Filosofi Rumah Panggung

160

Rumah panggung, nama yang begitu dekat ditelinga kita. Otomatis terlintas di benak rumah tradisional, rumah yang berada di pedesaan, rumah yang memiliki tiang, rumah yang memiliki tangga, kolong rumah yang digunakan untuk menyimpan sesuatu, kadang dijadikan kandang hewan, atau kolong rumah yang digunakan untuk bercengkrama. Banyak gambaran yang mengidentitaskan rumah panggung.

Rumah panggung dimiliki hampir di seluruh daerah di Indonesia. Rumah panggung disetiap daerah memiliki ciri sendiri, mulai dari jenis rumah, tinggi panggung, bentuk tangga, bentuk atap, luas rumah, sampai posisi rumah terhadap lingkungan sekitar.

Menurut ketinggian panggung, rumah panggung dibedakan dua jenis yaitu: rumah panggung yang memiliki tinggi lebih dari 1 meter, dan rumah panggung dengan ketinggian tidak sampai 1 meter. Fungsi kolong rumah panggung disesuaikan dengan ketinggiannya. Ketinggian yang kurang dari 1 meter biasanya digunakan untuk ruang penyimpanan atau kandang. Sedangkan ketinggian yang lebih dari 1 meter biasanya digunakan sebagai ruang bersama bersosialisasi.

Ruang bersama untuk bercengkrama dengan anggota keluarga atau tetangga. Sesuai dengan karakter orang Indonesia yang ramah dan sangat erat hubungan dengan orang sekitar, maka rumah yang memiliki ruang sosial sangat cocok.

Di beberapa daerah tertentu, ruang bawah rumah panggung ini digunakan sebagai ruang menenun seperti di kampung bugis. Setiap hari mereka berkumpul untuk melakukan rutinitas menenun bersama. Aktivitas ini selain memberikan nilai sosial juga kreativitas.

Perbedaan antara rumah panggung dengan rumah bertingkat? Secara fisik mungkin hampir sama, tetapi sebenarnya rumah panggung memiliki alat transportasi vertikal atau tangga terletak di sisi luar rumah. Hal ini bisa dijelaskan bahwa kolong rumah digunakan sebagai fungsi lain tidak sebagai jalur sirkulasi.

Rumah panggung tradisional sesuai fungsinya terdiri dari 2 jenis, yaitu rumah jamak dan rumah tunggal. Rumah jamak, digunakan untuk beberapa keluarga dengan segala aktivitasnya. Sedangkan rumah tunggal digunakan untuk satu keluarga dalam satu rumah.

Kolong yang dibiarkan kosong, memungkinkan udara bergerak sehingga meminimalkan kelembaban yang berada di kolong panggung. Tanah di kolong panggung menjadi kering, sehingga udara lembab tidak naik sampai di lantai rumah panggung.

Baca Juga :  Bone Tuan Rumah Festival Sempugi 2018

Lantai rumah panggung biasanya terbuat dari bambu, sehingga sirkulasi udara masih bisa melewatinya. Selain itu, sirkulasi udara naik dari kolong bisa bertukar dengan bukaan-bukaan pada dinding rumah. Dinding rumah panggung sunda terbuat dari bilik, sehingga dinding rumah ini seperti berpori.

Salah satu alasan rumah panggung sedikit sekali jendela, karena dinding sudah berpori. Untuk menahan dingin, mereka memperkecil luas jendela. Kelemahannya, pencahayaan kurang masuk ke dalam ruang. Sehingga ruang menjadi gelap.

Disadari atau tidak kearifan rumah panggung, memberikan arti penyerapan air hujan untuk sampai lagi ke dalam tanah. Permukaan tanah yang tidak tertutup memungkinkan air kembali lagi ke dalam tanah. Sehingga meminimalkan kemungkinan banjir. Bayangkan berapa persen dari permukaan tanah yang tidak ditutup oleh perkerasan sehingga air hujan dapat masuk lagi ke dalam tanah.

Rumah Panggung Modern

Konsep rumah panggung sebagai rumah tradisional Indonesia, adalah rumah yang sudah teruji. Tetapi seiring perkembangan budaya dan teknologi, rumah modern menggeser keberadaan rumah panggung trandisional. Rumah modern yang langsung berada di atas tanah langsung, bukan rumah panggung menjadi tren saat ini.

Konsep rumah panggung yang merupakan rumah sosial dan rumah tropis yang hemat energi juga pelan-pelan mulai ditinggalkan. Di depan rumah tidak ada lagi teras, semua dinding tertutup dengan sedikit terbuka, penggunaan AC dipakai hampir di seluruh ruangan.

Sebenarnya rumah midern bisa diperbaiki dengan tetap menggunakan konsep panggung, tetapi panggung modern yang tidak lagi untuk menyimpan sesuatu, bukan lagi sebagai teras rumah, tetapi bisa untuk resapan air.

Rumah panggung pun bisa tampil cantik dan bisa menjawab permasalahan di kota besar saat ini. Kearifan arsitektur lokal dapat dimodifikasi sehingga mendapatkan karya yang inovatif sehingga dapat tetap diaplikasikan pada masa kini.

Filosofi Rumah Panggung

Rumah panggung sempurna adalah rumah panggung yang bagian bawahnya (kolong rumah) setinggi sekitar 2,5 meter. Hampir semua rumah adat, misalnya Bolasoba di di Bone adalah rumah panggung sempurna, yang bagian bawahnya bisa difungsikan untuk berbagai tujuan: lego-lego, bale-bale untuk istirahat, tempat menyimpan hasil pertanian, parkir kendaraan dan lain-lain.

Baca Juga :  Pernahkah Anda kurang ingat berapa rakaat yang telah dikerjakan?

Namun di beberapa wilayah, kita bisa menemukan rumah panggung yang tanggung, yang bagian bawahnya (kolong rumah) hanya setinggi sekitar satu meter (bahkan kurang), yang banyak ditemukan di kampung bugis.

Alasannya, konon karena dulu, Mamuju merupakan wilayah yang rawan gempa dan angin kencang, makanya warga membangun rumah panggungnya dengan ketinggian yang tanggung.

Atap (Bubungan) berbentuk kerucut sokkoreng

Bubungan (atap) yang berbentuk kerucut pada rumah panggung, konon merupakan cara menyiasati sinar matahari, pada jam-jam panas di siang hari.

Dengan bentuk kerucut, sengatan matahari tidak menabrak permukaan atap secara langsung, karena sengatan itu akan tergelincir mengikuti kemiringan atap yang berbentuk kerucut itu.

Rumah panggung dua badan

Ada rumah panggung “satu badan”, yang hanya memiliki satu bubungan yang berbentuk kerucut, dengan lebar badan rumah rata-rata 7-8 meter.

Tapi juga mudah ditemukan rumah panggung dua badan (punya dua bubungan), dan lebar badan rumahnya sekitar 15-16 meter. Rumah dua badan ini, dulu merupakan salah satu indikator kemakmuran pemilik rumah. Sekarang tidak lagi, sebab sudah banyak rumah satu badan yang lebih mahal biayanya dibanding rumah berbadan dua.

Rumah panggung dengan tiang-tiang yang lurus

Membangun rumah panggung saat ini memerlukan biaya tinggi. Karena itu sangat jarang sebuah rumah panggung, yang menggunakan tiang yang semuanya lurus, kecuali tiang-tiang di bagian depan. Artinya setiap rumah selalu menggunakan tiang yang agak-agak bengkok.

Tapi pada zaman kolonial tiang bengkok disiasati dengan cara membungkus tiang dengan papan kayu seperti lantai II Mess Bouland Watampone.

Di wilayah Sulawesi Selatan, rumah panggung yang menggunakan tiang kayu dengan kelurusan yang nyaris sempurna, dan umumnya terbuat dari kayu besi, dapat ditemukan di wilayah-wilayah kampung bugis.

Kenapa rumah panggung kayu dan bukan rumah Jawa?

Bagi orang Sulawesi, rumah batu yang lantainya menempel ke tanah, biasanya disebut “Rumah Jawa”, yang mulai dikenal secara luas di Sulawesi sejak terjadi transmigrasi angkatan pertama ke Sulawesi, di zaman Bung Karno sekitar 1959. Tidak aneh, di wilayah Sulawesi Barat, misalnya, ada sebuah kecamatan bernama Kecamatan Wonomulyo, dan semua desanya memakai nama-nama Jawa: Desa Kediri, Desa Sumberjo, Desa Bumiayu dan seterusnya.

Baca Juga :  Zaman Now, Zaman Sekarang

Pertanyaannya, kenapa orang Sulawesi jaman dulu pada umumnya membangun rumah panggung kayu, dan bukan “rumah jawa” dari batu-semen.

Ada sejumlah alasan yang sangat praktis dan rasional, sekaligus merupakan kearifan melakoni kehidupan keseharian, yang digali dan/atau mengacu pada tuntutan lokal.

Rumah kayu menjadi pilihan, karena material bangunan yang tersedia di depan mata dan mungkin relatif murah ketika itu adalah kayu. Belum ada pabrik semen dan tradisi membuat batu bata belum dikenal.

Aslinya, semua rumah panggung menggunakan atap rumbia, yang dianyam. Alasannya, mungkin karena kerajinan membuat genteng dari tanah liat, belum dikenal. Atap rumbia juga relatif mudah diperoleh dan kadang gratis. Atap rumbia juga diyakini dapat meredam sengatan terik matahari, dan akhirnya cuaca di dalam rumah lebih sejuk, di musim panas sekalipun. Sekarang sudah banyak rumah panggung yang menggunakan atap seng, dan akibatnya, cuaca di dalam rumah pun gerahnya minta ampun.

Salah satu ciri khas utama rumah panggung kayu adalah semua bagiannya pasti ada celah ke udara bebas. Sebab lantai atau dinding rumah yang terbuat dari papan kayu, dibuat serapat apapun, pasti ada celah sekecil dan setipis apapun, yang membuat sirkulasi udara menjadi sangat alami.

Penghuni tidak perlu pasang AC. Makanya, generasi Sulawesi yang dilahirkan dan hidup di rumah panggung kayu, jarang terserang sempol atau semmeng polo (masuk angin), sebab mereka sudah akrab dengan angin sejak kecil.

Bandingkan misalnya dengan rumah petak di kota-kota besar, saat ini, yang memiliki ruang terbuka ke udara bebas hanya di bagian depan. Sementara bagian belakang, samping kanan-kiri, tak ubahnya seperti kotak saja. Apalagi rumah BTN sirkulasi udara nyaris tidak ada. Ya seperti rumah tempat tinggalku saat ini.