13 Sikap Duduk Orang Bugis

2318

Duduk merupakan perilaku yang sering kita lakukan sehari-hari. Duduk memiliki varian yang cukup beragam. Kendati demikian, sebagian orang mungkin juga belum tahu apa nama dan bagaimana menyebut sikap-sikap duduk tersebut.

Hal ini menyebabkan kita sebagai orang Indonesia, nampak seperti miskin kosa kata. Karena mengungkapkan segala perilaku duduk hanya dengan ucapan “Duduklah dengan begini, atau duduklah dengan begitu,”.

Padahal untuk mengungkapkan perilaku duduk sesuai posisi dan bentuknya yang beragam, bahasa Indonesia memiliki kata baku untuk mengungkapkan setiap sikap duduk tersebut.

Meski demikian, atas nama kearifan lokal tidak ada salahnya apabila kita juga mengetahui nama-nama beberapa sikap duduk di kalangan suku Bugis.

Sikap duduk orang Bugis, di antaranya Tudang Sulekka, Tudang Campeang, Tudang Maggaluttu, Tudang Mappatettong uttu, Tudang Makkadao uttu, Tuddang Mappacadang, Tudang Massampeang Wali, Tudang Mappasilojo, Tudang Marriwa, dan Tudang Maccekkeng. Tudang Mattula Sadang, Tudan Mattula’ bangi, Tudang Tuppang.

Nah, mari kita kupas satu persatu bagaimana sikap duduk orang Bugis:

1. Tudang Sulekka

Tudang Sulekka (Duduk bersila) adalah ketika seseorang duduk dengan betis kaki terlipat bersilangan di depan. Umumnya, sikap duduk bersila dilakukan oleh seseorang tanpa bangku atau kursi.

Tudang Sulekka (duduk bersila) di kalangan Bugis umumnya dilakukan bagi laki-laki. Duduk seperti ini dianggap sikap duduk paling sopan dan beradab. Misalnya, ketika sedang membaca, ngobrol, maupun berdoa serta meditasi di atas tikar.

2. Tudang Campeang

Duduk Campeang (Duduk Menyamping) adalah ketika seseorang duduk dengan menekuk kedua lutut ke kanan atau kiri. Apabila ke kanan maka betis kanan menindih kaki kiri. Demikian sebaliknya apabila tudang campiang kekiri betis kiri menindih kaki kanan.

Sikap duduk seperti ini bila sedang melantai dan umumnya dilakukan oleh perempuan. Dan cara duduk seperti ini dianggap paling sopan dan beradab bagi perempuan. Apabila ada laki-laki selalu tudang campeang dianggap seperti calabai.

3. Tudang Maggaluttu

Tudang Maggaluttu (Duduk bersimpuh) adalah ketika seseorang meletakkan diri pada lantai dengan cara melipatkan kedua kaki ke belakang sebagai tumpuan badan.

Umumnya, sikap duduk bersimpuh ini biasa dilakukan oleh seseorang baik laki-laki maupun perempuan ketika berdoa, maupun pelayanan tradisional tatkala menyuguhkan minuman. Selain itu, duduk bersimpuh juga kerap dilakukan oleh para praktisi meditasi.

4.Tudang Mappetetettong Uttu

Tudang Mappetettong Uttu (Duduk Melutut/Bertongkak Lutut) adalah ketika seseorang duduk dengan menaikkan sebelah lututnya kanan ataupun kiri. Sikap duduk bertongkak lutut ini umumnya juga kerap dilakukan oleh seseorang yang sedang makan, membaca koran, atau ngobrol. Biasanya ketika melantai di tikar dll.

5. Tudang Mattula Sadang atau Mappacadang

Tudang Mattula Sadang/Mappacadang (Duduk Mendagu/Bertopang Dagu), yaitu hampir sama Tudang Mattula Bangi, yaitu ketika seseorang duduk seraya menjadikan telapak tangannya sebagai penumpu dagu guna menopang kepala.

Sikap duduk bertopang dagu, umumnya dilakukan tatkala seseorang sedang melamun atau bengong, bermalas-malasan, maupun mengantuk.

Orang tua Bugis biasanya melarang anak-anaknya tudang mattula’ sadang karena dianggap macilaka (sial). Menurutnya sikap duduk seperti ini menggambarkan orang putus asa dan pemalas (makuttu).

6. Tudang Mattula’ Bangi

Tudang Mattula Bangi (Duduk bertopang pipi), yaitu ketika seseorang duduk dengan telapak tangannya sebagai penyangga pipi, guna menopang kepala. Sikap duduk bertopang pipi, umumnya dilakukan tatkala seseorang sedang melamun ataupun sedang sakit gigi.

7. Tudang Mappesitenre’ Uttu

Tudang Mappesitenre’ Uttu (Duduk menukuk) adalah ketika seseorang duduk dengan posisi paha kanan atau kiri saling menindih bahu sampai punggung membungkuk.

Sikap duduk menukuk biasa dilakukan seseorang tatkala dikursi. Salah satu kaki menggantung dan lainnya menumpu dilantai. Misal ketika sedang membaca, ngobrol, dll.

8. Tudang Celleng

Tudang Celleng (Duduk sengkil) adalah ketika seorang duduk di bagian sebuah jendela atau pintu dengan maksud memperlihatkan dirinya.

Sikap duduk sengkil umumnya dilakukan oleh seseorang yang hendak menyambut kedatangan tamu, atau menanti seseorang dari luar rumahnya. Biasa juga tatkala menikmati pemandangan alam sekitar rumahnya.

Rumah panggung orang Bugis memiliki jendela singkap untuk sirkulasi udara dan dan di masa lalu sering digunakan seorang gadis untuk mengantar sang kekasih meski hanya lewat pandangan mata. Karena adat melarang mengantar sampai ke tanah/haman rumah, karenanya hanya menatap lewat jendela.

9. Tudang Maccekkeng

Tudang Maccekkeng (Duduk Bertinggung) adalah ketika seorang meletakan diri dengan cara menekuk kedua lutut dan menjadikan telapak kaki sebagai tumpuan,sehingga posisi bokong hampir menyentuh tanah. Sikap duduk bertinggung umumnya dilakukan oleh tiap orang ketika buang air besar (Kecil untuk perumpuan).

Namun, anak kecil kerap menggunakan duduk bertinggung untuk bermain kelereng. Duduk bertinggung biasa disebut-sebut oleh banyak orang dengan jongkok.

10. Tudang Maddue Aje

Duduk Maddue Aje atau Mappague-gue Aje (Duduk berjuntai) adalah ketika seseorang duduk tanpa kaki menapak/ berpijak. Sikap duduk berjuntai ini kerap dilakukan tatkala seorang duduk di suatu benda atau tempat, yang berposisi lebih tinggi dari tubuhnya. Sehingga kedua kaki nampak berjuntai atau bergantung. Umumnya, seseorang akan duduk berjuntai tatkala sedang bertamasya, seperti berfoto di tepi bukit, atau tepi atap gedung.

11. Tudang Mappasilojo

Tudang Mappasilojo (Duduk berlunjur) adalah ketika seseorang duduk dengan meluruskan kedua kakinya ke depan. Banyak orang menyebut sikap duduk berlunjur kerap dengan istilah selonjoran.

Duduk berlunjur biasa dilakukan oleh seseorang tatkala sedang merehatkan badan, atau bersantai. Namun bagi orang Bugis dianggap kurang sopan tatkala sedang duduk berhadapan dengan banyak orang.

12. Tudang Cuppang

Tudang Cuppang (Duduk Kodok/duduk W), yaitu duduk dengan posisi seperti kodok atau huruf W, di mana lututnya ditekuk menghadap ke depan sementara telapak kakinya menghadap ke belakang.

Duduk seperti ini biasanya dilakukan bagi anak-anak tatkala sedang bermain dengan benda-benda mainannya. Tudang Cuppang cenderung membuat anak memiliki postur yang tidak tegak.

Posisi Tudang Cuppang ini biasanya terjadi pada anak di usia yang masih kecil, bahkan saat masih belajar merangkak lalu duduk. Karena itu, Sebaiknya kita lebih berhati-hati dalam mengajarkan cara duduk yang baik pada anak, yakni dengan duduk lurus atau bersila.

13. Tudang Massampeang Wali

Tudang Massampeang Wali (Duduk Congkak), yaitu duduk dengan bersandar dengan menjadikan kedua tangan penahan tubuh.

Orang tua Bugis biasanya melarang anak-anaknya membiasakan duduk seperti ini apalagi bersandar pada tangan kiri dekat bokong. Menurutnya sikap duduk seperti itu menunjukkan sifat sombong dan congkak.

Demikian sikap duduk orang Bugis serta nama-namanya. Meskipun barangkali masih ada sikap duduk lainnya dengan istilah/nama yang berbeda.