Sosok Pembuat Patung Arung Palakka

1754

Patung Arung Palakka yang berdiri di Taman Arung Palakka Watampone dibangun tahun 90-an oleh DR.Dicky Tjandra, M.Sn. Ia perupa kelahiran Makassar, 28 Agustus 1956. Ia juga yang membuat miniatur Arung Palakka tahun 80-an.

Patung Arung Palakka, Karya Dicky Tjandra

Ketika membagun patung Arung Palakka, mengaku banyak mengalami pengalaman mistik, baik secara sadar maupun melalui mimpi. Sehingga kadang harus membongkar pasang apabila bentuk tubuh dan lengan, serta tombak tidak sesuai.

Bahkan menurutnya sudah ratusan patung dibuat baru kali ini mengalami banyak sugesti dan hal-hal mistik. iya, itu Patung Arung Palakka di Bone. Jadi proses pembuatan patung Arung Palakka banyak menerima petunjuk dan campur tangan Tuhan.

Ia punya penampilan khas dengan rambut sebahu dan memutih. Masih berstatus dosen tetap di Fakultas Seni dan Desain Universitas Negeri Makassar. Walaupun aktivitasnya saat ini bolak-balik antara kota Makassar dan Jogyakarta.

Pria berdarah Bugis ini, ibunya masih keturunan Bugis dari Pompanua Bone, sedang ayahnya masih keturunan Belanda. Dicky termasuk seniman generasi Rahman Arge dan pendiri-pendiri lainnya Dewan Kesenian Makassar (DKM).

Ia mengaku lebih punya ruang berkarya yang lebih baik di Yogyakarta ketimbang di kota Makassar. Sekarang ini sastra dan teater lebih tumbuh baik. Tapi seni rupa justru tidak ada perkembangan.

Dicky juga mantan Kepala Sub Direktorat New Media Art di Kementerian Pariwisata dan Kebudayaan. Ia juga kadang mengkritisi perkembangan seni rupa nasional yang banyak menggiring seniman untuk menciptakan sebagai suatu pesanan yang disenangi ‘pasar’, akhirnya memengaruhi orientasi berkarya perupa.

Kecenderungan perupa selalu memulai dari teks, bukan berasal dari pikiran yang diwujudkan sebagai teks dalam istilah semiotika semua unsur yang tampak sebagai simbol. Dan teks itu akibat saja, yang kita harus lakukan mengggali dari pikiran saja.

Ia berkilah kecenderungan yang dilakukan kurator seni rupa di Indonesia justru mencari teks-teks mana yang laku di pasar, tidak menggali pikiran. Lalu ia memberi solusi bahwa perupa seharusnya berorientasi pada konteks yang melahirkan teks-teks tersebut.

Sederhananya, Dicky Tjandra ingin orientasi perupa dalam berkarya adalah pada cara berpikir yang melahirkan pikiran bukan pada pikiran tersebut.

Seniman yang sempat meraih Honorary Certificate dari “China Changchun International Sclupture Conference” dan juara dua Olympiade Seni Rupa di China ini memang konsen dengan patung. Sejak meniti pendidikan S1 di kampus ISI Yogyakarta.

“Dosenku Imajinasiku” karya Apesyam

Ia sudah mengantarkan banyak karyanya dalam forum-forum internasional, sebuah patungnya menjadi salah satu koleksi Taman Patung Dunia Chang-chun China, sebuah karya patungnya berjudul “Pohon Kehidupan”

Dari ratusan karya yang ia hasilkan, selalu memasukkan elemen tubuh manusia. Seperti karya patung bertema lingkungan, berjudl “Diujung Jari” dan sebuah patung mirip kepala budha yang berambut jari-jari dan pernah dipamerkan saat Makassar Bienalle yang memakai elemen manusia.

Ia sangat suka sama elemen tubuh manusia terutama jari, tangan, kepala, dan telinga, yakni membuat elemen manusia subyek yang punya predikat, misalnya tangan yang menggengam pisau itu bisa ditafsir sebagai pembunuh misalnya.

Ia juga berkarya di luar negeri. Di China berjudul “Ying Yang” patung yang berbahan fiberglass itu berbentuk tangan atas yang mengangkat bawah dan dibedakan tangan putih dan tangan hitam.

Didapat dari simbol Ying Yang ini secara langsung diartikulasikan pada manusia yang selalu diperhadapkan pada persoalan dualisme yang saling bertentangan, benar dan salah.

Dicky melihat, terkait karyanya Ying Yang bahwa kebenaran yang kita pilih itu tidak lepas dari campur tangan Tuhan di dalamnya. Salah satu muridnya yang ada di Bone saat ini, yaitu Apesyam guru seni rupa salah satu SMA di Kota Bone. Bahkan untuk menghargai sang guru, maka Apesyam pun melukis “Dosenku Imajinasiku”