Ayahku Petarung

205

Hari ini
Sebatang rumput berkata
Kepada sehelai daun yang gugur
Gugur mu membuat suara ribut
Engkau mengacaukan segala ilusiku

Saat musim hujan berlalu
Musim kemarau pun tiba
Di atas angin kan mendesir mendesau menerbangkan dedaunan

Kala fajar tiba, seorang lelaki terbangun dari tidurnya
Bergegas, siap-siap tuk menerjang ombak kehidupan

Yang terkadang menyakitkan
Bagi lelaki setengah baya
Yang menunggu harapan
Hidup, dikehidupan
Tuk bahagiakan keluarganya
Yang dia cintai dan kasihi

Degan segenap kemampuan
Dia memperjuangkan segalanya
Kerja keras, banting tulang
Tuk sesuap makan anak istri

Walau terkadang dia sembunyi
Dari kelaparan yang mencengkam_
Yang pasti dia sudah lega
Kala anak istri makan degan
gembira

Panas terik matahari dan hujan
Tak kau hiraukan
Pagi sampai malam, kau bergelut degan kehidupan

Semua kau tempuh
demi kebahagiaan anak isteri
Yang kau cinta’i dan kasih’i

Kaulah pahlawan ku
Kaulah contoh kehidupan ku
Kala masa ku sudah tiba
Tuk jadi seorang ayah seperti mu

Ayah .. kau lah pejuang ku
Nyawa kau pertaruhkan
Demi kebahagian ku dan ibu
Ma’afkanlah anak mu ini
Kiranya, membantah perintah mu

Kini ku sadari
Kaulah Sebagian jiwa dan raga ku
Kaulah pahlawan ku
Kan ku pertaruhkan segenap tenaga
Tuk membalas akan jasa-jasa mu
Doa kan anak mu ini, ayah ku

Kala surya bersiap tenggelam
Menjemput mesra tenangnya malam
Meneguk cahaya dalam-dalam
Menyempurnakan keindahan malam
Bersama kebaikan yang abadi