Konsep Good Governance Kajao Lalliddong

151

Tata laksana pemerintahan yang baik good governance) yang muncul dewasa ini adalah seperangkat proses yang diberlakukan dalam menentukan keputusan.

Tata laksana pemerintahan yang baik ini walaupun tidak dapat menjamin sepenuhnya segala sesuatu akan menjadi sempurna namun, apabila dipatuhi jelas dapat mengurangi penyalahgunaan kekuasaan dan korupsi.

Banyak badan-badan donor internasional, seperti IMF dan Bank Dunia, mensyaratkan diberlakukannya unsur-unsur tata laksana pemerintahan yang baik sebagai dasar bantuan dan pinjaman yang akan mereka berikan.

Tata laksana pemerintahan yang baik ini dapat dipahami dengan memberlakukan delapan karakteristik dasarnya yaitu: Partisipasi aktif,
Tegaknya hukum,Transparansi, Responsif, Berorientasi akan musyawarah untuk mendapatkan mufakat, Keadilan dan perlakuan yang sama untuk semua orang, Efektif dan ekonomis, Dapat dipertanggungjawabkan.

Berlakunya karakteristik-karakteristik di atas biasanya menjadi jaminan untuk:
1. Meminimimalkan terjadinya korupsi,
2. Pandangan minoritas terwakili dan dipertimbangkan, dan
3. Pandangan dan pendapat kaum yang paling lemah didengarkan dalam pengambilan keputusan.

Prinsip-prinsip tata laksana pemerintahan (good governance) di tersebut di atas bagi orang Bugis bukanlah barang baru. Prinsip-prinsip tersebut sudah ada sejak zaman kerajaan Bone.

Kajao Laliddong lahir pada masa pemerintahan Wé Benrigau, Ratu Bone ke-4 dan diperkirakan meninggal di Kampung Laliddong pada masa pemerintahan La Inca’, Raja Bone ke-8.

Dikenal sebagai seorang cendikiawan, negarawan, dan diplomat ulung yang buah pikirannya menjadi konsep pangadereng yang kemudian bermetamorposis menjadi pola dasar pemerintahan kerajaan di negeri-negeri Bugis dan Makassar pada umumnya, khususnya Kerajaan Bone. Pangadereng ini pula menjadi prinsip hidup masyarakat Bugis-Makassar dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Kajao Laliddong yang semasa kecilnya bernama La Méllong adalah Pabbicara, Pemikir, Penasihat, Pemimpin Masyarakat dan Duta Keliling Kerajaan Bone pada masa pemerintahan La Uliyo Bote’é dan Tenri Rawe Bongkangé. Kedua raja inilah yang banyak menggali buah pikirannya. La Méllong juga dianggap sebagai seorang negarawan yang mempunyai pemikiran jauh ke depan.

Baca Juga :  Ini Larangan Bagi Pemilih di TPS pada Pemilu Tahun 2019

Menurut catatan lontara, pada masa pemerintahan La Tenri Rawe Bongkangé, La Méllong to Suwallé yang digelar Kajao Laliddong diangkat menjadi penasihat dan Duta Keliling Kerajaan Bone. Di sebutkan pula sebagai seorang ahli pikir, seorang negarawan dan diplomat ulung dari negara dan bangsanya.

Dalam perjanjian Caléppa antara Gowa dan Bone 1565, La Mellong Kajao Laliddong memainkan peranan penting. Juga dalam perjanjian persekutuan antara Bone, Wajo, dan Soppéng yang lazim disebut Perjanjian Tellumpiccoe atau Lamumpatue ri Timurung 1582 yang mempertemukan tiga raja, La Tenrirawe Bongkangé (Raja Boné/Arungponé), La Mungkace (Arung Wajo) dan,La Mappaleppe (Datu Soppeng).

Ajaran-ajaran Kajao Laliddong termuat dalam berbagai lontara, di antaranya Latoa seperti yang dikutif di bawah ini:

Dalam dialog Kajao Laliddong dengan Arungponé; “aga tanranna namaraja tanaé” (apa tandanya apabila negara itu menjadi besar/sukses)?”

Berkata Kajao Laliddong; “dua tanranna namaraja tanaé Arungponé, iyanaritu : seuwani malempu namacca Arung Mangkaué, maduanna tessisala-salaé.”

(Dua tanda negara menjadi jaya Arungpone, pertama raja yang memerintah memiliki sifat jujur lagi pintar, kedua tidak bercerai-berai/bersatu).

“Naiya tula’é pattaungeng Arumpone (adapun yang menyebabkan wahai Raja Bone)”

Sewwani narekko matanré cinnai Arung Mangkaué ( pertama apabila raja yang memerintah memiliki selera /pencitraan yang tinggi).

Maduanna naenrekini waramparang tomabbicaraé.( kedua apabila pejabat pemerintah/intelektual menerima sogok).

Matellunna narekko sisala-salani taué rilalengpanua, tanranna toparo narekko maeloni baiccu tanamarajaé.” ( dan ketiga apabila apabila terjadi perselisihan di dalam negeri, tanda itu pula lah negara besar menjadi kecil.)

Bertanya Kajao Laliddong kepada Arumpone: “Aga sia Arumponé muaseng tettaroi rebba alebbiremmu, pattokkongpulanai alebbireng mubakurié, ajana tatteré-teré tau tebbe’mu, ajana pada wenno pangampo warangparang mubakurié”

(“Apa yang Arungpone maksud tidak akan membiarkan jatuhnya kemuliaanmu, menjaga dan menegakkan kemuliaan yang Arungpone miliki, tidak membiarkan rakyat bercerai berai, harta benda yang kamu miliki tidak seperti berondong jagung berhamburan.”)

Baca Juga :  Sayembara Masterplan Kota Bone

Kemudian dijawab sendiri oleh Kajao Laliddong:

mammulanna, “Iya inanna warangparangngé tettaroéngngi tatteré-teré tau tebbenna, temmatinropi matanna Arung mapparentaé riesso-riwenni nawa-nawai adécéngenna tanana, natangngai olona monrinna gaué napogau,

maduanna, maccapi pinru ada Arung Mangkaué,

matellunna, maccapi duppai ada Arung Mangkaué, maeppana tekkallupa surona poada ada tongeng.”

(Adapun yang mengemban harta itu Raja/Arumpone, yang tidak membiarkan rakyatnya bercerai-berai, tidak terpejam siang-malam mata raja (pejabat pemerintah) memikirkan kebaikan negerinya, mengkaji sebab dan akibat (baik-buruk) sebelum bertindak,

kedua, raja harus pandai menyusun dan mengungkapkan kata-kata,

ketiga, raja harus pandai memberi jawaban, keempat utusan/yang mewakilinya tidak lalai untuk senantiasa berkata benar.”)

Berkata lagi Kajao Laliddong: “engka tu matu narioloi dua wettu, iyanaritu wettu manu sibawa wettu pennyu.

Naiya tanranna wettu manué itai kedona manu mabbitte sikomuatu mabbittena luppe’ni sala seddinna menré ri coppo bolaé natingkoko tongeng, na dé manu bali tingkokona, luppe’niro ri tanaé. Makkalejja’na ajéna ri tanaé rilellunna ri manu naewaé mallotténg denre”.

Menurut Kajao Laliddong: “iyyatu denre manu mattingkokoé ricoppobolaé iyatu manu cau. Makkuaniro gaunna tomasengengngi alena ajjoareng.”

(Ada masa kita akan lewati dua zaman/era, yaitu zaman Ayam dan Penyu. Ada tanda zaman Ayam adalah, lihatlah perangai ayam yang disabung, tak begitu lama ia berlaga lompatlah satu naik ke atap rumah sambil berkokok , dan ketika tidak dibalas kokokannya oleh lawannya, ia melompat turun ke tanah, sampai saja kakinya di tanah ia pun dikejar dari ayam lawannya tadi,

Jadi yang berkokok di atap rumah adalah ayam pengecut karena ia berkokok seakan berkata saya adalah kesatria dan begitulah karakter orang yang menganggap dirinya pemimpin yang baik (Good Governance)

Baca Juga :  Mengurai Terminologi Bugis " Seppa Sikadong "