Sejarah Maccera Arajang di Alitta Pinrang

329

Alitta adalah desa di kecamatan Mattiro Bulu, Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan, Indonesia. Dahulu Alitta merupakan salah satu kerajaan di kawasan Ajatappareng (bagian barat sulawesi selatan).

Ajatappareng adalah sebuah kawasan di bagian barat Sulawesi Selatan yang meliputi wilayah historis dari persekutuan lima kerajaan kecil: Sidenreng, Suppa, Rappang, Sawitto, dan Alitta.

Persekutuan lima kerajaan ini dibentuk pada abad ke-16 sebagai respons terhadap meningkatnya pengaruh Gowa-Tallo di Sulawesi bagian selatan serta merespon pengaruh Tellumpoccoe yang melibatkan tiga kerajaan Bugis, yakni Bone, Wajo, dan Soppeng) di timur Sulawesi Selatan.

Salah satu tradisi masyarakat Alitta Ajatappareng yang masih dipertahankan, yaitu Maccera’ Arajang. Acara adat ini mulai dilaksanakan sekitar tahun 60-an terselenggara secara turun temurun di kalangan masyarakat Alitta. Maccera Arjang ini awalnya diprakarsai Arung Alitta yang ke-3 La Massora.

Adapun daftar Raja-raja Alitta, yaitu:
1. We patteteng tana Cella (We Cella), Arung
2. La Gojeng, Arung Alitta dan Arung Arateng.
3. La Massora, Arung Alitta (Suami bidadari dan Cikal bakal kisah Sumur manurung Lapakkita).
4. We tenriLEkke, Arung Alitta.
5. Petta Moppangnge, Arung Alitta.
6. We Cella, Arung Alitta.
7. We pasa Ma’Balancae, Arung Alitta,Arung belawa, Arung Bulu Cenrana.
8. La Pamessangi (Petta I Kulua, matinroe ri Kulua) Arung Alitta, Datu Suppa, Arung Belawa Orai.
9. La Pattasi, Arung Alitta (Pengalihan kekuasaan dari Gowa ke Bone).
10.To Dani, Arung Alitta,Datu Suppa, Addatuang Sawitto,Addatuang sidenreng, Datu Citta.
11.Karaeng Galingkang (Arung Ajattappareng)
12.La Toware Arung Alitta, Datu Suppa.
13. We Tasi Arung Alitta, Arung Ganra (Soppeng).
14. La Posi Arung Alitta
15. To Sibengngareng (Petta Mabbola Batue), Arung Alitta.
16. We Mappalewa, Arung Alitta
Muhammad Saleng. Arung Alitta, Arung Sijelling (Calabai Tungke’Na Alitta}.
17. We Cinde, Arung Alitta dan Addatuang Sawitto.
18. La Cibu, Arung Alitta dan Addatuang Sawitto.
19. We Cella Tenripaddanreng (Sitti Aisyah) Arung Alitta (di peristri oleh Sultan Husein Karaeng Lembang Parang Somba di Gowa)
20. I Pangoriseng Bau Tode Petta Alitta, Arung Alitta (Putra raja Gowa).
21. La Bode, Arung Alitta (Di angkat oleh Belanda menjadi raja).

Kalau di Bone disebut Mattompang Arajang sedang Maccera Arajang di Alitta dilaksanakan 5 tahun sekali. Biasanya dana yang digunakan berasal dari swadaya warga Alitta berupa uang ataupun beras yang sudah ditetapkan nominalnya dan beberapa donatur yang masih menjujung tinggi adatnya dengan memberikan bantuan agar kegiatan tersebut bisa terselenggara.

Adapun proses pelaksanaan ritual Maccera Arajang diawali, rombongan masyarakat adat dengan pakaian khas Bugis beranjak dari rumah Kepala Desa Alitta menuju tempat penyimpanan Arajang kerajaan Alitta.

Sarung dan Selendang Bidadari yang ditandu

Sebelumnya mereka telah menjemput Sanro Wanua secara adat yang nantinya akan diarak keliling desa oleh 4 orang dengan menggunakan walasuji bersama dengan warga yang diiringi irama musik tradisional. Sanro Wanua yang memimpin prosesi Maccera Arajang di rumah adat dan di Sumur Manurung Lapakkita.

Alitta merupakan salah satu dari lima kerajaan konfederasi Ajatappareng yang dulunya membentuk sebuah kekuatan untuk membentengi kekuatan militer Goa.

Berbeda daerah lain seperti Bone maupun Luwu, Arajang di Alitta berupa PAKAIAN dan SELENDANG yaitu milik BIDADARI yang pernah menjadi istri Arung Alitta ketiga La Massora.

Dalam lontara’ Alitta pun mendeskripsikan kisah mereka dan begitu juga tutur yang dipecayai oleh warga setempat. Adapun ceritanya sepeti berikut :

Setiap malam Jumat La Bolong (Asu/Anjing peliharaan La Massora) tidak pernah pulang ke rumah, barulah ketika malam Sabtu La Bolong baru kembali. Anehnya La Bolong selalu pulang dengan aroma harum dan itu sudah berlangsung selama beberapa pekan sehingga membuat ia penasaran.

Hal itu pun ia sampaikan kepada para penjaga dan masyarakat Alitta hingga cerita itu menyebar. Di tempat yang lain tepatnya hutan di gunung yang masih wilayah Alitta, Lato-lato’e pangonrang manu kale’na La Massora (penjaga ayam hutan La Massora) mendengar suara ana’dara (perempuan) beserta percikan air dan gongngongan anjing.

Rasa penasaran pun menggerakkan ia melangkahkan kaki untuk mencarinya. Ketika ia menemukan asal suara itu, ia melihat tujuh perempuan “dalam lontara Alitta dituliskan anak bidadari” sedang mandi dan bermain air dengan La Bolong,

Tempat itu dinamakan Bujung Pitue “tujuh buah sumur kecil kira-kira besar mulut sumur seperti piring makan. Dengan wajah kaget ia bersegera pergi untuk mencari La Massora guna menyampaikan peristiwa tersebut.

Di siang hari setelah salat Jumat Lato-lato’e menemui La Massora di rumahnya dan menceritakan semua yang ia saksikan. Di masa itu Arung Alitta sudah memeluk agama Islam sekitar abad ke-15.

Lanjut kisah, di hari Jumat berikutnya La Mossora masuk hutan untuk memastikan kebenaran informasi yang ia dapatkan tentang anak bidadari dan anjing peliharaannya. Bersama Lato-lato’e, La Bolong dan beberapa orang pengawal pun sampai di tempat itu dan membuat tempat persembunyian yang strategis menggunakan kayu besar yang ditancapkan ke dalam lubang yang ia buat gangka posi (sedalam pusar), dengan begitu mereka bisa melihat dengan jelas yang di tunggu-tunggunya.

Matahari tepat berada di atas kepala, dari kejauhan terlihat tujuh perempuan yang mendekat menuju Bujung Pitue. Begitu juga dengan La Bolong tiba-tiba berlari ke sana.

Seperti yang dikatakan Lato-lato’e, anjing kesayangan La Massora pernah bersama anak bidadari di sana dan sekarang ia melihat lansung hal tersebut.

Sepertinya keberadaan mereka tercium, salah satu dari anak bidadari mengatakan “dioko magatti nasang engka sedding mabbau tau lino” (cepatlah kalian mandi karena saya mencium aroma manusia di sekitaran ini).

Akan tetapi yang paling bungsu tidak mempedulikan kata-kata itu dan tetap asyik bermain air. Keenam kakanya pun bersegera meninggalkan Bujung Pitue, karena terbawa keceriaan bersama La Bolong, maka si bungsu tidak menyadari bahwa ia telah ditinggal sendiri.

Tanpa menyia-nyiakan waktu, kesempatan inilah yang digunakan oleh La Massora untuk mengambil selendang anak bidadari dan menangkapnya. Dengan bantuan pasukannya anak bidadari ditandu ke perkampungan.

Saat sampai diperkampungan masyarakat Alitta berkumpul di suatu tempat untuk melihat langsung anak bidadari itu. Tempat itu kemudian dinamakan Makkita (melihat) sekarang menjadi La Pakkita.

La Massora kemudian meminta anak bidadari untuk menjadi istrinya. Akan tetapi anak bidadari mengajukan satu syarat, ia ingin dibuatkan sumur khusus karena ia tidak ingin bercampur air yang dipakai untuk mandi dengan manusia. Nah, sumur itu sekarang menjadi situs budaya karena ia berada di kampung yang sudah diberi nama La Pakkita maka namanya mengikuti yaitu Sumur La Lapakkita.

Sedangkan anak bidadari dipanggil We Bungko artinya bungsu. Dari penikahan La Massora dengan We Bungko mereka dikaruniai seorang anak laki-laki, namanya adalah La Baso.

Singkat cerita suatu peristiwa yang tidak pernah diduga oleh La Massora, ketika sang bidadari tiba-tiba Mallajang (menghilang) dan menitipkan pakaian serta selendangnya yang kemudian menjadi Arajang (Kebesaran) di Alitta hingga sekarang ini. (dari berbagai sumber).