Mitos To Manurung

357

Mitos tentang Tomanurung merupakan unsur yang menguatkan nilai kebudayaan Bugis. Ia diyakini sebagai cerita-cerita yang mengandung peristiwa-peristwa dan makna-makna yang aktual.

Mitos La Galigo tertulis di dalam Sure’ Galigo pun bermacam-macam penilaian dalam surat ini. Adapun tokoh sentral di dalamnya adalah Sawerigading yang berkeinginan mempersunting adik kandung perempuannya, tetapi karena dicegah, akhirnya berhasil memindahkan perasaan cinta-asmaranya kepada seorang gadis Cina yang bernama We Cudai.

Sebelum Sure’ Galigo dibacakan, ada beberapa tahapan kegiatan yang harus dilakukan, seperti; Orang menabuh gendang dengan irama tertentu, dan membakar kemenyan.

Setelah gendang berhenti, sang Bissu dengan bahasa tolanginya mengucapkan pujaan dan meminta ampun kepada dewa-dewa yang akan disebut-sebut namanya dalam pembacaan syair itu.

Isinya melukiskan tentang awal mula ditempatinya tanah Luwu yang dipandang sebagai negeri Bugis tertua. Pada peristiwa Tomanurung di Luwu tampak dengan jelas masalah kekeluargaan dan kekerabatan yang tampil lebih banyak dipersoalkan, sesudah pengisian Alekawa (dunia) ini.

Simpuru’siang masih tetap berada dalam hubungan suasana Botilangi(dunia atas) dan Buri’liung (dunia bawah). Dan Ana’kaji masih mengulang pengalaman Sawerigading ketika ditinggalkan oleh isterinya. Corak perkawinan sepupu tetap dipelihara, juga adalah warisan dari zaman Galigo.

Kesulitan-kesulitan yang dihadapi sudah tersedia tempat memulangkannya secara langsung, termasuk keluarga mereka sendiri.

Mereka namakan Datu Palanro (Sang Pencipta), Ajipatoto (Sang Pengatur), Lapuangnge (Yang Dipertuan). Mereka memperkenalkan bahwa sumange’ berarti ruh atau kehidupan; marapettang (dunia gelap), padangria (dunia sana), bannapati (dunia yang kekal), riniyo (hati nurani yang suci murni).

Kemudian ritus-ritus yaitu suatu tindakan, biasanya dalam bidang keagamaan, yang bersifat seremonial dan tertata bersama dengan benda-benda yang dipandang sakral, seperti dupa, minyak, benang, curiga, ana’beccing, lae-lae,sujikama, patangngareng, dan dapo balibonga.

Baca Juga :  Gambaran Fir'aun Masa Kini

Rupanya mitos berkaitan erat dengan berbagai penampilan ritualistik atau seremonial. Mitos Luwu, kelihatannya lebih bercorak kepercayaan, sehingga dinamakan mitos kepercayaan.

Adapun corak mitos manurung di Bone dan Gowa, menurut keadaan masyarakat yang mendahuluinya adalah “ sianre baleni tauwe (bahasa Bugis)” atau sikanre juku’mi tauwwa (bahasa Makassar).

Sianre baleni tauwe, suatu keadaan yang diumpamakan kehidupan ikan, ikan besar melahap ikan kecil, tetapi bilamana ikan besar dalam keadaan mati, maka ikan kecilpun sama berkerumun mengambil kesempatan untuk memakannya. Seluruh kehidupan masyarakat dalam keadaan krisis. Di mana manusia dalam keadaan kehidupan kososng dari pada kompetensi dan stabilitas.

Semasa munculnya Tomanurung di Gowa, para Gallarang yang sembilan, masih tetap berkuasa dan memerintah negeri mereka masing-masing. Mereka menjadi anggota Dewan Kerajaan, mereka berfungsi sebagai Kasuwiang (abdi), dan secara bersama-sama mereka disebut Kasuwiang Salapang (para Abdi yang Sembilan).

Para Kasuwiang masing-masing memiliki identitasnya berupa panji-panji yang disebut Bate, dan secara bersama-sama pula mereka disebut Bate salapang (sembilan pemegang panji). Tidak mengherankan kalau semangat lama masih tetap hidup dalam struktur pemerintahan baru di bawah karaeng Bayo bersama Tomanurung.

Sementara corak pemerintahan di Bone berbeda dengan yang lainnya. Setelah munculnya Mata SilompoebManurungnge Rimatajang, para matoa yang tujuh disatukan dipusat pemerintahan yang disebut Kawerang, ibu kota kerajaan Bone pada masa itu.

Para Matoa itu kemudian menjadi Ade’pitu (tujuh Pemangku adat) di bawah pimpinan Mata Silompoe sebagai mangkau’ (yang berdaulat). Hubungan pemerintah kerajaan Bone dengan Ade’ Pitu (tujuh pemangku adat) sebagai hubungan persahabatan dan kekerabatan harus selalu terpelihara.

Dengan demikian kekuasaan raja Bone sangat kuat sampai ke seluruh bagian wilayahnya. Walaupun tampak kekerabatan begitu kuat di dalam pemerintahan, namun kewajiban yang telah diamanatkan selalu harus dijalankan.

Baca Juga :  Jenis Informasi Setiap Saat, Berkala, Terbuka dan Dikecualikan

Raja harus menjaga supaya rakyat tetap utuh sehingga tidak seperti keadaan padi yang menjadi hampa karena isinya dimakan burung.

Raja harus melindungi mereka dari setiap sesuatu yang mengancam kehidupan supaya raja sebagai selimut bagi mereka yang tertimpa dingin.

Sejarah pemerintahan kerajaan Bone menjadi saksi, apabila raja melanggar amanat itu. Konon, bukan saja seruannya tak disambut, malah rakyat menyerbunya dan dia dibunuh oleh neneknya sendiri karena membuat malu keluarganya sendiri.

Baik Bone maupun Gowa lebih memperlihatkan politik dan pemerintahan yang ditimpa krisis. Mitos di kedua negeri ini lebih bercorak politik dan pemerintahan, sehingga dipandang sebagai mitos politik.

Krisis yang melanda Soppeng berbeda dengan daerah lain, bukan krisis kepercayaan, bukan pula krisis politik. Hujan yang tidak turun selama tujuh tahun yang menyebabkan sawah tidak berair dan padi tidak dapat ditanam. Masyarakat dilanda kelaparan yang berkepanjangan. Mereka bermusyawarah untuk mendapatkan jalan keluar dari krisis kelaparan.

Arung Bila yang mengetahui bahwa yang sedang digegerkan oleh dua ekor burung Cakkalle (Kakatua) adalah setangkai butir-butir padi, segera memeritahkan supaya burung-burung tersebut diikuti ke arah mana mereka terbang.

Burung itulah yang menjadi petunjuk sehingga para Matoa menemukan sebuah masyarakat yang makmur. Di Sakkanyili’ nama tempat yang makmur dan sejahtera itu bertakhta seorang raja. Para Matoa memandang yang demikian itu suatu keistimewaan pada diri raja itu, lalu mereka menyebutnya Petta Manurung di Sekknyili’. Krisis yang terjadi di Soppeng adalah krisis ekonomi, sehingga mitos Tomanurung di sini disebut Mitos Ekonomi.

Selanjutnya krisis yang menimpa daerah Wajo kelihatan berjalan bersama-sama antara krisis ekonomi dan krisis pemerintahan. Keadaan sianrebale dialami juga oleh mereka seperti yang dialami di Bone dan di Gowa.

Baca Juga :  Antre Anda Berakhlak

Keadaan Wajo itu ditandai ketika rakyat Sariameng telah ditinggalkan oleh pemimpinnya, yaitu Puang Rilampulungeng yang dipandang sakti itu. Kemudian baru menikmati lagi kemakmuran setelah tampil Puang Timpengeng di negeri Boli yang sejahtera itu.

Tetapi setelah Puang Timpengeng meningal, maka masyarakat kembali lagi dilanda krisis ekonomi dan pemerintahan. Keadaan berlanjut, baru berakhir setelah datangnya La Pukke’.

Tokoh Wajo yang paling mengesankan dan utama adalah La Taddampare’ Puang Rimaggalatung. Setelah empat kali rakyat mendesaknya, beliau baru mau menerima jabatan Arung Matoa Wajo. Dan Wajo mengutamakan ekonomi di samping politik pemerintahan, sehingga Wajo memiliki keunikan di antara negeri-negeri Bugis lainnya.

Corak mitos yang berlangsung di Luwu, Gowa, Bone, Soppeng, dan Wajo, dengan keunikannya masing-masing. Petunjuk yang dijadikan dasar untuk menetapkan corak-corak tersebut adalah kesulitan atau jenis krisis yang terjadi, yang mendahului kehadiran pribadi Tomanurung yang didambakan, yang disertai kepercayaan penuh.

Sehingga mitos Tomanurung merupakan gelar yang melekat pada seseorang dan diberi kepercayaan yang dianggap mampu memimpin dan memecahkan persoalan hidup masyarakat yang terjadi pada masa itu.

Mitos Tomanurung ini menambah deretan khazanah Paupau rikadong dan cerita sastra Bugis itu sendiri. Seperti halnya jika ada orang yang diberi kepercayaan memimpin daerah atau negeri masa sekarang, kalau berhasil memberi makan dan melindungi rakyatnya maka ia disebut Tomanurung seperti pada masa lalu.

Ada yang menganggap To Manurung turun dari langit tentu sebagai mitos boleh-boleh saja. Karena setiap daerah sebelum terbentuk mempunyai cerita To Manurung meskipun dengan nama yang berbeda. Wallahu a’lam bis-shawab, hanya Allah yang tahu kebenaran yang sesungguhnya.