Jimat Bugis

350

Dalam kehidupan sehari-hari suku bugis, sangat sarat dengan yang namanya PEMMALI ( pantangan ). Dari pagi sampai sore hingga malam bahkan sampai pagi itu kembali semua ada PEMMALI nya. mungkin karena adanya PEMMALI tersebut maka leluhur-leluhur  Bugis menciptakan aneka macam mantera, baik itu untuk menolak bala akibat dari melanggar PEMMALI tersebut, mengobati, bahkan untuk melawan PEMMALI itu sendiri.

Contoh mantera untuk penjaga diri dari siang sampai malam : ” ALIPU TOANA PUANG ALLAH TAALA TETTONG RIOLOKU. ALIPU ESSO WENNI”.

artinya : ALIF TUANYA ALLAH SWT BERDIRI DI DEPANKU. ALIF YANG BERDIRI SIANG MALAM.

Dalam lontara Bugis, bahasa tersebut diatas adalah hanya merupakan susunan kata yang sangat indah tapi sarat dengan makna. Akan tetapi dengan keyakinan penuh, leluhur bugis menggunakannya setiap mau tidur dan bangun tidur sehingga tercipta semacam dinding yang tebal di sekujur tubuh mereka, yang merupakan kumpulan energi positif, yang sekarang kita kenal dengan istilah AURA. Energi positif itu tercipta akibat sugesti yang setiap hari mereka ucapkan untuk diri sendiri melalui mantera tersebut.

Selain untuk penjagaan diri, ada juga mantera untuk pengasihan. Mantera pengasihan ini bertujuan agar setiap orang yang berjumpa dengan kita merasa senang, simpati, dan lain-lainnya.

Contoh : ” MINYA’-MINYA’NA  TO RIOLOKU’ WAMMINYNYA’, KU ENRE TUDANG RI MATANNA ESSOE, MATANNA ESSOE MATANNA YANU LANU KU IYYA”. artinya kurang lebih begini : ” MINYAK WANGINYA LELUHURKU YANG KUPAKAI, SAYA NAIK DUDUK DI MATAHARI, MATAHARI, MATANYA SI ANU DAN SI ANU SAMA SAYA”.

Adapun syaratnya, sebelum mantera di ucapkan, terlebih dahulu siapkan minyak rambut atau minyak wangi. Oleskan di telapak tangan, lalu ucapkan manteranya dengan keyakinan, kemudian tiupkan ke minyak tadi, lalu usapkan di rambut atau di kening. Itu untuk pengasihan umum agar disenangi orang banyak.

Baca Juga :  Perbedaan kata TAU dan TO dalam bahasa Bugis

Untuk pengasihan khusus lain juga. Pengasihan jenis inilah yang paling banyak dipelajari oleh pemuda-pemuda Bugis. Tujuannya untuk menambah rasa percaya diri dalam upaya menjalin sebuah hubungan khusus dengan seorang gadis.

Mantera jenis ini mungkin ada puluhan, ratusan bahkan ribuan mantera dalam olah bahasa, tata cara dan saat penggunaan yang berbeda-beda.

Contoh : apabila baru berkenalan dengan seorang gadis, para pemuda berusaha mengetahui kesan gadis tersebut, mau dirayu, senang apa tidak. Mantera yang seperti ini disebut PATTIRO ATI  atau MENERAWANG HATI. Bunyi manteranya kurang lebih seperti ini : ”  MASSURO, USURO, NALETTUKI SURO. ISSENGENGNGA MELONA (SEBUT NAMANYA ) KU IYYA, KU MELOI PAKKARAWA RIASEKENGNGA, KUTEAI PAKKARAWA RIYAWANGENGNGA”. artinya ” YANG MENGUTUS,YANG DIUTUS,YANG DIUTUSKAN, BERI TAHU RASA SUKANYA ….  KEPADA SAYA. KALAU DIA SUKA, DIA MEMEGANG KE ATAS. KALAU DIA TIDAK SUKA, DIA MEMEGANG KE BAWAH”.

Setelah tanda didapatkan, barulah para pemuda berusaha menggaet gadisnya dengan mantera pengasihan khusus. Ada yang melalui pandangan mata, asap rokok, senyuman, sentuhan, mimpi, dan sebagainya.

Contoh mantra melalui pandangan mata : ” I NANI RI MATAMMU” 3 X atau ” DUPPA MATA ERU MATA, ERU MADDUPA RI MATA” 3X

Contoh mantera melalui sentuhan ”  PUAKKU SEUWWAE, BARUMPUNNA TANA UGI, PAKKASILAMPANA TANA MENRE’, IYYAPA NAMANYAMENG” 3X.

Contoh mantera melaui senyuman ” MICCU PUTENA UWALA” 3X

Contoh mantera melalui mimpi dan ini yang paling keras ” PURANI USIO TUBUMMU UPATTAMA RI TUBUKKU, PURANI USIO ATIMMU UPATTTAMA RI ATIKKU” 3X. Dan masih banyak yang lainnya dalam pengaplikasian yang berbeda-beda.

Selain mantera di atas, mantera yang di pelajari pemuda Bugis adalah yang berhubungan dengan bela diri, seperti AKEBBENGENG atau ilmu kebal, PALLISE’ PAJJAGGURU’ atau pukulan mematikan, PAJJORI TANA atau pagaran diri menggunakan media tanah.

Baca Juga :  Anak itu Menangis di Hadapan Ibunya

Konon, Tanah yang sudah digaris dengan PAJJORI TANA, benda atau mahluk apapun tidak akan bisa melewatinya. ada juga namanya PAGGERA’ KAMPONG atau ilmu untuk menundukkan massa. ada juga namanya PAJJELO ALIPU atau telunjuk alif. Konon, orang yang sudah ditunjuk dengan menggunakan ilmu ini, akan kehilangan semangat hidup, tidak dihargai oleh orang lain, dan akan kurus kering. Walahu A’lam BIsshawab. Hanya Allah SWT yang Maha Benar.

Itulah mantera-mantera tetua-tetua Bugis. dan masih banyak yang lainny tidak tertulis di sini.

Pesan Leluhur Bugis seakan tak ada habisnya. Pesan itu sarat dengan nilai jika dikaji dengan baik. Apabila hanya dibaca secara tersurat saja maka kita hanya berada pada posisi “sekadar mengetahui, tetapi tidak memahami “.

Umumnya pesan-pesan tetuah Bugis bermakna simbolis,kias, dan konotatif. Untuk dapat memahami isi pesan yang terkandung, maka dibutuhkan kajian kata dan kalimat yang lebih mendalam secara denotatif (makna kata yang sebenarnya).

Silakan simak berikut ini :
Bulu temmaruttunna Alla Taala, kuonroi maccalinrung, Engkapa balinna Alla Taala na engka balikku, Mette’ka tenribali, massadaka tenri sumpala.

Terjemahan :
Gunung yang kukuh adalah milik Allah, yang kutempati berlindung, Tidak ada yang dapat menandingiku kecuali jika ada yang dapat menandingi Allah yang Maha Kuasa. Kalau saya berbicara tidak ada lagi yang dapat menyahut, dan kalau saya berpendapat tidak ada lagi yang bisa menyanggah.

Ungkapan di atas apabila hanya dibaca tanpa dimaknai, maka kita hanya mengetahui bagian kulitnya saja. Padahal ungkapan di atas sering dijadikan orang Bugis menjadi sebuah “Jimat Kehidupan”.
Untuk bisa menjadikannya sebagai Jimat yang ampuh tentu tak semudah membalik telapak tangan. Bagaimana membuatnya sebagai Jimat Ampuh? tidak sekadar ditulis kemudian dibungkus lalu kemudian dipasang di pinggang celana (riapponceng).

Baca Juga :  Filosofi Rumah Panggung

Jimat itu paling tidak harus memenuhi syarat yang harus dilakukan dan dipatuhi. Persyaratannya harus memahami makna ” Lima Temmassarang Asera Temmallaiseng “.

I. Lima Temmassarang (lima tak bercerai berai), yaitu :

NINIRIWI DUWWAE
PUADAI SEDDIE
PUGAUI DUWWAE
ENGNGERANGNGI DUWWAE
ALLUPAI DUWWAE

1. Aja mucaccai pojinna tauwwe
2. Aja murekengngi appunnangenna tauwwe
3. Puwadai anu sitinajae weddingnge naporio tauwwe
4. Pegaui gau weddingnge napudeceng tauwwe
5. Pegaui ampe kedo temmasolae tenrisumpala
6. Engngerangngi pappedecenna tauwwe lao ri idi
7. Engngerangngi atassalammu lao ri tauwwe
8. Allupai pappedecemmu lao ri tauwwe
9. Allupai atassalanna tauwwe lao ri idi

II. Asera Temmallaiseng (sembilan tak terpisahkan), yaitu :
HINDARI 2 (dua)
KATAKAN 1 (satu)
LAKUKAN 2 (dua)
INGAT 2 (dua)
LUPAKAN 2 (dua)

Penjelasan :

ANINIRIWI DUWWAE (hindarilah yang dua), yaitu :
1. Aja Mucaccai pappojinna tauwwe (jangan mencela kesukaan orang lain)
2. Aja Murekengngi apunnangenna tauwwe (jangan menghitung harta milik orang lain).

PUWADAI SEDDIE (katakan yang satu), yaitu :
1. Puwadai anu sitinajae weddingnge naporio tauwwe (katakan hal yang wajar yang bisa menyenangkan orang lain).

PUGAUI DUWWAE (lakukan yang dua), yaitu :
1. Pugaui anu weddingnge napodeceng tauwwe (lakukan hal yang bisa memperbaiki orang lain).
2. Pegaui ampe kedo temmasolae tenrisumpala (lakukanlah sesuatu dengan prilaku yang baik dan tak tersanggah/terbantahkan)

ENGGERANGNGI DUWWAE (ingatlah yang dua), yaitu :
1. Engngerangngi pappedecenna tauwwe lao ri idi (ingatlah kebaikan orang kepada kita)
2. Engngerangngi atassalammu lao ri tauwwe (ingatlah kesalahanmu kepada orang lain)

ALLUPAI DUWWAE (lupakan yang dua), yaitu :
1. Allupai pappedecemmu lao ri tauwwe (lupakan kebaikanmu kepada orang lain)
2. Allupai atassalanna tauwwe lao ri idi (lupakan kesalahan orang lain kepada kita)