Tata Krama Bugis dalam Kehidupan Sehari-hari

2500

Secara umum Tata krama adalah tata aturan yang baik yang dilakukan oleh manusia sesuai dengan lingkungannya. Meskipun mengalami desiran teknologi, tata krama senantiasa tetap bersandar terhadap hal-hal yang baik.

Tata Krama meliputi segala bidang kehidupan manusia baik ucapan maupun perilaku dan tindakan. Dengan begitu, ia menjadi rujukan keseharian dalam melakukan interaksi sosial.

Tata Krama tidak lahir begitu saja melainkan melalui sebuah proses filterisasi yang cukup lama. Ia lahir baik sebagai peraturan tidak tertulis maupun tertulis yang sifatnya turun temurun dan disepakati dalam suatu kelompok sosial yang kecil dan besar.

Tata Krama berkaitan kebiasaan dalam lingkungan sosial keseharian suatu suku bangsa yang sudah menjadi sebuah kesepakatan bersama yang harus diikuti. Sehingga Tata Krama suatu bangsa tentu berbeda dengan bangsa atau suku lainnya.

Indonesia yang lahir dari berbagai suku bangsa memiliki budaya yang kental dengan peraturan lisan (tidak tertulis) yang luar biasa. Seperti halnya suku bangsa Bugis yang memiliki etika dan aturan hidup yang disebut “pangadereng”.

Pangadereng adalah keseluruhan norma yang meliputi bagaimana seseorang harus bertingkah laku terhadap sesama manusia dan terhadap pranata sosialnya yang membentuk pola tingkah laku serta pandangan hidup.

Demikian melekatnya nilai pangadereng ini di kalangan orang Bugis, sehingga dianggap berdosa jika tidak melaksanakannya. Dan konsekuensinya ia akan dikucilkan sebagai hukuman sosial.

Adapun implementatif Pangadereng sebagai falsafah hidup orang Bugis, memiliki 4 (empat) asas, yakni:

(1) ASAS MAPPASILASAE, (keserasian) yakni memanifestasikan adat bagi keserasian hidup dalam bersikap dan bertingkah laku serta memperlakukan dirinya dalam pangadereng. Hal ini dinyatakan dalam ADE’.

(2) ASAS MAPPASISAUE, ( menerima ), yakni diwujudkan sebagai manifestasi ade’ (adat) untuk menimpahkan deraan pada tiap pelanggaran Ade’ yang dinyatakan dalam bicara. Azas ini menyatakan pedoman legalitas dan represi yang dijalankan dengan konsekuen.

Dalam artian represi di sini untuk meredam keinginan, hasrat, atau instingnya sendiri. Keinginan, harapan, fantasi, atau perasaan dapat direpresentasikan dalam pikiran sebagai pemikiran, bayangan, dan ingatan.

(3) ASAS MAPPASINRUPAE (membandingkan), yakni mengamalkan adat/ade’ sesuai pola-pola terdahulu yang dinyatakan dalam RAPANG.

Asas ini menggambarkan, bahwa untuk mengambil/menetapkan sebuah keputusan penting yang menyangkut orang banyak sebaiknya membandingkan dengan keputusan-keputusan terdahulu atau membandingkan dengan keputusan yang berlaku di negeri tetangga. Misal, DPRD sekarang untuk menetapkan sebuah peraturan daerah, sebelumnya melakukan studi banding.

(4) ASAS MAPPALLAISENG (membedakan), yakni manifestasi Ade’ dalam memilih dengan jelas batas hubungan antara manusia dengan institusi-institusi sosial, agar terhindar dari masalah dan instabilitas lainnya. Hal ini dinyatakan dalam WARI untuk setiap variasi perilakunya manusia Bugis.

Nilai-nilai luhur yang terkandung dalam filsafat hidup orang Bugis tersebut, berhubungan erat etos kerja dan perilaku orang Bugis yang masih diyakini hingga saat ini. Meski dalam pelaksanaanya banyak didominasi aturan-aturan negara (NKRI).

Asas tersebut di atas adalah manifestasi sistem norma “Konsep Hukum dan Ketatanegaraan” Bugis. Adapun sistem norma yang dimaksud sebagai berikut :

1.ADE’.

Ade merupakan komponen pangadereng yang memuat aturan-aturan dalam kehidupan masyarakat. Ade’ sebagai pranata sosial di dalamnya terkandung beberapa unsur antara lain :
a) Ade’ pura Onro, yaitu norma yang bersifat permanen atau menetap dengan sukar untuk diubah.
b) Ade’ Abiasang, yaitu sistem kebiasaan yang berlaku dalam suatu masyarakat yang dianggap tidak bertentangan dengan hak-hak asasi manusia.
c) Ade’ Maraja, yaitu sistem norma baru yang muncul sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

2.BICARA.

Bicara adalah aturan-aturan peradilan dalam arti luas. Bicara lebih bersifat refresif, menyelesaikan sengketa yang mengarah kepada keadilan dalam arti peradilan bicara senantiasa berpijak kepada objektivitas, tidak berat sebelah. Demikian pentingnya rasa keadilan, rekko naenreki waramparang pabbicarae de Toni tongengnge artinya jika seorang hakim (pabbicara) menerima suap/pemberian hilang pula keadilan.

3.RAPANG.

Rapang adalah aturan yang ditetapkan setelah membandingkan dengan keputusan-keputusan terdahulu atau membandingkan dengan keputusan adat yang berlaku di negeri tetangga.

4.WARI

Wari adalah suatu sistem yang mengatur tentang batas-batas kewenangan dalam masyarakat, membedakan antara satu dengan yang lainnya dengan ruang lingkup penataan sistem kemasyarakatan, hak, dan kewajiban setiap orang.

Kita kembali pada pokok permasalahan, bahwa tata krama terdiri dari dua kata. Tata Artinya aturan/norma sedangkan untuk Krama artinya sopan santun atau aturan dari sebuah tindakan.

Jadi tata krama memiliki arti norma atau sebuah kebiasaan yang mengatur sikap sopan dan santun dan disepakati oleh lingkungan.

Sistem pengaturan dalam pergaulan yang harus memiliki sikap saling menghormati dan dikenal dengan sebutan sopan santun. Oleh karena itu, dengan adanya tata krama bisa mencegah kebiasaan buruk.

Apabila kita kaji lebih mendalam keempat asas tersebut di atas, maka implementasinya dalam kehidupan sehari-hari adalah sebagai berikut:

1). TATA KRAMA BERBICARA

Seseorang dinilai berpendidikan atau tidak dilihat dari tata krama berbicaranya. Bukan yang banyak basa-basi, tetapi mereka yang tahu bagaimana berbicara di tempat dengan kondisi yang tepat.

2). TATA KRAMA MAKAN

Tata krama makan, yaitu makan dengan sembarangan, bersendawa, kentut atau dan sebagainya yang membuat orang lain tidak nyaman atau bahkan merasa tidak nafsu makan ? Adanya tata krama tak lain karena ingin membuat semua orang yang makan bersama merasa nyaman, bukan karena terlihat anggun dan juga cantik. Atau bersin tanpa menutup mulut? Apa yang baik Anda lakukan?.

Tata krama makan tentu setiap budaya memang berbeda, ada yang harus bersuara ada juga yang tidak boleh bersuara ketika makan. Semua ada maknanya, namun adat Bugis yang tidak bersuara dan tenang ketika makan dianggap sebagai kesopanan yang paling baik. Orang Bugis melarang keras anaknya terdengar mengunyah ketika sedang makan.

3). TATA KRAMA BERTAMU

Ketika bertamu ke rumah orang lain tentu Anda harus mengutamakan kesopanan. Sebagai orang lain atau tamu, tentu kita harus menunjukan rasa terima kasih, karena telah disambut dan diperlakukan dengan baik. Tamu memang raja, namun kita juga harus sadar bahwasannya tamu juga kadang merepotkan.

Nampak tuan rumah sudah menguak beberapa kali pertanda ia mengantuk, maka sebagai tamu harus mengerti dan membaca keadaan. Karena tidak mungkin tuan rumah menyuruh kita pergi.

4). TATA KRAMA PENAMPILAN

Tata krama penampilan, apa yang dimaksud tata krama penampilan. Yaitu, penampilan yang sesuai dengan kebutuhan dan acara. Misalnya anda tidak mungkin mengenakan gaun di acara formal kenegaraan dan sejenisnya. Tata krama menunjukan kesiapan dan kesesuaian kita berpenampilan dalam sebuah acara, bukan berarti harus selalu tertutup dari ujung kaki ke ujung kepala. Tata krama penampilan berarti menjaga penampilan agar tetap bagus untuk dilihat namun tidak terlalu terbuka.

5). TATA KRAMA PERGAULAN

Bergaul merupakan cara manusia untuk bisa dekat dan bersosialisasi dengan teman dan sekitarnya, faktanya ketika Anda bergaul seringkali muncul masalah. karena tidak menghargai atau karena sulit untuk dihargai. Adanya tata krama pergaulan akan membantu menghilangkan sifat egois dalam diri seseorang ketika bergaul.

6). TATA KRAMA BEDA USIA

Tata krama pada berbeda usia mungkin sering dibicarakan sebagai senioritas. Padahal sebenarnya bukan senioritas, menghargai dan menghormati sangatlah penting. Di mana usia muda menghormati yang lebih tua namun yang lebih tua juga menghargai yang lebih muda, dan itulah tata krama dengan orang yang berbeda usia.

7). TATA KRAMA BEKERJA

Saat bekerja maka Anda akan bertemu dengan berbagai orang dengan sifat dan karakter berbeda-beda. Bisa jadi cocok atau justru kontra dengan Anda. Namun apapun sifatnya sudah tentu Anda harus bisa bersikap baik dan menerapkan tata krama atau sopan santun di pekerjaan.

8). TATA KRAMA MURID

Sebagai murid tentu tidak sembarangan dalam bersikap, di mana sekolah sebagai tempat mendapatkan pelajaran. Sebagai murid harus hormat dan patuh kepada guru. Pepatah Bugis mengatakan “mauni coppo’ bolana Gurutta ri uja madoraka moni” artinya walaupun atap rumahnya guru kita ejek durhakalah kita.

Dan guru harus menganggap murid sebagai anaknya sendiri. Jangan sampai, sekolah tidak mengajarkan moral yang seharusnya dan menyebabkan murid berperilaku tidak terpuji.

9). TATA KRAMA PENDIDIK

Tata krama pendidik sangatlah penting, di mana pendidik dianggap sebagai sosok yang paling dihormati atau ditiru oleh banyak orang. Guru harus menempatkan diri sebagai orang tua dan sahabat bagi muridnya. Guru berarti gugu dan tiru, yakni ia adalah sosok yang digugu dan ditiru.

10). TATA KRAMA BERSOLEK

Bersolek memang harus ada tata kramanya ? sudah tentu ada, di mana Anda tidak bisa sembarangan berdandan atau bersolek dengan bebas. Maksudnya adalah, ada beberapa aturan di mana Anda tentunya tidak bisa bersolek bebas pada momen tertentu seperti sedang melayat, karena akan menyinggung keluarga yang berduka dan dianggap tidak sopan.

Selain itu utamanya perempuan hindari bersolek di tengah orang banyak karena selain tidak sopan juga dianggap sebagai perempuan pesolek, ini kan tidak enak di dengar. Carilah tempat yang sesuai sehingga tidak menimbulkan prasangka yang tidak-tidak.

11). TATA KRAMA MINTA BANTUAN

Seringkali banyak orang yang meminta tolong namun tidak memberikan ucapan terima kasih. Padahal hal tersebut adalah tata krama mendasar dalam hal meminta bantuan.

Misal Anda minta api rokok kepada orang lain setelah selesai langsung diberikan begitu saja bahkan tanpa melihat wajah si pemberi. Ini kan kurang sopan namanya. Ini hanya contoh kecil yang sering terjadi tanpa kita sadari.

12). TATA KRAMA BICARA DI DEPAN UMUM

Seringkali ketika berbicara di depan orang lain Anda merasa gugup dan melakukan kesalahan, hal ini masih ditoleransi karena setiap manusia bisa saja melakukan kesalahan.

Berbicara di hadapan orang banyak yang perlu diperhatikan adalah di mana tempatnya dan siapa pendengarnya, serta tutur kata yang kita keluarkan. Hindari menyinggung pribadi seseorang atau kelompok. Karena mungkin baik menurut kita tapi belum tentu orang lain.

13). TATA KRAMA KOMUNIKASI

Tata krama lainnya yang bisa Anda terapkan dalam kehidupan sehari-hari seperti halnya ketika menelpon, memohon izin dan hal lainnya yang sebenarnya tidak kita sadari membutuhkan sopan santun namun sebenarnya penting.

Bagi orang Bugis mempunyai tutur sapa seperti iyye, iyyo, iko, dan idi. Sapaan ini masing-masing memiliki makna yang berbeda. Penggunaannya sangat erat dalam konteks tata krama berbicara dan berkomunikasi.

14) TATA KRAMA BERDAGANG
Jujur, terbuka dan transparan, menjual barang yang Halal. Menjual barang dengan kualitas yang baik. Tidak menyembunyikan cacat pada barang. Tidak memberikan janji atau sumpah palsu dan murah hati sama pembeli, dan yang paling utama adalah tidak melalaikan salat saat berdagang.

Bila ada pembeli yang sedang membeli sesuatu ditempat lain, maka kita tidak boleh mempengaruhi pembeli itu dengan mengatakan barang kita lebih baik.

Demikian penjelasan terkait tata krama yang masih sering diterapkan di lingkungan masyarakat Bugis dalam kehidupan sehari-hari. Memang kelihatannya sulit dilaksanakan akan tetapi jika bisa diimplementasikan maka Anda seorang yang memegang tata krama yang andal.

Sebenarnya masih banyak tata krama orang Bugis yang belum kita kupas, namun catatan pendek ini setidaknya bisa memberi gambaran.