Konsep Destinasi Pariwisata Berbasis Lokal di Kabupaten Bone

335

Konsep Destinasi Pariwisata Berbasis Lokal (DIPABEL) sebagai instrumen manajemen diperlukan dalam sistem pembangunan destinasi pariwisata.

Destinasi pawisata adalah suatu geografi atau wilayah tertentu yang di dalamnya terdapat produk wisata baik layanan maupun unsur pendukung lainnya seperti pelaku industri pariwisata, masyarakat, dan pengembang yang membentuk sinergitas yang dapat memotivasi kunjungan sehingga wisatawan memiliki pengalaman kunjungan di tempat itu.

Oleh karena itu, pariwisata bukan sekadar ladang bisnis semata tetapi menjadi ajang memperkenalkan diri bagi setiap daerah di kancah nasional dan Internasional. Dengan demikian seyogianya setiap wisatawan yang berkunjung ke suatu daerah akan mengingat atau menangkap setiap hal yang ditemuinya di daerah tersebut bahkan turut serta mempelajarinya.

Terlebih lagi jika hal yang ditemui wisatawan sesuatu yang baru dan sangat berkesan. Jika hal itu merupakan sesuatu yang sangat berkesan, maka akan sulit dilupakan. Dengan demikian setiap wisatawan yang berkunjung ke suatu daerah akan memaknai hal yang dianggap paling berkesan itu sebagai ciri khas atau identitas dari suatu daerah tersebut.

Seperti kita lihat, Bone terkenal kepitingnya, songkok to Bone, seni, budaya, serta produk ciri khas lainnya. Kesemuanya itu dapat menjadi produk pariwisata.

Untuk mencapai kesuksesan itu sudah barang tentu dibutuhkan tata kelola destinasi wisata berbasis lokal sangat diperlukan, yaitu partisipasi masyarakat, komitmen, tangggung jawab, sinergitas, serta peningkatan peran dan fungsi stakeholder.

Keberlanjutan destinasi pariwisata ditentukan oleh kompetensi dan kualitas produk wisata serta kapasitas pengelolaan destinasi pariwisata itu sendiri. Penguatan tata kelola destinasi berbasis lokal tetap memperhatikan keseimbangan dengan muatan dimensi ekonomi, estetika, etika, dan budaya yang di arahkan untuk terwujudnya pembangunan bidang kepariwisataan Kabupaten Bons berbasis nilai kearifan lokal.

Tata Kelola Dipabel

Tata kelola pariwisata seyogianya mendorong berbagai prakarsa untuk meningkatkan kualitas pengelolaan dan daya saing destinasi pariwisata. Rendahnya kualitas pengelolaan destinasi pariwisata indikatornya dapat dilihat dari sejumlah praktik tata kelola yang belum berjalan secara optimal karena besaran perolehan pariwisata yang masih rendah.

Konsep Destinasi Pariwisata Berbasis Lokal (DIPABEL) sebagai perwujudan prinsip tata kelola untuk memecahkan persoalan pelik mengenai sinergi, tanggung jawab, kolaborasi, dan kualitas serta daya saing destinasi pariwisata.

Hakikatnya destinasi pariwisata terbentuk dari konstruksi ruang, sosial, budaya, lingkungan, dan sumber daya pariwisata yang saling terkait dan saling melengkapi dalam rangka menciptakan pengalaman pariwisata.

Oleh karena itu, pengembangan destinasi dilakukan melalui berbagai intervensi dari sejumlah stakeloder untuk meningkatkan intensitas aktivitas pariwisata.

Berbagai upaya untuk membangun daya saing dapat dilakukan melalui (pengetahuan lokal), yaitu, daya saing ditentukan oleh bagaimana “pengetahuan lokal” itu dapat ditrasnformasikan dan diberi penilaian sehingga menjadi ide/gagasan dalam konteks, sehingga menjadi pengetahuan (knowledge).

Pada akhirnya, produk unggul sebuah destinasi wisata akan selalu bertumpu pada strategi yang berbasis sumber daya lokal dan berbasis pengetahuan. Oleh karena itu, produk lokal adalah kunci dan perlu dikelola disertai usaha-usaha peningkatan mutu dan kualitasnya yang berkelanjutan tanpa menghilangkan nilai keasliannya.

Konsep Destinasi Pariwisata Berbasis Lokal (DIPABEL) sangat dipengaruhi empat hal, yaitu kondisi, sumber daya, wisatawan, dan stakeholder. Komponen tersebut merupakan kunci kesuksesan sebuah destinasi wisata. Di mana antara komponen yang satu dan lainnya saling bersinergi meskipun manajemen yang berbeda.

Jejaring Dipabel

Setiap daerah di Kabupaten Bone memiliki potensi dan sumber daya yang berbeda. Ada yang didukung sumber daya alam memadai namun minim dengan aspek lainnya. Di sinilah pentingnya membentuk jejaring produk wisata sehingga setiap jejaring terkoneksi antara satu dengan lainnya dan saling menutupi kekurangan yang ada.

Oleh: Mursalim