Silariang dan Sikontol Panjang

1004

Peristiwa kawin lari bukan hal baru bagi kehidupan manusia di belahan bumi ini. Manusia sebagai mahluk sosial dalam melakukan interaksi antara satu dengan yang lainnya tidak akan lepas dari segala konsekuensi, yaitu suka, benci, dan cinta.

Di mana ketiga konskuensi itu senantiasa berbareng dan seiring yang disebut “sikontol panjang” (situasi, kondisi, toleransi, panjang, dan jangkauan).

Cinta bisa lahir dari segala situasi, ia bisa tercipta dalam semua kondisi. Cinta itu sebuah kesepahaman yang menunjukkan sikap toleransi. Meskipun ia berada pada dimensi jarak antar ujung, namun ia akan menjangkau secara keseluruhan. Itulah kehebatan cinta sesungguhnya.

Ingin cinta dan dicinta adalah sebuah kodrat alamiah yang dimiliki setiap mahluk termasuk manusia. Walaupun sudah menjadi bagian dari kodrat namun tetap membutuhkan “struggle for life” yaitu perjuangan untuk hidup. Meski cinta telah menjadi warisan, agar tetap langgeng memerlukan sebuah usaha untuk menggapainya.

Kasih dan sayang adalah produk cinta, di mana dalam upaya untuk mencapai takhtanya tergantung sikontol panjangnya. Ia bisa lewat pintu janur kuning (pelaminan) ataupun melalui pintu-pintu lainnya seperti kawin lari atau silariang.

Manakala proses menggapai cinta, manakala berakhir di janur kuning berarti tidak menimbulkan dampak sosial walaupun tentunya membutuhkan biaya ekstra. Akan tetapi ketika tidak ada jalan lain ke Roma, satu-satunya yang ditempuh adalah jalan pintas silariang.

Mungkin ada betulnya kata humor silariang atau kawin lari itu sebagian dari CINTA yaitu Cita-cita Ingin Nikah Tanpa Anggaran. Dan sebenarnya cinta memang tidaklah mahal melainkan proses perjalanan untuk mencapai takhtanya.

Di Indonesia banyak dijumpai pada suku bangsa di Nusantara. Kawin lari dilakukan sepasang muda mudi atau kekasih yang tidak mendapatkan restu orang tua/keluarga untuk menikah.

Kawin lari pada akhirnya mempermalukan orang tua kedua pemuda dan gadis yang melakukannya. Uniknya, terdapat dua budaya kawin lari di Nusantara yang saling bertolak belakang.

Suku Sasak yang bermukim di pulau Lombok memiliki budaya kawin lari yang diterima masyarakat. Budaya ini disebut “paling” Budaya paling ini dilakukan pemuda dan gadisnya jika sudah memutuskan untuk menikah dengan kabur dari rumah selama kurang lebih tiga sampai tujuh hari, hingga keluarga si gadis menyadari bahwa anaknya melakukan “paling”.

Jika demikian, maka sanak saudara akan mencari si gadis untuk dinikahkan dengan pemuda yang membawanya lari. Namun berbeda suku Sasak yang mendapatkan restu setelah melakukan upaya kawin lari, tetapi suku Bugis memiliki budaya kawin lari dengan konsekuensi bisa membawa “petaka”. Budaya kawin lari ini disebut silariang. Terlepas pro-kontra silariang bagi suku Bugis

Silariang berarti membawa lari, yang dimaksudkan kepada dua orang kekasih yang kawin lari. Apabila seorang pemuda ditolak pinangannya, maka ia merasa malu lalu ia berupaya supaya gadis yang dipinangnya bisa dilarikannya.

Silariang juga sering disebabkan oleh adanya syarat pernikahan berupa doi menre’ atau uang panai’ yang tidak sanggup dibayarkan pemuda kepada keluarga si gadis sehingga pemuda nekat silariang.

Keluarga yang anak gadisnya kawin lari akan merasa malu besar sehingga pemuda yang membawa lari si gadis atau pasangan yang melakukan silariang tersebut kadang harus di bunuh di muka umum. Hal itu bisa terjadi apabila si laki-laki tidak mau bertanggung jawab hanya “makkare-are”(penghinaan).

Dahulu di masa kerajaan Bone, dalam kondisi seperti ini bisa disebut “malaweng” yaitu pelanggaran norma sosial-adat sehingga ia harus “diladung” yakni keduanya dibuang ke laut dengan pemberat. Dan salah satu tempat eksekusi yang terkenal adalah Tanjung Pallette.

Dalam adat Bugis, malaweng terdiri dari tiga tingkatan, yaitu pertama malaweng pakkita, kedua malaweng bicara/ada-ada, dan ketiga malaweng pangkaukeng/gau. Dan silariang berada pada posisi tingkat ketiga, yaitu malaweng pangkaukeng (pelanggaran adat akibat perbuatan).

Namun dewasa ini hukuman bagi si pelanggar adat malaweng pangkaukeng salah satu yang lazim dilakukan bagi to masiri yakni keduanya baik pemuda maupun gadisnya diusir keluar kampung yang disebut “ripoppangi tana”.

Keluarga si gadis disebut sebagai “tomasiri” atau orang yang malu sedangkan pemuda dan gadisnya disebut “tau mappakasiri’ atau pakabbeang siri” atau orang yang bersalah dan membuat malu.

Oleh karena malu yang berhubungan dengan harga diri orang Bugis yang sampai melakukan eksekusi pintas/pembunuhan di muka umum disebut menegakkan siri/harga diri dan keluarga.

“Dalam kehidupan manusia Bugis, masalah siri merupakan unsur paling prinsipil dalam diri mereka yakni jiwa mereka, harga diri mereka dan martabat mereka di mana tidak ada satu nilai pun yang paling berharga untuk dibela dan dipertahankan di muka bumi selain dari pada siri sehingga mereka bersedia mengorbankan apa saja termasuk jiwanya untuk menegakkan sirii dalam kehidupan mereka”.

Keluarga orang tua si gadis merasa terhormat atas perbuatannya yakni membunuh anak atau pasangan kekasih yang mappakasiri atau mendatangkan malu karena telah menegakkan siri yang merupakan satu dari tatanan hidup suku Bugis.

Dalam praktiknya, ada juga jalan bagi si pemuda agar tidak dibunuh keluarga si gadis dengan cara “maddeceng” yakni pulang dengan baik-baik. Tetapi, untuk tetap menegakkan siri maka si pemuda harus siap bertanggung jawab.

Silariang sebagai budaya kawin lari akhirnya hanya membawa petaka karena mencemari siri orang Bugis sehingga tomasiri yakni orang tua rela membunuh anak gadisnya atau sepasang kekasih demi menegakkan siri’ sebagai harga diri dalam kehidupan bermasyarakat suku Bugis.

Namun dilain sisi, hukum adat mengatakan, membunuh si pelaku silariang dengan alasan siiri tidak bisa dikenakan hukuman, karena ia dianggap sebagai pahlawan yang membela siri-nya.

Disisi lain, dalam hukum pidana , tidak menerima alasan kalau ada terjadi kasus pembunuhan termasuk alasan siri, dan pelakunya bisa dikenakan pasal pembunuhan atau penganiayaan dalam undang-undang negara.

Lalu bagaimana tinjauan hukum pidana terhadap adanya pembunuhan atau penganiayaan dalam kasus silariang?

Silariang adalah perkawinan yang dilakukan antara sepasang laki-laki dan perempuan dan keduanya sepakat untuk melakukan kawin lari.

Jadi disini yang dimaksud laki-laki dan perempuan, tidak terbatas pada kaum pemuda dan pemudi yang belum beristri, tetapi juga berlaku bagi laki-laki dan perempuan yang sudah kawin.

Apakah mereka kawin lari sama-sama anak muda atau kedunya sudah kawin atau yang satu sudah kawin yang satu lagi belum beristeri atau suami. Sellain itu, ada juga satu jenis kawin yang dinamakan NALARIANG dan DILARIANG.

Dalam kasus Silariang ini dilakukan atas kata sepakat bagi kedua pelaku, silariang untuk lari bersama untuk kawin, sedang dalam kasus Dilariang kehendak untuk kawin lari, datangnya dari pihak laki-laki.

Kalau “Dilariang” kehendak kawin lari datangnya dari pihak laki-laki. Dan perempuan yang akan dilarikan itu dilakukan secara paksa atau tipu muslihat.

Pada kasus “dilariang” biasanya Perempuan itu lari ke rumah kepala Desa atau Imam Desa, lalu menunjuk laki-laki yang pernah menggaulinya. Dengan demikian, laki-laki yang ditunjuk itu harus bertanggung jawab atas perbutannya untuk mengawini perempuan yang menunjuknya.

Biasanya , kalau tidak ada laki-laki yang mau bertanggung jawab, maka biasanya, ditunjuk laki-laki yang mau secara sukarela menikahi perempuan tersebut biasanya dibiayai oleh perangkat desa/imam. Perkawinan seperti ini disebut Passampo Siri (penutup malu).

Ada juga kasus yang dilakukan oleh gadis atau perempun dengan jalan lari ke rumah kades/imam tanpa ada laki-laki yang ditunjuk untuk mengwininya. Wanita itu mungkin sudah hamil, tapi ia tidak tahu laki-laki mana yang ditunjuk bertanggung jawab.

Di sisi lain, pihak keluarganya juga mempertanyakan kehamilannya, dan siapa laki-laki yang menghamilinya. Untuk menyelamatkan jiwa perempuan itu, biasanya ia lari ke rumah kades/imam untuk minta suaka (perlindungan) dan mencarikan solusinya.

Biasanya, pada kasus ini, ditunjuk laki-laki mana saja yang mau menikahinya, setelah itu apakah mereka meneruskan parkawinan atau cerai, yang penting sudah ada laki-laki yang mau bertanggung jawab. Peristiwa semacam ini disebut makkunrai peddo’ yakni perempuan kawin lari tanpa ada laki-laki yang bertanggung jawab.

Ada pula jenis perkawinan yang sangat dibenci oleh masyarakat Bugis, karena terkait dengan adanya hubungan darah yang sangat dekat, misalnya antara ayah dengan putrinya, ibu dengan putranya atau sesama saudara. Perkawinan seperti ini disebut (malaweng puppu).

Kalau kasus silariang, nilariang, dan dilariang masih ada jalan keluarnya, yakni setelah mereka dinikahkan persoalan selesai, akanb tetapi pada kasus “malaweng puppu” ini, merupakan kasus yang tak berujung, bahkan menjadi bencana besar suatu kampung.

Keduanya sulit dikawinkan, karena terikat hubungan darah yang terlalu dekat. Pada kasus seperti ini, pada zaman dulu, biasanya kedua pelakunya dikenakan hukuman Riladung bahkan dengan cara “riludda” (ditumbuk kayu sampai mati).

Di zaman dulu, apabila kasus pelakunya seorang tokoh yang melakukan malaweng puppu maka ia dieksekusi dengan cara “ripoppangi batu lepang” dan riludda.

Ripoppangi batu maksudnya karena pelakunya seorang tokoh sehingga kasusnya dipetikan/didiamkan saja karena bisa merembes ke yang lainnya. Kasus seperti ini diselesaikan secara diam diam dan tidak boleh diungkit lagi.

Hukuman riladung adalah kedua pelaku itu diikat, lalu digantung batu sebagai pemberat, lalu keduanya ditenggelamkan ke tengah laut seperti telah dijelaskan di atas.

Ada kepercayaan dari masyarakat Bugis tentang adanya kasus ini. Bila ada kasus malaweng puppu terjadi di sebuah kampung, maka nasib sial yang akan melanda kampungnya dan seluruh warga dalam kampung itu akan merasakan akibatnya, misalnya tanaman rusak, ikan pada menghilang di kali, hewan piaraan mati, dan penyakit akan melanda masyarakat.

Dari pada seluruh masyarakat merasakan akibatnya, itulah sebabnya, masyarakat setempat harus melenyapkan kedua pelaku salimara tersebut dengan jalan Niladung.

Kasus Silariang di sini bukan hanya diartikan sebagai malu-malu, tetapi lebih mendalam lagi, siri merupakan harga diri, kehormatan atau martabat sebagai seorang manusia yang beriman dan bertaqwa pada Allah SWT.

Menurut budayawan Andi Najamuddin Petta Ile, bahwa arti Siri itu “sianre rica’) (seperti air dibelah). Ini berarti bahwa sifat antara manusia dan binatang sangat tipis dinding pembatasnya. Makanya kalau tidak mau dipermalukan “pesse’i siri-mu”.

Itulah sebabnya, ada orang yang wujudnya seperti manusia, tapi perbuatannya seperti binatang. Dikatakan perbuatannya seperti binatang, karena mereka melakuklan hubungan badan tanpa nikah sama dengan binatang. Kata orang kawin seperti ayam.

Jadi di sini, dinding pembatas antara sifat manusia dan binatang sangat tipis.Dengan alasan Siri’ inilah, mak kasus membela harga diri bagi suku Bugis tidak bisa lagi ditolerir.

Dalam hukum adat mengharuskan pada seseorang yang merasa dipermalukan khususnya dari pihak keluarga perempuan untuk menegakkan sirikeluargnya. Dan biasanya berakhir dengan penganiayaan, bahkan pembunuhan.

Keluarga dari pihak perempuan, setelah mendengar anaknya melakukan silariang, terlebih dahulu mereka akan menemui kaluarganya untuk minta bantuan untuk menegakkan siiri-nya.

Pihak keluarga yang tahu bahwa anak kemenakannya itu silariang maka mereka siap-siap mengambil tindakan, bilamana di suatu saat atau di suatu tempat ketemu orang yang melarikan anaknya, mereka bisa menindakinya, baik dengan cara mengusir, memukul atau tidak sedikit di antara pelaku silariang ini menemui ajalnya di ujung badik.

Sebaliknya bagi pelaku Silariang, mereka juga melakukan kawin Silariang, karena beberapa alasan, antara lain, karena pinangannya ditolak, mungkin ditolak karena perbedaan strata sosial, karena miskin atau karena punya istri atau alasan lainnya.

Mereka melakukan kawin silariang dengan tekad yang bulat, yakni muntuk membentuk keluarga. Walaupun mereka tahu, bahwa ini mengandung resiko yang sangat berat, yakni bisa saja kedua-duanya celaka mati di ujung badik dari tangan pihak keluarga perempuan yang disebut tomasiri.

Walaupun rintangan seberat itu menghadang, tapi bagi pelaku silariang bila cinta sudah melekat tak gentar menghadapinya, apapun risikonya, termasuk maut.

Para pelaku silariang, khusunya laki-laki, biasanya ia selalu siap sedia senjata tajam dengan menyelipkan badik di pinggangnya. Ke manapun ia pergi. Ini dimaksudkan, bilamana suatu saat mendapat tantangan maka ia melakukan pembelaan diri.

Walaupun sanksi yang ditetapkan pada pelaku Silariang ini sangat berat, akan tetapi Hukum Adat Bugis juga memberikan batasan pada tomasiri untuk mengambil tindakan. Para Tomasiri tidak bisa lagi mengambil tindakan sembarangan kalau sipelaku sudah ditangani pammarentae.

Bagi orang Bugis apabila tomasiri sudah mendengar kabar pasti, bahwa anaknya atau keponakan atau sanak keluarganya melakukan silariang, mereka dituntut oleh hukum Adat untuk menegakkan siri-nya. Sebab kalau tidak bertindak, mereka dicap oleh masyarakat sebagai pelloreng ( penakut). Tetapi mereka harus berani, tampil sebagai pembela martabat keluarga.

Dalam ungkapan orang Bugis rekko siri na wawa magai muonro baddang (mengapa tersendat maju). Maksudnya, penegakan siri’ itu memang banyak risiko, terutama membunuh dan akhirnya masuk penjara. Tetapi risiko seperti itu, tidak terpikirkan dulu.

Nanti kalau sudah berhasil menegkkan siri’ barulah terbukti bahwa udang itu kalau sudah dimasak merah. Kemudian ada pula istilah yang mengatakan, bahwa orang Makassar itu kalau menegakkan siri, luka tusuk senjata tajam itu, bukan berada di belakangnya, tetapi harus ada dimuka.

Kalau luka tusuk berada di belakang badan ,itu berarti pengecut atau penakut, tapi kalau luka ada di bagian depannya, itu berarti pemberani.

Dalam ungkapan lelaki Bugis disebutkan sangadi polo tellui lise cenranae kuaddampeng soro, artinya ku tak mundur setapakpun kecuali senjata sudah patah tiga

Bagi pelaku silariang juga bertekad, risiko apapun yang menimpa dirinya, harus mereka jalani, termasuk maut demi mendapatkan si buah hati belahan jantung.

Mati itu urusan Tuhan, tapi semangat untuk menyatukan dirinya dengan gadis pelihannya tak bisa dibendung, walau itu maut sekalipun. “Cinnaku Cinnana bessi banranga passarangngi (Cintaku dan cintanya, hanya linggislah yang bisa memisahkannya). Begitu eratnya cinta to malaweng puppu, sehingga mereka nekad kawin lari.

Dari aspek sosial, pada kasus silariang ini, merupakan aib bagi keluarga kedua belah pihak, baik keluarga laki-laki lebih-lebih bagi keluarga perempuan yang merasa sangat dipermalukan oleh ulah anaknya. Masyarakat mencelah perbuatan ini dan mencapnya sebagai orang yang tak mampu mendidik anak-anaknya, serta menyalahi aturan adat dan agama.

Untuk mengetahui secara jelas apa arti silariang ini, akan ditulis beberapa pendapat para pakar budaya baik dalam maupun luar negeri. Pendapat para pakar tentang pengertian silariang atau kawin lari, yaitu :

1. Dr. T.H. Chabot mengatakan bahwa perkawinan Silariang adalah apabila perempuan dengan laki-laki sepakat lari bersama-sama.

2. Bertlin mengatakan perkawinan silariang adalah apabila perempuan dengan laki-laki lari lari atas kehendak kedua belah pihak.

3. Mr. Moch Nasir Said mengatakan Silariang adalah perkawinan yang dilangsungkan setelah laki-laki dengan perempuan lari bersama-sama atas kehendak sendiri-sendiri.

Dari pendapat para pakar di atas maka dapat ditarik kesimpulan tentang pengertian kawin silariang, yakni sebagai berikut:

kawin Silariang adalah perkawinan yang dilakukan antara sepasang laki-laki dan perempuan setelah sepakat lari bersama, perkawinan di mana menimbulkan siri bagi keluarganya khususnya keluarga pihak perempuan, dan kepadanya dikenakan sanksi adat.

Demikian pembahasan mengenai silariang yang biasa terjadi di masyarakat Bugis yang hingga kini masih sering terjadi.