Sejarah Hubungan Bugis dengan Minang

1409

Jika Bugis meninggalkan jejak di Tanah Minang dan Tanah Melayu lainnya, maka di Tanah Bugis, orang-orang Minang juga meninggalkan satu jejak harum yang dicatat dalam semua naskah-naskah sejarah orang Bugis dan Makassar.

Jejak harum itu adalah kedatangan orang Minang untuk membawa Islam sebagai agama yang kemudian dianut mayoritas orang Bugis dan Makassar. Mereka adalah Datu Ribandang, Datuk ri Tiro dan Datuk Patimang yang datang membawa Islam pada abad ke-16 Masehi.

Sebelum Islam datang, jejak Minang di Tanah Bugis lebih dulu ada. Sejarawan mennyebut pada tahun 1542, seorang Portugis bernama Antonio de Paiva mendarat di Siang, sebuah kerajaan tua di pesisir selatan Makassar.

De Paiva adalah orang Eropa pertama yang tinggal di Sulawesi. Dalam laporannya, Paiva menyebutkan bahwa ketika ia mendarat di Pulau Celebes (Sulawesi), ia telah bertemu dengan orang-orang Melayu di Siang. Mereka mendiami perkampungan Melayu dengan susunan masyarakat yang teratur dan sudah berdiri Siang sejak tahun 1490 Masehi.

Sejak abad ke-16, karya-karya sastra Melayu juga telah diterjemahkan ke dalam bahasa Bugis-Makassar. Bahkan ketika Kerajaan Gowa di Makassar berdiri dan di pucak kejayaannya, banyak orang Melayu yang memegang peranan penting di Istana Gowa.

Bahkan Juru Tulis pada masa Sultan Hasanuddin adalah seorang Melayu bernama Tji’ Amien, yang kemudian menulis Hikayat Perang Makassar.

Orang-orang Melayu memiliki banyak peran dalam dalam menjadikan Gowa sebagai sebagai pusat ilmu pengetahuan pada masa itu. Itu bisa dilihat pada syair: “Kamilah orang-orang Melayu yang mengajar anak negeri duduk berhadap-hadapan dalam persidangan adat, mengajar menggunakan keris panjang yang disebut tararapang, tata cara berpakaian dan berbagai hiasan untuk para anak bangsawan.” (lihat Ince Manambai Ibrahim, “Sejarah Keturunan Melayu di Sulawesi Selatan”).

Baca Juga :  Papan batu sebagai alat tulis masa lalu

Patut pula dicatat, sastrawan besar Tanah Bugis, yang menyalin ulang kitab I La Galigo (yang ditahbiskan Unesco sebagai karya sastra terpanjang di dunia) adalah Tjolli’ Pujie atau Arung Pancana Toa. Nama lainnya adalah Ratna Kencana. Ibunya bernama Siti Jauhar Manikan, putri Inche Ali Abdullah Datu Pabean, Syahhandar Makassar di abad ke-19, orang keturunan Melayu-Johor berdarah campuran Bugis-Makassar.

Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah di Kota Makassar yang berbentuk rumah gadang, rumah khas Minang. Mengapa harus berbentuk rumah gadang? Salah seorang budayawan Sulsel mengatakan bahwa bentuk rumah gadang adalah pertanda jejak sejarah tentang sumbangsih berharga orang Minangkabau di tanah Makassar.

Berkat orang Mibangkabau, Islam menjadi sendi dan napas kebudayaan masyarakat Bugis-Makassar. Orang Minangkabau telah menunjukkan jalan terang yang kemudian menjadi titian orang Bugis dan Makassar untuk mengarungi bahtera kehidupan.

Memang, Zainuddin, sosok dalam novel karya Hamka, bukanlah lelaki peranakan Bugis pertama yang merambah Tanah Minang. Demikian pula ayah Zainuddin, Pendekar Sutan, bukanlah sosok Minang pertama yang merambah tanah Bugis.

Mereka adalah bagian dari kisah-kisah tentang indahnya proses belajar, proses mengunjungi, serta proses saling memperkaya dua budaya, yang jejak harumnya masih bisa ditemukan di masa kini.

Bahwa orang Bugis dan orang Minang terikat dalam satu tali-temali persaudaraan yang kuat, yang jejaknya bisa ditemukan dalam banyak literatur sejarah, serta dalam kisah-kisah kemanusiaan yang mengikat mereka sebagaimana dua kapal yang terus berjalan seiring dalam menghadapi tingginya gelombang samudera.

Jika kita tekun membaca catatan sejarah, ada kesamaan mendasar antara orang Bugis dan Minang. Sejak masa silam, kedua etnik ini terkenal dengan jiwa petualangan dan pengembaraannya sejak dahulu kala. Jika orang Melayu Minang amat terkenal dengan tradisi berniaganya, maka orang Bugis dikenal sebagai bangsa pelaut yang piawai membawa phinisi ke negeri-negeri yang jauh dan meninggalkan jejaknya di mana-mana.

Bahkan di negeri seperti Madagaskar dan Afrika Selatan pun telah dirambah orang Bugis. Jika lautan adalah medium untuk melanglang buana, maka sejak masa silam, orang Bugis dan Minangkabau telah bertemu di lautan dan memperkaya kebudayaan masing-masing.

Menurut beberapa sumber, orang Bugis telah memasuki Semenanjung Melayu pada abad ke-15. Banyak di antara mereka yang kemudian menjadi raja di Malaysia. Malah, ada pula orang Bugis yang kemudian menjadi sastrawan besar tanah Melayu yakni Raja Ali Haji, yang menulis Tuhfat-al Nafis, sebuah karya yang berisikan sejarah dan silsilah Melayu Bugis. Raja Ali Haji sangat kondang dengan karyanya gurindam dua belas.

Bukti-bukti hubungan Bugis dengan Minang juga ditandai dengan kekerabatan dan pernikahan yang hingga saat ini banyak orang Minang tinggal di Bone. Demikian juga banyak orang Bugis yang beranak pinak di Tanah Minang.

Baca Juga :  Apa Makna Kajao ?