Toraja Negeri Mayat Berjalan

491

Semua yang bernyawa pasti akan mengalami kematian. Meskipun kita tak bisa memperkirakan kapan dan di mana akan tiba giliran itu. Kita hanya meyakini bahwa setelah meninggal, seorang makhluk tidak mungkin bisa hidup kembali apalagi beraktivitas.

Tapi fenomena mayat berjalan nyatanya benar-benar ada di dunia nyata. Tepatnya di Tana Toraja, Sulawesi Selatan dan Anda bisa bertemu dengan ‘mayat berjalan’.

Toraja memang terkenal memiliki sebuah tradisi mendandani mayat layaknya seperti saat masih hidup. Tradisi ini disebut dengan Ritual Ma’nene, yaitu ritual untuk mengenang para leluhur, saudara, dan handai taulan lainnya yang sudah meninggal dunia.

Hingga kini, ritual Ma’nene yang digelar warga Baruppu di Toraja masih dipertahankan secara rutin sebagai warisan leluhur. Selain itu, ritual yang dilakukan setiap tahun sekali di bulan Juli atau Agystus dimaknai sebagai perekat kekerabatan di antara mereka. Bahkan sudah jadi aturan adat tak tertulis yang selalu dipatuhi oleh setiap warga.

Kabupaten Tana Toraja (Tator) adalah salah satu kabupaten di Provinsi Sulawesi Selatan, Ibu kota kabupaten Tana Toraja adalah Makale. Dengan Moto “Misa’ Kada di Po Tuo Pantan kada di Pomate” yang artinya sama dengan “bersatu kita teguh bercerai kita runtuh”.

Motto ini muncul ketika Perang antara Suku Bugis (Bone) dan Suku Toraja untuk mencegah Raja Bone menguasai wilayah Toraja yang diceritakan dalam suatu kisah kepahlawanan orang Toraja yang disebut To Pada Tindo (orang yang bermimpi yang sama) “Untulak buntunna Bone, unnula’ To sendana bonga” (menentang pengaruh dan kekuasaan Bone).

To pada tindo ini berjumlah 122 orang yang berasal dari berbagai daerah di wilayah adat Toraja, dan yang diwakili oleh Ketua Adat dalam setiap Tongkonan. (Kata Tongkonan berasal dari kata ‘Tongkon’ yang artinya duduk, mendapat akhiran ‘an’ maka ‘Tongkonan’ adalah ‘tempat duduk’, juga berarti tempat yaitu rumah adat Toraja atau Rumah rumpun keluarga).

Tana Toraja merupakan salah satu daya tarik wisata paling populer di Provinsi Sulawesi Selatan. Di sini Anda menikmati kebudayaan khas Suku Toraja yang mendiami daerah pegunungan dengan budaya khas Austronesia asli.

Menurut mitos yang diceritakan dari generasi ke generasi, nenek moyang asli orang Toraja turun langsung dari surga dengan cara menggunakan tangga, di mana tangga ini berfungsi sebagai media komunikasi dengan Puang Matua (satu-satunya Tuhan).

Nama Toraja pertama kali diberikan oleh Suku Bugis Sidenreng yang menyebut penduduk yang tinggal di daerah ini sebagai “Riaja” (orang yang mendiami daerah pegunungan). Sementara rakyat Luwu menyebut mereka, “Riajang” (orang-orang yang mendiami daerah barat).

Versi lain mengatakan bahwa Toraja dari kata “Toraya” (Tau: orang, dan raya atau maraya: besar), gabungan dua kata ini memberi arti “orang-orang hebat” atau “manusia mulia”. Berikutnya istilah yang lebih sering dipakai adalah sebutan Toraja, kata “tana” sendiri berarti daerah. Penduduk dan wilayah Toraja pun akhirnya dikenal dengan Tana Toraja.

Masyarakat Toraja menganut “aluk” atau adat yang merupakan kepercayaan, aturan, dan ritual tradisional ketat yang ditentukan oleh nenek moyangnya. Meskipun saat ini mayoritas masyarakat Toraja banyak yang memeluk agama Protestan atau Katolik tetapi tradisi-tradisi leluhur dan upacara ritual masih terus dipraktikkan.

Masyarakat Toraja membuat pemisahan yang jelas antara upacara dan ritual yang terkait dengan kehidupan dan kematian. Hal ini karena ritual-ritual tersebut terkait dengan musim tanam dan panen.

Masyarakat Toraja mengolah sawahnya dengan menanami padi jenis gogo yang tinggi batangnya. Di sepanjang jalan akan Anda temui padi dijemur dimana batangnya diikat dan ditumpuk ke atas. Padi dengan tangkainya tersebut disimpan di lumbung khusus yang dihiasi dengan tanduk kerbau pada bagian depan serta rahang kerbau di bagian sampingnya.

Tana Toraja memiliki dua jenis upacara adat yang populer yaitu Rambu Solo dan Rambu Tuka. Rambu Solo adalah upacara pemakaman, sedangkan Rambu Tuka adalah upacara atas rumah adat yang baru direnovasi.

Khusus Rambu Solo, masyarakat Toraja percaya tanpa upacara penguburan ini maka arwah orang yang meninggal tersebut akan memberikan kemalangan kepada orang-orang yang ditinggalkannya.

Orang yang meninggal hanya dianggap seperti orang sakit, karenanya masih harus dirawat dan diperlakukan seperti masih hidup dengan menyediakan makanan, minuman, rokok, sirih, atau beragam sesajian lainnya.

Upacara pemakaman Rambu Solo adalah rangkaian kegiatan yang rumit ikatan adat serta membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Persiapannya pun selama berbulan-bulan. Sementara menunggu upacara siap, tubuh orang yang meninggal dibungkus kain dan disimpan di rumah leluhur atau tongkonan.

Puncak upacara Rambu Solo biasanya berlangsung pada bulan Juli dan Agustus. Saat itu orang Toraja yang merantau di seluruh Indonesia akan pulang kampung untuk ikut serta dalam rangkaian acara ini. Kedatangan orang Toraja tersebut diikuti pula dengan kunjungan wisatawan mancanegara.

Dalam kepercayaan masyarakat Tana Toraja (Aluk To Dolo) ada prinsip semakin tinggi tempat jenazah diletakkan maka semakin cepat rohnya untuk sampai menuju nirwana.

Bagi kalangan bangsawan yang meninggal maka mereka memotong kerbau yang jumlahnya 24 hingga 100 ekor sebagai kurban (Ma’tinggoro Tedong). Satu di antaranya bahkan kerbau belang yang terkenal mahal harganya.

Upacara pemotongan ini merupakan salah satu atraksi yang khas Tana Toraja dengan menebas leher kerbau tersebut menggunakan sebilah parang dalam sekali ayunan. Kerbau pun langsung terkapar beberapa saat kemudian.

Masyarakat Toraja hidup dalam komunitas kecil di mana anak-anak yang sudah menikah meninggalkan orangtua mereka dan memulai hidup baru di tempat lain. Meski anak mengikuti garis keturunan ayah dan ibunya tetapi mereka semua merupakan satu keluarga besar yang tinggal di satu rumah leluhur (tongkonan).

Tongkonan merupakan pusat kehidupan sosial Suku Toraja. Ritual yang berhubungan dengan tongkonan sangatlah penting dalam kehidupan spiritual Suku Toraja. Oleh karena itu, semua anggota keluarga diharuskan ikut serta sebagai lambang hubungan mereka dengan leluhur.

Tana Toraja memiliki keunikan tersendiri dalam upacara pemakaman jenazah. Jenazah orang dewasa biasanya dimakamkan di goa, batu, atau tebing dengan dibuat lubang untuk menempatkan peti jenazah.

Lantas bagaimana jika yang meninggal masih bayi? jenazah bayi dimakamkan dalam pohon Taraa’. Bayi yang meninggal dan dimakamkan di pohon ini syaratnya berusia di bawah 6 bulan, belum tumbuh gigi susu, belum bisa jalan, dan masih menyusui. “Bayi dengan kondisi seperti itulah yang dianggap masih suci.

Tradisi pemakaman bayi pada sebatang pohon ini dalam bahasa Toraja disebut “Passilliran” dan hanya dilakukan oleh masyarakat Toraja yang menganut Aluk Todolo (kepercayaan terhadap leluhur).

Pohon taraa’ sengaja dipilih sebagai tempat menguburkan bayi karena memiliki banyak getah yang dianggap sebagai pengganti air susu ibu (ASI). “Dengan menguburkan bayi di pohon taraa’, orang Toraja menganggap bayi tersebut dikembalikan ke rahim ibunya.

Adapun proses pemakaman bayi, yaitu pohon taraa’ tersebut dilubangi dengan diameter seukuran bayi. Kemudian jenazah bayi diletakkan dalam lubang pohon tanpa dibungkus. Selanjutnya, lubang ini ditutup dengan menggunakan ijuk.

Uniknya tak ada bau yang tercium dari lubang pohon taraa’ tersebut. Hanya pohon bambu yang menyejukkan bersama aura mistik.

Jasat itu dikenakan dengan baju layak pakai
Ritual ‘menghidupkan’ mayat untuk berjalan sendiri juga tak lepas dari doa-doa yang dipanjatkan pada para leluhur
Sebelum melaksanakan ritual Manene status mereka masih dianggap pasangan suami istri yang sah
Dalam ritual ini, jasad orang mati dikeluarkan kembali dari tempatnya
Pohon taraa’ sengaja dipilih sebagai tempat menguburkan bayi karena memiliki banyak getah yang dianggap sebagai pengganti air susu ibu (ASI)