Sejarah Lapangan Merdeka dan Taman Bunga Watampone

557

Lapangan Merdeka sejak zaman La Mappanyukki Raja Bone ke-31 Tahun 1931 awalnya merupakan lappa atau alun-alun kota yang digunakan sebagai tempat melaksanakan pesta kerajaan Hindia Belanda. Adapun luas lapangan merdekar sekitar 1.700 meter persrgi atau 1,7 hektare.

Gubernur Jenderal Hindia Belanda di Sulawesi Selatan pada waktu itu bernama Tuan L.J.J. Karon dan Raja Belanda di Nederland  waktu itu bernama A.C.A. de Graft.

Alun-alun itu digunakan misalnya pesta peringatan kelahiran putri Beatrix, pesta kerajaan Hindia Belanda, serta pesta penyambutan pemerintahan baru Hindia Belanda.

Hindia Belanda atau Hindia Timur Belanda adalah sebuah daerah pendudukan Belanda yang wilayahnya saat ini dikenal dengan nama Republik Indonesia.

Hindia Belanda dibentuk sebagai hasil dari nasionalisasi koloni-koloni Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), yang berada di bawah pemerintahan Belanda pada tahun 1800.

Selanjutnya, Alun-alun kota berganti nama menjadi Lapangan Merdeka, karena di alun-alun inilah tahun 1957 sebagai tempat rakyat kerajaan Bone menyatakan diri bergabung dengan Negara Indonesia. Oleh karena itu disebut Lapangan Merdeka.

Taman Bunga

Taman bunga sejak pemerintahan Raja Bone ke-32 La Mappanyukki tahun 1931 awalnya merupakan hutan kecil yang banyak ditumbuhi pohon jati, cendana, bambu, ketapi/settung, jamblang/coppeng, belimbing, dan jenis tanaman lainnya. Adapun luas taman bunga sekitar 1.193 meter persegi atau 1,2 hektare

Digunakan sebagai tempat berteduh ketika ada pesta kerajaan Hindia Belanda yang dilaksanakan di alun-alun. Bahkan di sinilah tempat berkumpul dan dipayungi Teddung Pulaweng sebelum La Mappanyukki dilantik di Tana Bangkalae.

Selanjutnya taman bunga berganti nama menjadi Taman Arung Palakka pada tahun 2017 pada periode pertama pemerintahan Bupati Bone H.A.Fahsar Mahdin Padjalangi.

Sementara diberi nama Taman Arung Palakka karena di taman itu berdiri patung Arung Palakka yang dibangun tahun 80-an.