Lontara’ Ugi

219

Lontara’ Ugi

Aksara Bugis disebut sebagai aksara (lontara’). Karena pada awalnya, media yang digunakan untuk menulis adalah daun lontara’ atau ta (t), bahasa Latinnya, yaitu Borassus flabelliformis. Sedangkan, alat untuk menulis adalah kl (kallang) yang terbuat dari ijuk pohon lontara’ atau enau.

Huruf Lontara’ Ugi

Bentuk lontara’ mengalami beberapa transformasi dari masa ke masa, sehingga terdapat bermacam bentuk. Tetapi, yang umum digunakan hingga sekarang ini adalah (lontara’ urupu’ sulapa’ eppa), yang berarti huruf segi empat. Hal ini, dikarenakan bentuk dasar huruf tersebut adalah segiempat.

Lontara’ terdiri dari 23 aksara yang disebut ina sure’ (huruf induk) dan 5 ana’ sure (anak huruf) yang berfungsi sebagai huruf vokal atau pembeda diakritik. Ada dua macam ana’ sure’, yaitu tetti’ (titik) dan kecce’
(e—, —o, —E)

Dalam aksara lontara’ tidak terdapat huruf kapital, seperti pada bahasa Indonesia. Sehingga, awal huruf pada sebuah kalimat,
ukurannya saja yang lebih besar daripada huruf lainnya. Selain itu, tidak terdapat tanda titik dua, koma, dan sebagainya. Yang ada hanyalah tanda titik tiga (.), berfungsi sebagai pallawa atau pemisah antar kalimat.

Pada umumnya, lontara’ Bugis sama dengan lontara’ Makassar. Namun, dalam aksara lontara Makassar, tidak terdapat aksara K(ngka), P(mpa), R(nra), C(nca). Serta, tidak adanya ana sure’ —E

Setiap ina sure’ dapat diimbuhi dangan 5 macam ana’ sure’, yaitu :

1.Tanda titik di atas (tetti’ ri yase’) berfungsi mengubah bunyi vokal “a” menjadi “i”. Contoh :
k menjadi ki

2.Tanda titik di bawah (tetti’ ri yawa) berfungsi mengubah bunyi vokal “a” menjadi “u”. Contoh :
k menjadi ku

3.Tanda di belakang (kecce’ ri munri’) berfungsi mengubah bunyi vokal “a” menjadi “o”. Contoh :
k menjadi ko

Baca Juga :  Konsep Sapulidi

4.Tanda di depan (kecce’ ri yolo) berfungsi mengubah bunyi vokal “a” menjadi “e (vokal e, spt pd kata sate)”. Contoh : k menjadi ek

5.Tanda di atas (kecce’ ri yase’) berfungsi mengubah bunyi vokal “a” menjadi “e (vokal e, spt pd kata pesawat “. Contoh : k menjadi kE

Sampai saat ini tercatat 706 bahasa daerah yang tersebar dari Sabang sampai Marauke. Di antara 100-an bahasa di Indonesia itu, hampir separuhnya terdapat di Irian Jaya, yaitu sebanyak 248 bahasa.

Tidak semua bahasa daerah yang tersebar di nusantara ini memiliki aksara untuk merekam nilai-nilai budaya yang ada dalam masyarakat pemilik bahasa itu.

Bahasa daerah yang memiliki aksara adalah bahasa Jawa, Bali, Sunda, Bugis, Batak, dan Rencong. Salah satu bahasa daerah yang cukup beruntung adalah bahasa Bugis. Dikatakan cukup beruntung karena bahasa daerah ini memiliki aksara yang dapat merekam atau mencatat nilai-nilai luhur yang disebut “Paseng” ( pesan ) dan atau Pangadereng (adat istiadat).

Hasil catatan atau manuskrip tersebut disebut lontara. Aksara Bugis digunakan mencatat manuskrip-manuskrip dikenal dengan sebutan aksara lontara’.

batik lontara'

Batik Lontara Bugis

Aksara lontara merupakan lambang identitas daerah dan alat transformasi nilai-niiai luhur yang sangat berharga karenanya harus dijaga. Bahkan saat ini upaya pelestarian lontara Bugis juga dilakukan melalui seni batik dengan menjadikan motif lontara Bugis.

Saat ini motif batik Bugis juga tengah berkembang di Bone. Jenis batik itu disebut Batik Lamakkawa. Di mana motifnya seperti motif yang terdapat pada keris Lamakkawa senjata Arung Palakka.

Batik Lamakkawa dari Bone