Puisi Panjang Pahlawan Merdeka

120

Puisi pahlawan menjadi salah satu hal yang sangat menginspirasi untuk mengenang sejarah kemerdekaan negeri ini. Perjuangan para kesumah sangatlah besar untuk melawan para penjajah, bahkan hingga titik penghabisan mereka tak kenal menyerah demi membela bumi pertiwi.

Nah, dengan mengungkapkan rasa cinta dan sayang kita terhadap pahlawan mari kita wujudkan dengn memberikan sebuah puisi tentang pahlawan. Hal ini bisa kita jadikan sebua bukti nyata bahwa kita menghargai usaha para pahlawan.

JIka bukan karena mereka, kita tidak akan merasakan rasa damai yang telah kita rasakan saat ini. Merekalah yang mempunyai peran yang besar dan bisa memberikan kebahagiaan untuk anak cucu kita sekarang ini. “Biar tubuhku tertawan, hatiku pantang menyerah kepada kompeni” kata La Pawawoi Pahlawan Bugis.

Berpuluh tahun yang lalu dia terbaring
Tetapi bukan tidur, sayang
Sebuah lubang peluru bundar di dadanya
Senyum bekunya mau berkata, kita sedang perang

Dia tidak ingat bilamana dia datang
Kedua lengannya memeluk senapan
Dia tidak tahu untuk siapa dia datang
Kemudian dia terbaring, tapi bukan tidur sayang

Wajah sunyi setengah tengadah
Menangkap sepi padang senja
Dunia tambah beku di tengah derap dan suara merdu
Dia masih sangat muda

Hari itu hujan pun mulai turun
Orang-orang ingin kembali memandangnya
Sambil merangkai karangan bunga
Tapi yang nampak, wajah-wajahnya sendiri yang tak dikenalnya

Berpuluh tahun yang lalu dia terbaring
Tetapi bukan tidur, sayang
Sebuah peluru bundar di dadanya
Senyum bekunya mau berkata : aku sangat muda.

Kabut … Dalam kenangan pergelokan bumi
Pertiwi
Mendung … Pertanda hujan deras
Membanjiri asa yang haus kemerdekaan
Dia dan semua yang ada menunggu keputusan
Sakral …

Serbu …
Merdeka atau mati … Allah Akbar …
Tintahmu terdengar kian merasuk dalam jiwa
Dalam serbuan bambu runcing yang menyatu

Kau teruskan bunyi-bunyi ayat cinta
Kau teriakan semangat juang demi negeri
Kau relakan menahan terpaan belati
Untuk ibu pertiwi.

Kini kau lihat…
Merah hitam tanah keralhiranmu
Pertumpahan darah para penjajah keji
Gemelutmu tak kunjung reda
Lindung-Nya selalu di hatimu
Untuk kemerdekaan Indonesia abadi

Maafkan kami, Pahlawanku
Kamilah generasi mudamu, Pahlawanku
Kamilah ujung tombak perjuangan kini
Di tangan kamilah setir nakhoda kami arahkan
Tuk berjuang di antara karam dan gelombang

Namun, maafkan kami pahlawanku
Jika dengan tangan ini terkadang kami corengkan noda
Kami habiskan masa muda ini untuk berfoya
Kami isi waktu kami dengan hal sia-sia

Di lubuk hati ini kami menangis
Ada dari kami yang menyalahi amanah
Jadi pemimpin yang kadang semena-mena
Dan memutuskan hal dengan tak adil

Kami, memang menodai jerih generasi muda lain
Mereka begitu getol berjuang untuk maju
Mereka begitu gigih menyingkir dari kenistaan
Kamipun ingin kembali dalam lintasan itu

Pahlawanku, Kan Ku Jaga Negeri Kita
Kemerdekaan negeri ini bukanlah hadiah
Kau raih dengan darahmu yang telah tumpah
Merah Putih itu kini telah berdiri gagah
Tanpa seorangpun berani mengubah

Pahlawanku, kan ku jaga negeri kita
Ku curahkan jiwa dan raga tuk Indonesia tercinta
Ku bangun dan ku isi kemerdekaan ini
Dengan penuh upaya meski tak seberapa

Pupus Raga Hilang Nyawa
Napak tilas para pahlawan bangsa
Berkibar dalam syair sang saka
Berkobar dalam puisi negeri
Untuk meraih Cita-cita merdeka

Napak tilas anak bangsa
Bersatu dalam semangat jiwa
Bergema di jagat nusantara
Untuk meraih prestasi dan karya

Merdeka …
Kata yang penuh dengan makna
Bertakhta dalam raga pejuang bangsa
Bermandikan darah dan air mata

Merdeka …
Perjuangan tanpa pamrih untuk republik tercinta
Menggelora di garis khatulistiwa
Memberi kejayaan bangsa sepanjang masa

Merdeka …
Harta yang tak ternilai harganya
Menjadi pemicu pemimpin bangsa
Untuk tampil di Era dunia

Pahlawanku
Bagaimana Ku bisa
Membalas Jasa-jasamu
Yang telah kau berikan untuk bumi pertiwi

Haruskah aku turun ke medan perang
Haruskah aku mandi berlumuran darah
Haruskah aku tersusuk pisau belati
Aku tak tahu cara untuk membalas
Jasa-jasamu

Engkau relakan nyawamu
Demi suatu kemerdekaan yang mungkin
Tak bisa kau raih dengan tanganmu sendiri
Pahlawanku engkaulah bunga bangsa

Kami bisa nikmati kemerdekaan ini
Kami mampu menyaksikan kedamaian di seluruh penjuru negeri
Kami dapat menggapai cita dan asa kami
Kami begitu sadar inilah buah perjuanganmu

Pahlawanku, kami bangga meski kau tiada
Kemerdekaan yang kami nikmati ini
Fasilitas dan teknologi canggih ini

Ada bukan karena kami, tapi ini karena kalian
Kami heningkan cipta untuk jerih payahmu
Tak ada yang bisa kami persembahkan
Kecuali sebatas upaya
Tuk lanjutkan asamu yang tinggi menjulang…

Kau melebur di sana
Di permulaan musim gerhana
Yang terselubung aroma darah
Dan tanah yang berembun air mata

Kau melebur di sana
Kala sang surya mengelupaskan kulit kami
Hingga kawanan peluhmu yang siaga
Menghalau kepulan debu
Yang mengepung dari negeri asing

Kau melebur di sana
Saat air bah berlarian
Memanjati hamparan tanah usang
Dengan jeritan malang
Serta busung lapar

Kau melebur di sana
Saat air mata telah mengguruh menjadi telaga..
Hingga timba yang kau ayunkan..
Menandaskan kepingan dahaga..
Yang merintih di setiap gigir luka kami..

Suara derap langkah sepatu besar terdengar hingga seantaro medan perang
Kau berbegas maju menghardik musuh dengan garang
Sepucuk pistol kau bidikkan ke arah lawan
Hingga musuh tumbang tak mampu lagi bertolak pinggang

Kau lirikkan kedua matamu pada musuh
Dengan sigap kau arahkan lagi pistolmu ke arah tentara musuh
Namun sayang, desiran granat meledak dahsyat
Tepat di depan langkah terakhirmu

Sang pahlawan terguncang degan dahsyat
Tubuh tercabik berlumuran darah merah
Wajahmu hampir-hampir tak lagi dapat dikenali
Disaat terakhirmu kau bisikkan satu kata terindah yakni “merdeka”

Dengan gagah engkau berdiri di hadapan ribuan rakyat
Dengan semangat nasionalisme yang begitu kuat
Memproklamirkan kemerdekaan NKRI yang berdaulat
Terlepas dari jeratan dan cengkraman penjajah jahat

Lantang suaramu keras menggelegar
Memecahkan kebekuan dada semua rakyat yang mendengar
Menularkan semangat tak pernah gentar
Membuat hati penjajah menjadi gempar..

Soekarno, engkaulah sang proklamator kemerdekaan
Sungguh pribadi sepertimu sangat di dambakan
Menyambungkan lagi putusnya harapan-harapan
Untuk merdeka dan terlepas dari kemerdekaan

Soekarno, namamu terukir begitu mewah
Gambarmu terpampang begitu megah
Monumenmu terbangun begitu gagah
Kenangan tentangmu tersimpang begitu indah

Indonesiaku menangis
Bahkan Tercabik-cabik
Dengan hebatnya pengusaanya sang korupsi
Tak peduli rakyat menangis

Kesejahteraan jadi angan-angan
Keadilan hanyalah jhayalan
Kemerdekaan telah terjajah
Yang tinggal hanya kebodohan

Indonesiaku, Indonesia kita bersama
Jangan hanya tinggal diam kawan
Mari kita bersatu ambil peranan
Sebagai pemuda untuk perubahan

Mengapa engkau bawa padaku
Moncong bayonet dan sangkur terhunus
Padahal aku hanya ingin merdeka
Dan membiarkan Nyiur-nyiur derita
Musnah di tepian langit

Karena kau memaksaku
Bertahan atau mati
Dengan mengirim ratusan Bom
Yang engkau ledakkan di kepalaku
Aku terpaksa membela diri

Pesawat militermu jatuh
Di tusuk bambu runcingku
Semangat perdukaanmu runtuh
Kandas di batu-batu cadas

Engkau korbankan waktumu
Demi bangsa
Rela kau taruhkan nyawamu
Maut menghadang di depan
Kau bilang itu hiburan

Tampak raut wajahmu
Tak segelintir rasa takut
Semangat membara di jiwamu
Taklukkan mereka penghalang negeri

Hari-hari mu di warnai
Pembunuhan dan pembantaian
Dan dihiasi bunga-bunga api
Mengalir sungai darah di sekitarmu
Bahkan tak jarang mata air darah itu
Yang muncul dari tubuhmu
Namun tak dapat
Runtuhkan tebing semangat juangmu

Bambu runcing yang setia menemanimu
Kaki telanjang yang tak beralas
Pakaian dengan seribu wangian
Basah di badan keringpun di badan
Yang kini menghantarkan indonesia
Kedalam istana kemerdekaan

Sejarah tak pernah bohong yang ingkar generasinya. Jangan pernah lupakan sejarah. Bangsa yang keropos adalah bangsa yang mencaci sejarahnya.