begitu wisatawan yang suka keindahan laut dapat menjangkau tempat itu dengan pendampingan Dive Master.