Filosofi Rumah Bugis

1898

Ragam budaya dan suku bangsa di Indonesia masing-masing mempunyai sisi keunikan tersendiri, salah satunya adalah bentuk rumah tempat tinggalnya.

Rumah adat sebagai simbol dari setiap suku di Indonesia mempunyai konsep dan bentuk berbeda beda. Misalnya Rumah Panggung Suku Bugis di Sulawesi Selatan.

Rumah Panggung Bugis umumnya berbentuk persegi empat memanjang ke belakang. Pada atap rumah suku Bugis berbentuk prisma. Uniknya konstruksi bangunan rumah ini dibuat secara lepas-pasang sehingga dapat dipindahkan dari satu tempat ke tempat lainnya.

Bagi orang bugis rumah lebih dari sekadar tempat berteduh atau objek materil yang indah dan menyenangkan. Namun mereka memandang rumah adalah ruang sakral di mana orang lahir, kawin dan meninggal dan di tempat ini pula kegiatan-kegiatan sosial dan ritual tersebut diadakan.

Dari segi konstruksi bangunan rumah panggung orang Bugis tidak hanya memberi representatif terhadap karya seni manusia, tetapi juga membawa simbol-simbol kehidupan kosmologi manusia Bugis.

Bentuk rumah, susunan, ruang dalam rumah tidak hanya fungsional tapi juga memiliki makna simbolis dari setiap ruang dan susunan dari rumah tersebut.

Berikut simbol-simbol konstruksi rumah panggung yang diyakini orang Bugis, yaitu:

1. SULAPA EPPA (EMPAT SISI)

Dalam budaya Bugis simbol Empat Sisi punya makna filosofis tersendiri. Konsep empat sisi ini menurut pandangan hidup masyarakat Bugis, yaitu berkenaan bagaimana memahami alam semesta secara universal.

Dalam falsafah dan pandangan hidup mereka terdapat istilah SULAPA EPPA yaitu sebuah pandangan dunia empat sisi yang tertujuan untuk mencari kesempurnaan ideal dalam mengenali dan mengatasi kelemahan manusia itu sendiri.

Menurut pandangan hidup Bugis, bahwa segala sesuatu baru dikatakan sempurna dan lengkap jika memiliki SULAPA EPPA atau EMPAT SISI.

Baca Juga :  Bone Tuan Rumah Festival Sempugi 2018

Demikian pula pandangan mereka tentang rumah, yaitu sebuah rumah akan dikatakan BOLA GENNE’ (rumah sempurna) jika berbentuk segi empat, yang berarti memiliki empat kesempurnaan.

2. TIGA TINGKATAN ALAM (MAKROKOSMOS)

Adapun tiga alam filosofi bentuk rumah Bugis, artinya rumah bagi orang Bugis tidak sekadar tempat tinggal atau obyek materiil yang indah dan menyenangkan, namun lebih di arahkan kepada kelangsungan hidup manusia secara kosmis.

Oleh karena itu, konstruksi rumah tradisional Bugis sangat dipengaruhi oleh pemahaman atas struktur kosmos.

Menurut pandangan hidup masyarakat Bugis zaman dahulu, simbol alam raya (makrokosmos) tersusun atas tiga tingkatan, yaitu:

1. ALAM ATAS (BOTTING LANGI)

Botting Langi dipersonifikasikan pada bagian atas rumah yaitu ATAP. Di mana bagian ATAP adalah tempat para dewa yang dipimpin oleh satu dewa tertinggi bernama Dewata SeuwaE /Dewa Tunggal / Batara Guru.

2. ALAM TENGAH ( ALE LINO)
Alam tengah adalah bumi yang dihuni oleh para wakil dewa tertinggi untuk mengatur hubungan manusia dengan dewa tertinggi, serta mengatur jalannya tata tertib kosmos.
Dipersonifikasikan dengan bagian tengah rumah yaitu badan rumah, tempat manusia melangsungkan kehidupannya.

3. ALAM BAWAH (URI LIU)

Alam bawah adalah tempat yang paling dalam yaitu berada di bawah air. Dipersonifikadikan sebagai kolong rumah.

Berdasarkan pandangan hidup tersebut, maka konstruksi rumah tradisional Bugis harus terdiri tiga tingkatan, yaitu:

1) RAKKEANG (alam atas)
Rakkeang adalah ruang antara penutup atap dan langit-langit/plafon. Berfungsi sebagai tempat penyimpanan bahan pangan, dan tempat penyimpanan benda pusaka.

2) ALE BOLA (alam tengah)
Ale Bola adalah ruang yang terletak antara langit-langit dan lantai rumah. Berfungsi sebagai ruang hunian, tempat manusia melakukan segala aktiflvitas, menerima tamu, berkumpul dengan keluarga, beristirahat, tidur, makan dan memasak.

Baca Juga :  Bagian tubuh manusia yang disukai jin

3) AWA BOLA (alam bawah)
Awa Bola adalah ruang yang terletak antara lantai rumah dan tanah. Berfungsi sebagai tempat bersantai, bermain, tempat menyimpan alat-alat pertanian dan binatang ternak.

3. TINGKATAN SOSIAL

Orang Bugis juga mengenal sistem tingkatan sosial yang dapat mempengaruhi bentuk rumah mereka, yang ditandai dengan simbol khusus. Berdasarkan pelapisan sosial tersebut, maka bentuk rumah tradisional orang Bugis dikenal dengan istilah SAORAJA dan BOLA.

SAORAJA berarti rumah besar, yakni rumah yang ditempati oleh keturunan raja atau kaum bangsawan, sedangkan BOLA berarti rumah biasa, yakni rumah tempat tinggal bagi rakyat biasa.

Dari segi struktur dan konstruksi bangunan, kedua jenis rumah tersebut tidak memiliki perbedaan yang prinsipil. Perbedaannya hanya terletak pada ukuran rumah dan status sosial penghuninya.

Pada umumnya, SAORAJA lebih besar dan luas daripada BOLA yang biasanya ditandai oleh jumlah tiangnya. SAORAJA memiliki 40-48 tiang, sedangkan BOLA hanya memiliki 20-30 tiang.

Sementara perbedaan status sosial penghuninya dapat dilihat pada bentuk tutup bubungan atap rumah yang disebut dengan TIMPA’ LAJA.

Bangunan SAORAJA memiliki TIMPA’ LAJA yang bertingkat-tingkat, yaitu antara 3 hingga 5 tingkat, sedangkan TIMPA’ LAJA pada bangunan BOLA tidak bertingkat alias polos.

Jadi semakin banyak jumlah tingkat timpa’ laja sebuah Saoraja, semakin tinggi pula status sosial penghuninya.