Hantu-hantu di Kampung Bugis

269
ilustrasi hantu

Kisah hantu sering diceritakan dari mulut ke mulut, menakut-nakuti anak kecil supaya tidak nakal, supaya berkumpul dirumah sebelum saat Magrib tiba, serta tidak keluyuran lagi bila malam.

ilustrasi hantu

Biasa juga ketika hendak menidurkan anak dalam ayunan supaya cepat tidur ” he, atinrono gatti … ya … alai bombo’ ” artinya hae, cepatlah tidur …ya … ambil bombo”. Begitu kata orang Bugis.

Namun, hantu-hantu semasa kita kecil dulu terancam punah, tereliminasi dan tidak dapat berkompetisi dengan hantu-hantu popular di tv layaknya pocong, tuyul, serta kuntilanak dan sejenisnya.

Mari kita coba mengingat satu persatu hantu-hantu tersebut, memikirkan kembali imaginasi masa kecil yang terbentuk dari cerita orang-orang dahulu. Beberapa hantu yang dimaksud antara lain:

1. DONGGA

Dongga digambarkan sebagai hantu dengan tubuh berupa bayangan hitam yang amat tinggi, dapat setinggi pohon kelapa. Ia suka menyembunyikan anak kecil sesudah malam tiba.

Anak yang disembunyi mungkin saja ada di lingkungan rumah namun tidak dapat dilihat oleh orang yang mencarinya.

Anak- anak yang diculiknya diberi makan berupa kalamayer atau kaki seribu, cacing tanah, serta kotoran binatang menjijikkan. Anehnya, anak-anak melihat layaknya seperti permen dan kotoran layaknya ketan.

Dongga atau hantu seperti ini menyembunyikan anak-anak tidak jauh dari rumah, biasanya di bawah tangga, di pohon-pohon, dan di semak-semak.

2. BOMBO PETONG

Bombo petong digambarkan bermuka buruk, hitam, rambut gondrong layaknya berkudung hitam pekat. Biasa menghuni tempat area yang gelap.

Anak kecil umumnya ditakut-takuti dengan bombo petong bila hendak ke area yang gelap ” onroko, engkatu bombo petong” yang artinya “awas, ada bombo petong”. Meskipun saya tidak pernah melihat, tapi bila menyebut bombo petong … ih merinding juga.

Baca Juga :  Songkok To Bone Masuk Warisan Budaya Takbenda Indonesia

3. ASU PANTING

Asu panting semacam serigala, ia bisa melompat dan lari yang amat cepat, dua kaki depannya lebih pendek dari kaki belakangnya. Jadi layaknya kangguru

Tak ada orang yang bisa bertemu langsung dengan asu panting ini, cuma dapat mendengar lolongannya yang khas waktu malam.

Meski begitu, yang beresiko dari asu panting, yaitu bulunya yang berguguran. Bulunya amat halus hingga tidak dapat tampak oleh mata, dan bila kita menginjak bulunya maka kaki kita dapat bengkak serta susah untuk sembuh.

Asu panting biasa juga memakan bawaan kita seperti daging mentah. Daging yang kita bawa biasanya habis dengan sendirinya tanpa kita ketahui. Orang Bugis menyebut asu panting itu adalah anjing peliharaan setan.

Menurut cerita Bugis kalau mau coba mengundang asu panting, caranya yaitu pada waktu malam hari siapkan daging mentah atau telur busuk (tello amporo) kemudian letakkan di tanah lapang yang agak jauh dari keramaian. Tunggu beberapa saat, asu panting pun hadir karena terpancing dengan bau anyir daging.

4. PARAKANG

Parakang yaitu manusia yang mempunyai pengetahuan siluman baik didapat dikarenakan salah studi pengetahuan kebatinan maupun yang didapatkan dari keturunan.

Parakang (pangiso pello) amat berisiko untuk anak kecil atau ibu-ibu yang tengah melahirkan dikarenakan adalah makanan kegemarannya. Tanda-tanda orang yang diisap parakang, yaitu sakit perut, keluar darah waktu buang air, bila tidak tertolong dapat meninggal.

Parakang dapat merubah dirinya menyerupai binatang atau benda. Terkadang berwujud kucing yang tidak mempunyai ekor, angsa putih, tempat ayam mengeram ( ampoti ). Apabila lari parakang dapat jadi bayangan putih yang memanjang.

Dalam situasi beralih dari wujud manusia ke bentuk parakang, yaitu ketika tertidur, jiwanya yang jalan ke sana kemari, bila kita memukul jiwanya yang berwujud hewan, maka jasad atau raganya di rumah menjadi kesakitan.

Baca Juga :  Uraian Mappacci pada Pernikahan Adat Bugis

Cerita perihal parakang sukar untuk dilupakan, dikarenakan masyarakat Bugis tetap amat mempercayainya. Satu lagi yang paling khas parakang mengenai ciri-cirinya, yaitu matanya yang merah dan sering jongkok di pinggir selokan/got.

Tapi ia paling suka di comberan rumah, dianggapnya sebagai danau yang banyak ikannya, saking senangnya mencari ikan ia tidak rasa kalau pagi sudah tiba. Dan pada saat itulah yang punya rumah melihatnya. Si parakang pun malu-malu dan memohon untuk tidak diceritakan kepada orang lain.

5. PAPPO’

Pappo’ sejenis dengan parakang tetapi perbedaannya yaitu poppo dapat terbang dengan menaruh isi perut atau ususnya di rumah. Ia hanya gentayang pada malam sampai subuh hari.

Yang diincar pappo yaitu orang sakit kronis. walau sejenis dengan parakang, ternyata keduanya tidak akur, hingga tempat yang banyak dihuni pappo tidak dihuni parakang.

Konon suara khas pappo jika kita mendengarnya kecil, maka bisa jadi dia dekat dan bila suaranya kita dengar keras, maka posisinya jauh dari kita.

Pappo’ juga suka mencuri buah-buahan milik orang seperti nangka dan mangga. Setelah keranjangya penuh lalu ia terbang ke rumahnya sambil mengeluarkan suara pa …po …pa … po …pa …po. Makanya ia dinamai pappo’.

Setiba di rumahnya, ia tidak masuk melalui pintu tapi mendarat di atap rumah karena usus atau isi perutnya ditaruh di bubungan rumah (timpa’ laja). Konon cerita, dahulu banyak pappo di daerah Sawitto Pinrang, entah benar tidaknya, hanya Tuhan yang tahu.

Itulah beberapa cerita hantu yang sering dikisahkan orang Bugis secara turun temurun dan masih diyakini keberadaannya sampai sekarang.