Falsafah Bugis Rantau

795

JIKA mengupas tentang Bugis seakan tak ada habis-habisnya bagai membelah tirta samudera luas. Bugis dari kata UGI (ulu, gau,ise). Karenanya ia bisa jadi pemimpin (ulu), ia memiliki karakter dan prilaku (gau), dan kalau berlisan ia bertuah. Prinsip ada na gau senantiasa terpatri mengakar bagi generasinya.

Sesuai rumor Bugis setara lima bangsa di dunia Bugis, Inggris, Perancis, Swis, Portugis, semua berakhiran is. Tidak hanya itu, Bugis akronim dari besar-unggul-gigih, istimewa, super. Begitu terkenalnya suku yang satu ini sering orang menyebutnya, banyak uang ganti isteri. Tapi bukan itu yang penting melainkan catatan di bawah yang dirangkum dari berbagai sumber.

Kegasi Sanre Lopie Kositu Taro Sengereng

Di manapun perahu berlabuh, di disitu pula menanam budi baik

Falsafah Bugis ini berisi anjuran bagi perantau Bugis bahwa di manapun ia berada dalam perantauan, di manapun kaki berpijak harus bisa bersosialisasi dan menyesuaikan diri dengan adat istiadat setempat.

Hal itu dimaksudkan di daerah tempat tujuan seorang perantau Bugis harus menerima dan toleran terhadap kebiasaan masyarakat setempat. Tidak boleh merasa hebat dan merasa berlebih serta bertindak sesuka hati di tanah rantau.

Bugis rantau harus mampu meyakinkan kepada masyarakat setempat untuk bisa menerima sebagai bagian dari kehidupan mereka. Di mana bumi di pijak di sana langit dijunjung artinya haruslah mengikuti dan menghormati adat istiadat di tempat tinggal kita.

Bilamana hal tersebut diabaikan sudah barang tentu akan menyusahkan hidup sendiri. Sebagaimana pesan Bugis ” Jujung ade’ suleppang gau’ tennasalai siri” artinya adat dijunjung tinggi, membawa perilaku baik tanpa meninggalkan harga diri.

Falsafah Bugis Rantau

Semua orang tua, bahwa orang bugis adalah perantau. Apakah yang membuat orang Bugis doyan merantau?” dan “kenapa orang bugis banyak sukses di tanah rantau?”

Jusuf Kalla

Jusuf Kalla (JK) salah satu Begawan Saudagar Bugis mengatakan etos kerja orang Bugis sangat tinggi karena orang Bugis sangat kompleks kebutuhan hidupnya. Terutama saat ia sudah dewasa, mulailah berpikir untuk menikah, ingat pernikahan di Bugis tidak murah.

Setelah menikah berpikir lagi untuk memiliki rumah dan kendaraan. Menikah, punya rumah dan kendaraan tercapai, mereka ingin naik Haji. Naik Haji adalah simbol religius dan simbol strata sosial ekonomi bagi orang Bugis.

Baca Juga :  Uraian Tradisi Mappacci pada Pernikahan Adat Bugis Bone

Setelah semua itu tercapai, maka orang Bugis kembali lagi ke kebutuhan dasar tadi. Ingin menikah lagi, mulai lagi punya rumah baru, kendaraan baru, naik Haji lagi dan seterusnya.

Kebutuhan yang tinggi inilah yang membuat orang Bugis memiliki etos kerja keras. Tak hanya sukses di tanah rantau, orang Bugis di rantau juga mampu beradaptasi dengan lingkungan di mana mereka berkediaman.

Di beberapa daerah kehadirannya banyak mewarnai dinamika dan eksistensi masyarakat setempat. Di tanah Jawa mereka mampu hadir di tengah riuh rendah pergolakan di zaman kerajaan Mataram Islam, sehingga muncullah kampung Bugisan dan Daengan di Angke.

Di tanah para Dewa, mereka berbaur dengan masyarakat dan budaya Bali hingga muncullah kampung Serangan. Di daratan Sumatera, Kalimantan, Maluku, Nusa Tenggara, Papua bahkan hingga di luar negeri keberadaan mereka juga tercatat dalam sejarah dan benak masyarakat pribumi.

Entah itu catatan bertinta emas dan atau bertinta kelabu. Kemampuan mereka beradaptasi dengan masyarakat dan budaya setempat adalah kuncinya.

Khasanah budaya Bugis sendiri banyak mengajarkan falsafah-falsafah hidup sebagai kearifan lokal yang menjadi bekal bagi para perantau. Beberapa falsafah tersebut di antaranya :

PALETTUI ALEMU RIOLO TEJJOKKAMU

Falsafah ini mengajarkan kepada calon perantau agar tidak “merantau buta”, merantau tanpa arah dan tujuan yang jelas. Perantu Bugis sejati tidak merantau dengan mengikuti arah kaki ke mana hendak melangkah, tidak boleh berprinsip tegi monro tallenttung ajeku, konatu leppang (di mana kakiku terantuk, di sanalah saya berhenti). Prinsip ini bermakna dan bersugesti negatif.

Merantau harus disertai dengan kepastian akan tempat yang dituju, apa yang akan dikerjakan di sana, bahkan calon perantau harus meyakinkah ruh dan jiwanya sudah ada dan menyatu dengan negeri rantau yang akan dituju.

Seorang calon perantau misalnya ketika ingin merantau ke suatu daerah maka ia akan mencari informasi seperti apa daerah itu? Setidaknya seperti apa keramaian di sana dibandingkan dengan kota daerah sendiri?.

Baca Juga :  Pengertian Reseller dan Drop Shipper

Tentu ia harus mencari informasi seperti apa keramaian daerah tujuan, lalu membandingkan dengan keramaian di kampungnya. Ia harus mencari informasi bagaimana korelasi sosial daerah tersebut dibanding kampungnya sendiri.

Akkulu peppe’ko mulao, abbulu rompengko mulisu

Hukum ekonomi yang meminimalkan modal dan memaksimalkan keuntungan adalah inti yang diajarkan dalam falasafah ini. Seorang perantau, harus berangkat dengan bekal sedikit dan kelak jika pulang harus membawa hasil sebanyak-banyaknya.

Di luar ranah ekonomi, falsafah ini juga bermakna “lihatlah ketika engkau berangkat merantau engkau bukan siapa-siapa, maka saat engkau kembali nanti maka engkau harus menjadi orang terpandang”.

Pemaknaan ini cocok untuk mereka yang merantau dengan tujuan menimba ilmu atau mengejar jenjang karir, ataupun mereka yang merantau karena mengejar cintanya.

Engkakotu manguju melle, aja’ mutabbangkakengngi pada pasana Peneki, teggenne balu namele soro.

Niat yang teguh, tekad yang bulat, semangat yang membara harus terus terjaga, tak boleh luntur dalam perjalan ke negeri rantau bahkan saat berada di negeri rantau itu sendiri.

Seorang perantau harus berpegang pada niat, tekad dan semangatnya itu. Jika tidak, dikhawatirkan ia akan mundur atau surut jauh sebelum ia mencapai apa yang diimpikannya, mundur sebelum tiba di negeri rantau, mundur saat perjalannya bahkan sebelum sampai sepenggalan jalan.

Itu adalah ajaran inti dari falsafah ini yang secara harfiah bisa dialihbahasakan menjadi “adalah dirimu menuju hajat besar, janganlah jumawa karena bisa saja engkau seperti pasar di Kampung Peneki, pasar dengan penjual dan barang jualannya sangat sedikit sehingga tak sampai tengah hari pasarnya sudah bubar”

Pura babbara sompeku, pura tangkisi gulikku, ulebbireng tellengnge natowalia

Falsafah ini menegaskan bahwa seseorang yang telah memilih merantau sebagai jalan hidup, harus kukuh dengan pilihannya. Tidak boleh ada kata mundur apalagi batal tak jadi merantau, apapun risikonya.

Ibarat seorang pelaut yang telah memasang kemudinya (Pura tagkisi gulikku), sudah kukembangkan layarku (pura babbara sompeku’), lebih baik saya tenggelam dan tersungkur perahuku daripada harus surut (ulebbirengngi tellengnge natowalia).

Baca Juga :  Bone trend karena budayanya masih ada

Mundur, mengabaikan, mengingkari sebuah ikrar, janji, sumpah apalagi telah diumumkan atau diketahui oleh orang banyak adalah aib (siri’) bagi orang Bugis.

Harga diri menjadi jatuh tak berharga, seumur hidup akan dicemooh, dihinadinakan dan dihujat dengan kata paccocoreng manu’ mate (nyalimu ternyata hanya serupa kedutan pada dubur ayam yang telah disembelih).

Kegasi sanree lopiE kotisu to taro sengereng

Menggariskan sebuah perintah para perantau Bugis atas tidak jumawa, merasa dirinya hebat dan bertindak sesuka hati dan sekehendak perut di negeri rantau.

Perantau Bugis harus mampu bersosialisasi dan beradaptasi dengan lingkungan barunya. Ia harus mau menerima dan toleransi dengan adat dan budaya setempat, setelah ia mampu menyakinkan masyarakat setempat untuk menerimanya sebagai bagian dari masyarakat itu sendiri.

Ibarat pepatah Melayu, di mana bumi di pijak disana langit dijunjung. Maka falsafah Bugis ini bermakna, dimanapun perahuku kutambatkan, di sanalah saya menanam budi baik.

Falsafah-falsafah di atas adalah contoh kecil dari beragamanya kearifan lokal Bugis yang terkait dengan ikhwal rantau dan perantauan.

Selain falsafah di atas, masih ada satu falsafah bernada pelesetan. Berbunyi “ ANCAJI PONGGAWAO RILAOMU MAUNI PUNGGAWA PARAMPO PAKKADANGNGE (jadilah engkau pemimpin, meski sekadar pimpinan perampok).

Falsafah ini bermakna tirulah semangat perampok tetapi jangan ikuti perilakunya. Di mana seorang perampok dengan semangat yang tinggi untuk mengambil dan menguasai suatu yang diinginkan. Coba simak puisi di bawah ini.

CINGARANA UGIE

pasibukke’ sai
lise’ cenranae
na irita sonrae

pasitumba’ sai
lise’na sampo genoe
na irita milla’e

pasiburu’ sai
sadda mparanie
na irita mpatie

pasilanro sai
poppa bune’e
na irita reppa’e

itawa’ !!!
sangadi maretto tellui
lise’na cenranae
kuaddampeng soro

Terjemahan :

CINGARANA UGIE
(amarah bugis)

peradukan
badik dari sarungnya
kita lihat yang miring

perhadapkan
jimat di leher
kita lihat yang berkilau

peradu abukan
teriak yang berani
kita lihat yang menangis

adu benturkan
paha teguh kukuh
kita lihat yang rebah

tatap aku !!!
ku tak mundur setapakpun
kecuali senjata
sudah patah tiga

Oleh : Mursalim