Guru dan Runtuhnya Moral Indonesia

215

Pahlawan adalah orang yang sangat berjasa, berani dan penuh pengorbana demi bangsa, negara dan agama. Dengan gagah berani, merka rela mempertaruhkan nyawanya demi memperthankan kemerdekaan bangsa Indonesia.

Mungkin banyak orang yang kurang memahami dengan adanya kemerdekaan ini. Kemerdekaan yang dirasakan ini bukan sekadar merdeka saja namun bagaimana menyikapi pengorbanan besar untuk mendapatkan hal itu.

Seorang pahlawan menjadi peran yang sangat penting bagi negara tercinta ini. Dengan keringat dan darah yang ditumpahkan demi negara, beliau-beliau mampu membuka belenggu Belanda dan Jepang.

Mereka berjuang tidak bermodal senjata api melainkan hanya bermodal dengan bambu runcing untuk mengusir penjajah. Begitu besar jasa pahlawan untuk kehidupan yang kita kecap saat ini, dengan begitu kita patut untuk memberikan apresiasi penuh untuk mereka.

Rasa semangat yang tertanam pada diri seorang pejuang perlu kita berikan sebuah penghargaan yang lebih. Seperti slogan Ir. Soekarno ” JAS MERAH ” dari sloga tersebut kita harus bisa memahami secara dalam.

Makna dari slogan tersebut, yaitu kita sebagai warga negara Indonesia jangan sampai melupakan sejarah. Sejarah yang maksud tersebut adalah sejarah yang telah diberikan dari seorang pejuang demi negara kita.

Dengan rasa yang bernasionalisme kita wajib menghargai hasil jerih payah seorang pahlawan kita. Salah satu wujud nyata yang bisa kita lakukan sekarang ini adalah dengan membuat tutur kata

Kenapa kok puisi ? Karena memang pada hakikatnya puisi mengandung banyak makna yang tersirat. Dengan adanya puisi hati kita bisa terenyuh ketika mendengarnya.

Banyak puisi-puisi yang bertemakan dengan pahlawan, yang pasti dari banyaknya puisi bertema dengan pahlawan mempunyai makna yag sangat luar biasa.

Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

Siapakah yag dimaksud dengan pahlawan tanda jasa ? mungkin dari kita semua sudah tidak asing dengan istilah ini. Guru adalah salah satu pahlawan yang juga mempunyai peran besar untuk negara kita ini.

Jika kita mau mengingat masa lalu seorang guru berjuang membebaskan rakyat Indonesia dari kebodohan di tengah segala keterbatasan media, fasilitas, dan penjajahan. Tanpa adanya guru kta mustahil bisa tahu dengan adanya seperti ini dan itu.

Bayak upaya yang sudah diberikan guru untuk kita, beliau merelakan waktunya untuk mendidik warga supaya tidak kalah dengan negara lainnya.

Dengan semangatnya yang tertanam dalam dada, terkadang beliu hingga lupa dengan tanggung jawab yang ada di rumah. Anak, isteri, dan suami beliau tinggalkan demi murid yang ada di sekolah namun apalah terkadang seorang murid meremehkan hal tersebut.

Meskipun begitu seorang guru tak patah semangat untuk selalu memberikan ilmu kepada muridnya. Jika kalian pernah dengar lirik lagu Himne Guru, pasti kalian terharu. Dalam lirik lagu Himne Guru menggambarkan guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa.

Demikian liriknya: “Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru…terima kasihku tuk pengabdianmu. Engkau sebagai pelita dalam kegelapan. Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan. Engkau patriot pahlawan bangsa tanpa tanda jasa”.

Semua kata dalam Himne Guru ini mengandung makna begitu dalam untuk menggambarkan guru sebagai pahlawan yang tidak mengenal tanda jasa. Memang menggeluti profesi sebagai guru tidaklah mudah. Guru mempunyai tanggung jawab besar dalam membentuk Sumber Daya Manusia.

Untuk itu, diperlukan pengorbanan yang begitu besar walau dengan jasa yang tidak begitu besar. Tidaklah menjadi hal yang berlebihan jika guru yang mengerjakan tugasnya dengan penuh tanggung jawab disebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa.

Sebagai wujud kasih sayang kita terhadap guru mari kita berikan sebuah penghargaan spesial untuk beliau. Puisi menjadi salah satu alternatif kita untuk mewujudkan rasa kasih sayang kita terhadapa seorang pahlawan tanpa jasa tersebut.

Jika dunia kami yang dulu kosong
tak pernah kau isi
Mungkin hanya ada warna hampa, gelap
tak bisa apa-apa, tak bisa kemana-mana

Tapi kini dunia kami penuh warna
Dengan goresan garis-garis, juga kata
Yang dulu hanya jadi mimpi

Kini mulai terlihat bukan lagi mimpi
Itu karena kau yang mengajarkan
Tentang mana warna yang indah
Tentang garis yang harus dilukis
Juga tentang kata yang harus dibaca

Terimakasih guruku dari hatiku
Untuk semua pejuang pendidikan
Dengan pendidikanlah kita bisa memperbaiki bangsa
Dengan pendidikanlah nasib kita bisa dirubah
Apa yang tak mungkin kau jadikan mungkin

Hanya ucapan terakhir dari mulutku
Gempitakanlah selalu jiwamu
wahai pejuang pendidikan Indonesia
Walau getir regangkan jiwa ragamu

Pahlawan tanpa tanda jasa itu
Ialah Guru
Yang mendidik ku
Yang membekali ku ilmu
Dengan tulus dan sabar

Senyummu memberikan semangat untuk kami
Menyongsong masa depan yang lebih baik
Setitik peluhmu
Menandakan sebuah perjuangan yang sangat besar
Untuk murid-muridnya

Perjuanganmu sangat berarti bagiku
Tanpamu ku tak akan tahu tentang dunia ini
Akan selalu ku panjatkan doa untukmu
Terimakasih Guruku

Andai kata matahari tiada
Dunia akan beku dan bisu
pelangi tiada akan pernah terpancar
kehidupan tiada akan pernah terlaksana

Disaat titik kegalauan menghampiri
Terlihat setitik cahaya yang kami cari
Yang nampak dari sudut-sudut bibirmu
Dan gerak-gerik tubuhmu

Engkau sinari jalan-jalan kami yang buntu
Yang hampir menjerumuskan masa sepan kami
Engkau terangi kami dengan lentera ilmu mu
Yang tiada akan pernah sirna di terpa angin usia

Engkau pahlawan yang tak pernah mengharapkan balasan
Disaat kami tak mendengarkan mu
Engkau tak pernah mengeluh dan menyerah
Untuk mendidik kami

Darimu kami mengenal banyak hal
Tentang mana warna yang indah
Tentang garis yang harus di lukis Juga tentang kata yang harus dibaca
Engkau membuat hidup kami berarti

Tiada kata yang pantas kami ucapkan
Selain terima kasih atas semua jasa-jasa mu
Maafkan kami bila telah membuatmu kecewa
Jasa-jasa mu akan kami semat abadi sepanjang hidup kami
Terimakasih guruku

Di antara dua, aku harus memilih
Entah satu baik atau buruk
Aku tak bisa berdiri di antara keduanya
Dan aku menentukannya

Di antara dua, aku harus masuk
Entah satu mudah atau sulit
Aku tak bisa bergelut di antara keduanya
Dan aku meratapinya

Di antara dua,aku harus berjuang
Entah satu manis atau pahit
Aku tak berhenti meraih satunya
Dan aku tak ingin kalah

Di antara dua, aku harus memilih
Entah satu baik atau buruk
Aku tak bisa berdiri di antara keduanya
Dan aku menentukannya

Di antara dua, aku harus masuk
Entah satu mudah atau sulit
Aku tak bisa bergelut di antara keduanya
Dan aku meratapinya

Di antara dua,aku harus berjuang
Entah satu manis atau pahit
Aku tak berhenti meraih satunya
Dan aku tak ingin kalah

Guru Pejuang Di Zaman Ini
Guru… Kau adalah
Pejuang Yang siap membentengi kami
Demi untuk kecerdasan bangsa ini

Kau latih kami untuk kuat
Kau ajari kami untuk menang
Kau bimbing kami untuk menuju sukses

Kau marah saat kami menyerah
Kau kecewa saat kami gagal
Tapi kau bahagia saat kami menang Guru…

Perjuanganmu sungguh mulia
Kau rela mengorbankan semuanya
Demi kami anak-anak bangsa

Engkau pahlawan yang tak pernah mengharapkan balasan
Disaat kami tak mendengarkan mu
Engkau tak pernah mengeluh dan menyerah
Untuk mendidik kami

Darimu kami mengenal banyak hal
Tentang mana warna yang indah
Tentang garis yang harus di lukis
Juga tentang kata yang harus dibaca
Engkau membuat hidup kami berarti

Tiada kata yang pantas kami ucapkan
Selain terima kasih atas semua jasa-jasa mu
Maafkan kami bila telah membuatmu kecewa
Jasa-jasa mu akan kami semat abadi sepanjang hidup kami
Terimakasih guruku, engkau pahlawan ku

Enkau membimbing ku setiap hari
Setiap waktu dan setiap saat hatimu sunguh mulia
Enkau adalah orang tua ku yang ke2 dalam hidup ku

Setiap hari Kau curahkan ilmu
Untuk bekalku nanti
Engkau adalah patriot pahlawan bangsa
Terima kasih guruku karena
Enkau lah aku menjadi pintar
Enkau ku sebut
Pahlawan tanpa tanda jasa

Guru Maafkanlah
Butiran air mata kami saat ini
Mungkin tidak seberapa dan tak begitu berarti apa-apa
Karena yang lebih berarti adalah
Butiran air hujan yang sangat deras
Yang kau hadapi
Kau Lewati
Dan kau lalui dengan penuh hati ikhlas
Semua itu kau lakukan hanya untuk kami

Panasnya suasana saat ini
Mungkin tidak seberapa dan tak begitu berarti apa-apa
Karena yang lebih berarti adalah
Panas teriknya matahari yang terpancar
Yang kau hadapi
Kau Lewati
Dan kau lalui dengan penuh hati sabar
Semua itu kau lakukan hanya untuk kami

Namun, Sedih yang kau rasakan saat ini
Mungkin tidak seberapa dan tak begitu berarti apa-apa
Karena yang lebih berarti adalah
Betapa sedihnya kami saat ini
Ketika semua jasa mulia yang kau berikan
Tak bisa kami lalui dengan penuh balas budi
Guruku maafkanlah kami.

Guru ku … Guru ku … kini saatnya
Engkau tidak disegani lagi
Fatwah mu hilang
Gugu dan tiru mu lenyap
Ditelan bobroknya peradaban

Generasi Muda adalah generasi penerus bangsa ini. Pemudalah tongkat estafet perjuangan dan pembangunan bangsa ini akan diberikan ke depan. Di tangan merekalah kelak nasib bangsa ini akan ditentukan. Apakah bangsa ini akan terus bertahan dan semakin maju ataukah sebaliknya, bangsa ini akan hancur dan binasa, semua tergantung bagaimana akhlak mereka kelak.

Perkembangan teknologi, maraknya suatu trend yang mengakibatkan semua perubahan itu terjadi, oleh karena itulah kaum muda khususnya remaja ingin lebih mengenal satu sama lain tak dengan caranya sendiri dengan cara memperbaiki diri meliputi penampilan dan sikapnya, khususnya dengan peran budaya. Tanpa kecuali, budaya asing yang telah meracuni bangsa kita ini.

Rusaknya generasi muda saat ini ditandai dengan mulai lunturnya nilai-nilai moral yang di awali dari hilangnya budaya malu. Karena hilangnya budaya malu ini, para generasi muda saat ini tidak segan-segan untuk mencoba hal baru seperti rokok, minuman keras dan narkoba.

Tidak hanya itu, hilangnya budaya malu ditambah dengan minimnya pendidikan agama membuat generasi muda kita tidak malu lagi memakai pakaian tidak pantas. Bukan hanya itu saja, mereka pun tidak malu lagi untuk melakukan perilaku tidak pantas bahkan dengan bangga memperlihatkan dan memperagakan perilaku tidak tidak senonoh.

Masuknya budaya asing tanpa adanya upaya pencegahan yang serius oleh PEMERINTAH mengakibatkan banyaknya budaya asing negatif yang masuk ke negara ini dan jelas-jelas budaya ini tidak cocok, dan cederung merugikan karena telah merusak moral generasi muda.

Bagaimana tidak, hal tersebut mempengaruhi gaya trend kaum muda masa kini yang terlalu terpesona oleh dunia entertrainer . Hal itu dapat menjadikan perubahan negatif terhadap ahlak kaum muda.

Berikut beberapa faktor mempengaruhi perkembangan kaum muda yang berakibat runtuhnya moral, yaitu:

1. Pengaruh lingkungan.

Pengaruh lingkungan, layaknya lingkungan rumah, sekolah, tentuk akan berdampak dalam pembentukan karakter moral itu sendiri.

2. Perkembangan Teknologi.

Dampak globalisasi teknologi memang dapat memberikan dampak positif tetapi tidak dapat dipungkiri lagi bahwa hal ini juga dapat berdampak negatif bagi kerusakan moral.

3. Rendahnya Keimanan.

Sekuat apapun iman seseorang, terkadang mengalami naik turun. Ketika tingkat keimanan seseorang menurun, potensi kesalahan terbuka. Hal ini sangat berbahaya bagi moral, Jika dibiarkan tentu membuat kesalahan semakin kronis dan Akan menimbulkan kerusakan moral.

4. Kurangnya kontrol orang Tua

Seorang anak di masa modern sekarang ini sangat membutuhkan arahan, perhatian dari orang tua sangat diperlukan. Karena semakin bertambahnya umur seorang anak akan membuat dia ingin tahu lebih jauh tentang apa yang mereka ingin ketahui.

Dengan berkembangnya teknologi sekarang dibutuhkanlah orang tua yang dapat mengawasi, mendidik serta memberikan arahan yang baik terhadap anaknya agar anak tersebut tidak mengarah ke hal-hal yang negatif.

5. Kondisi Rumah Tangga

Jika sebuah rumah tangga penghuninya membiasakan akhlak yang baik, maka seorang anak akan ikut terbiasa juga dengan akhlak tersebut. Sebaliknya jika sebuah rumah tangga tidak pernah mengenalkan dan membiasakan akhlak yang baik, maka seorang anak juga akan tidak tahu adab dan ketinggian moral.

6. Perkembangan Media Massa

Salah satu masalah yang sangat serius dan mengkhawatirkan saat ini adalah munculnya berbagai media massa dan stasiun-stasiun televisi yang beraneka macam dengan menyiarkan acara yang merusak dan cenderung mengajak kepada kerendahan moral. Tidak sedikit masyarakat yang gandrung dan kecanduan dengan seorang artis atau acara tertentu, sehingga dengan tanpa ilmu ikut-ikutan terhadap perilaku mereka yang rendah.

7. Pengaruh Media Sosial

Media sosial mengajak siapa saja yang tertarik untuk berpartisipasi dengan memberi feedback secara terbuka, memberi komentar, serta membagi informasi dalam waktu yang cepat dan tak terbatas. Tidak dapat dipungkiri bahwa media sosial mempunyai pengaruh yang besar dalam kehidupan seseorang. Seseorang yang awalnya kecil bisa menjadi besar dengan media sosial, atau sebaliknya.

Bagi masyarakat khususnya kalangan remaja, media sosial sudah menjadi candu yang membuat penggunanya tiada hari tanpa membuka media sosial. Kalangan remaja yang mempunyai media sosial biasanya memposting tentang kegiatan pribadinya, curhatannya, serta foto-foto bersama teman.

Dalam media sosial siapapun dapat dengan bebas berkomentar serta menyalurkan pendapatnya tanpa rasa khawatir. Hal ini dikarenakan dalam internet khususnya media sosial sangat mudah memalsukan jati diri atau melakukan kejahatan. Padahal dalam perkembangannya di sekolah, remaja berusaha mencari identitasnya dengan bergaul bersama teman sebayanya.

Namun saat ini seringkali remaja beranggapan bahwa semakin aktif dirinya di media sosial maka mereka akan semakin dianggap keren dan gaul. Sedangkan remaja yang tidak mempunyai media sosial biasanya dianggap kuno atau ketinggalan jaman dan kurang bergaul.

Masa remaja menunjukan dengan jelas sifat transisi atau peralihan karena remaja belum memperoleh status dewasa dan tidak lagi memiliki status anak. Hal tersebut sesuai dengan teori perkembangan remaja yang mengatakan bahwa masa remaja merupakan masa perkembangan dalam segala hal. Sehingga menjadi labil atau mudah dipengaruhi merupakan suatu ciri dari remaja sendiri.

Kaum remaja saat ini sangat ketergantungan terhadap media sosial. Mereka begitu identik dengan smartphone yang hampir 24 jam berada di tangan dan sangat sibuk berselancar di dunia online yang seakan tidak pernah berhenti. Apalagi kini untuk mengakses facebook atau twitter dan lainnya bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja hanya dengan menggunakan sebuah mobile phone.

Secara garis besar media sosial bisa dikatakan sebagai sebuah media online, di mana para penggunanya (user) dapat berbagi, berpartisipasi, dan menciptakan akun berupa blog, forum, dan jejaring sosial menggunakan aplikasi berbasis internet yang didukung oleh teknologi Informasi untuk menciptakan ruang dunia virtual.

8. Hilangnya Pamor Guru

Meredupnya pamor guru sebenarnya sudah lama terdengar, namun sejak runtuhnya orde baru semakin menjadi-jadi. Gaungnya makin menggema di era reformasi ini.

Sosok guru menjadi objek yang gampang mengundang perhatian, tanggapan, dan penilaian tersendiri dari berbagai kalangan. Hal ini sangatlah beralasan, sebab gurulah yang berada di garda depan dalam “barikade” pendidikan sebagai pengajar, pembimbing, pelatih, dan pendidik yang langsung bersentuhan dan bergaul dengan peserta didik sehari-hari di sekolah.

Gurulah yang dinilai sangat dominan dalam mewarnai “kanvas” pendidikan. Tidaklah berlebihan jika terjadi sesuatu yang tidak beres dalam gerak dan dinamika pendidikan, orang beramai-ramai menuding guru sebagai biangnya.

Ketika guru mampu menjalankan tugasnya dengan baik, profesional, penuh dedikasi, disiplin, kreatif, inovatif, wibawa, dan mumpuni di bidangnya, orang menganggap hal itu sebagai hal yang biasa, bahkan menjadi sebuah keniscayaan.

Ya, memang seharusnya dalam menjalankan tugas-tugas profesinya, guru harus memiliki landasan idealisme semacam itu.

Namun, ketika sang guru melakukan penyimpangan dan kesalahan sedikit saja, hal itu dianggap sebagai noda dan “dosa” tak terampuni. Gugatan dan hujatan pun terus mengalir nyaris tanpa henti.

Secara jujur memang harus diakui, apresiasi masyarakat terhadap profesi guru pun mulai berkurang. Pamor guru makin meredup di tengah atmosfer peradaban yang gila dan kacau ini.

Gurulah yang harus menanggung beban ketika mutu pendidikan merosot, merebaknya perkelahian antarpelajar, merajalelanya dekadensi moral dan involusi budaya, atau kian keringnya aplikasi nilai-nilai keshalehan hidup di atas panggung kehidupan sosial.

Meskipun demikian, banyak fakta yang bisa diungkap untuk menggambarkan bahwa saat ini profesi guru benar-benar tengah mengalami degradasi nilai yang cukup serius.

Kasus guru disatroni muridnya saat pembagian rapor atau pengumuman kelulusan, stigma guru sebagai pembual dan penjual kecap di kelas, atau kasus guru nyambi yang menelantarkan murid-muridnya, merupakan deret keprihatinan yang layak direnungkan dan dicari penyebabnya, sehingga bisa ditemukan solusinya.

Jika kondisi semacam itu terus dibiarkan, jelas sangat tidak menguntungkan bagi citra dan kredibilitas guru sebagai figur yang dijuluki sebagai “pahlawan tanpa tanda jasa” itu.

Ada beberapa faktor yang bisa menjadi penyebab meredupnya PAMOR GURU, di antaranya :
1.Terjadinya pergeseran nilai, etika, moral, dan budaya akibat kuatnya arus modernisasi dan globalisasi yang melanda masyarakat kita.

Tayangan film yang mengintrodusir adegan-adegan kekerasan, brutal, sadis, dan berbau porno, baik melalui tayangan TV maupun media hiburan yang lain, setidak-tidaknya telah ikut memicu munculnya sikap agresif, sadis, dan brutal, kering dari sentuhan nilai kemanusiaan dan kearifan dalam kepribadian pelajar kita. Imbasnya, mereka tidak peduli lagi batas-batas kesopanan, kesusilaan, dan tata krama, sehingga berakibat pada menurunnya rasa hormat terhadap guru mereka sendiri.

2. Mulai tumbuhnya sikap permisif (serba boleh) di sebagian besar masyarakat kita terhadap segala macam bentuk perilaku kejahatan, amoral, dan anomali sosial. Kasus-kasus semacam penodongan, perampokan, pemerkosaan, korupsi, manipulasi, dan “antek-antek”-nya dinilai sebagai kasus yang wajar terjadi di tengah peradaban gila dan kacau ini.

Akibatnya, masyarakat yang diharapkan dapat menjadi kekuatan kontrol terhadap segala perilaku menyimpang menjadi lemah. Masyarakat hanya sekadar melimpahkan tanggung jawabnya kepada pihak yang berwenang saja. Demikian juga masyakarat kita dalam memandang perilaku menyimpang yang melanda pelajar kita. Masyarakat kita yang pasti tidak semuanya demikian telah menganggap sebagai hal yang galib terjadi jika seorang pelajar merokok atau tidak hormat lagi kepada guru atau orang tua.

3. Masih kuatnya anggapan bahwa guru adalah pribadi yang harus selalu tampil perfeksionis, tanpa cacat dan cela, berbudi luhur dan mulia bagaikan seorang resi yang hidup di sebuah institusi pertapaan tempoe doeloe yang mengabdikan sebagian besar hidupnya untuk kepentingan kemanusiaan tanpa pamrih.

Anggapan semacam itu justru menjadi “bumerang” bagi guru itu sendiri. Mereka jadi serba salah dalam bersikap dan bertingkah laku, sempit ruang geraknya, dan setiap sepak terjangnya selalu berada dalam bingkai sorotan dan pengawasan dari berbagai pihak.

4. Guru dinilai telah gagal menanamkan dan mengakarkan nilai-nilai luhur dan budi pekerti dalam jiwa siswa didik di sekolah sehingga menjadi brutal dan tak bermoral.

Gurulah yang dinilai paling bertanggung jawab terhadap kegagalan itu. Penilaian semacam itu jelas akan menggiring publik luas pada opini bahwa guru bukan lagi sebagai profesi luhur yang senantiasa menjadikan dedikasi, loyalitas, dan berjuang tanpa pamrih sebagai basis pengabdiannya.

5. Memudarnya wibawa guru di mata peserta didik. Banyak pengamat menyatakan bahwa wibawa guru merupakan kata kunci untuk melahirkan generasi yang cerdas secara intelektual, emosional, sosial, dan spiritual.

Pernyataan semacam itu jelas masuk akal sebab jika wibawa guru hilang, mustahil segala macam bentuk penanaman dan pengakaran nilai-nilai yang berlandas tumpu pada ajaran-ajaran luhur dan suci bisa diwujudkan secara riil oleh peserta didik.
7. Tingkat kesejahteraan guru yang dinilai masih timpang jika dibandingkan dengan beratnya beban dan tanggung jawab yang harus dipikulnya. Begitu banyak dituntut administrasi bertumpuk. Alasan klasik inilah yang konon menjadi pemicu banyak guru yang nyambi di luar profesinya untuk menambah penghasilan.

Akibatnya, proses belajar-mengajar jadi kacau dan tersendat-sendat, siswa didik berada dalam kondisi tidak siap belajar, hancur pula pamor sang guru.

Mengingat keberadaan guru begitu penting dan dibutuhkan dalam dunia pendidikan, maka sikap dan tindakan bijak dari berbagai pihak sangat diperlukan dalam menyikapi meredupnya pamor guru.

Di pundak gurulah nasib anak-anak bangsa negeri ini dipertaruhkan. Jangan biarkan kondisi yang tidak kondusif menelikung tugas dan profesi guru. Orang tua, tokoh-tokoh masyarakat, dan pemerintah yang dikenal sebagai pilar penyangga roda pendidikan, harus bersinergi, saling introspeksi, dan senantiasa memiliki “kemauan baik” untuk mengangkat kembali pamor guru.

Paling tidak, ada EMPAT AGENDA penting dan mendesak untuk menyelamatkan pamor guru agar mampu menjalankan kiprahnya sebagai “pencerah” peradaban.

PERTAMA, perlu tindakan tegas terhadap berbagai media hiburan yang menafikan dan menihilkan sisi edukatif sehingga meracuni jiwa dan kepribadian pelajar kita. Tentu saja dengan cara yang arif dan persuasif, tidak dengan cara mengangkat pedang dan brutal yang tidak jauh berbeda dari cara-cara preman. Nihilnya hiburan-hiburan yang menyesatkan, paling tidak, sudah mampu ikut berkiprah membantu guru dalam menanamkan dan mengakarkan berbagai macam nilai kepada siswa didik.

KEDUA, masyarakat harus mampu menjadi kekuatan kontrol terhadap segala macam bentuk tindak kejahatan dan tingkah amoral lainnya, termasuk kenakalan remaja. Hal ini sangat penting dan urgen untuk direalisasikan dalam tataran praksis, sebab anak yang terbiasa hidup dalam lingkungan yang sarat dengan tindak kejahatan, mereka juga akan belajar jadi penjahat.

KETIGA, perlu diciptakan sebuah imaji atau citra bahwa guru adalah manusia biasa yang tidak bisa luput dari khilaf dan dosa. Citra semacam itu justru akan mampu menumbuhkan sikap guru yang manjing-ajur-ajer, adaptif, mengabdi tanpa beban, dan merasa dimanusiawikan. Dus, tak perlu lagi dicitrakan sebagai sosok perfeksionis yang pantang berbuat salah. Ini tidak lantas berarti bahwa guru mesti ditolerir ketika melakukan kesalahan yang melawan hukum.

KEEMPAT, pemerintah jangan bohong dan mesti benar-benar serius dan menepati janjinya yang telah memiliki “kemauan politik” untuk meningkatkan kesejahteraan guru seperti yang tertuang dalam UU No. 14 /2005 tentang Guru dan Dosen. Pemerintah tidak boleh setengah hati, apalagi menyiasatinya dengan Ujian Sertifikasi Guru yang pada kenyataannya justru menimbulkan masalah baru, bukan solusi jitu untuk menaikkan kesejahteraan guru.

KELIMA, Tidak memaksakan dituntutnya administrasi kelas yang bertumpuk seolah hanya menjadi pelengkap pajangan yang tidak ada gunanya.

Di zaman sebelumnya, guru hanya dituntut menguasai bahan ajar serta mendidik muridnya yang berorientasi bukan sekadar materi dan tujuan melainkan yang paling dituntut adalah hasil proses belajar itu sendiri. Selain itu, guru kembali menerapkan psikologi perkembangan anak. Di mana seorang guru harus memahami ilmu pedagogik dan didaktik.