Konsep Ati Mapaccing menurut Kajao

154

Kearifan budaya Bugis merupakan energi potensial dari sistem pengetahuan kolektif masyarakat Bugis untuk hidup di atas nilai-nilai yang membawa kelangsungan hidup yang beradab yaitu hidup damai, hidup rukun, hidup penuh maaf dan saling pengertian, hidup bermoral, hidup saling asih, asah, dan asuh.

Hidup dengan orientasi nilai-nilai yang membawa pada pencerahan, hidup dalam keragaman, hidup harmoni dengan lingkungan, hidup untuk menyelesaikan persoalan-persoalan berdasarkan mozaik nalar kolektif sendiri. Kearifan seperti itu tumbuh dari dalam lubuk hati masyarakat sendiri. Itulah bagian terdalam dari kearifan kultur lokal.

Sastra Bugis klasik seperti Sure’ Galigo, Lontara’, Paseng Toriolota, Ungkapan, Elong/syair, serta Paupau Rikadong adalah kearifan lokal Bugis yang memiliki kedudukan yang kuat dalam kepustakaan Bugis dan masih sesuai dengan perkembangan zaman.

ATI MAPACCING atau bawaan hati yang baik, dalam bahasa Bugis berarti Nia’ Madeceng (niat baik), nawa-nawa madeceng (niat atau pikiran yang baik) sebagai lawan dari kata Nia’ maja (niat jahat), (niat atau pikiran bengkok).

Dalam berbagai konteks, kata bawaan hati, niat atau itikad baik juga berarti ikhlas, baik hati, bersih hati atau angan-angan dan pikiran yang baik. Tindakan bawaan hati yang baik dari seseorang dimulai dari suatu niat atau itikad baik (Nia’ Mapaccing), yaitu suatu niat yang baik dan ikhlas untuk melakukan sesuatu demi tegaknya harkat dan martabat manusia.

Ati Mapaccing dianalogikan sebagai air murni yang jernih dan tidak berwarna. Ati Mapaccing (Bawaan hati yang baik) mengandung tiga makna, yaitu :
1. MENYUCIKAN HATI, yaitu manusia menyucikan dan memurnikan hatinya dari segala nafsu-nafsu kotor, dengki, iri hati, dan kepalsuan-kepalsuan.

Niat suci atau bawaan hati yang baik diasosiasikan dengan tameng (pagar) yang dapat menjaga manusia dari serangan sifat-sifat tercela.

Baca Juga :  Trilogi Pembangunan dan 8 Jalur Pemerataan

Ia bagai permata bercahaya yang dapat menerangi dan menjadi hiasan yang sangat berharga. Ia bagai air jernih yang belum tercemar oleh noda-noda atau polusi. Segala macam hal yang dapat menodai kesucian itu harus dihindarkan dari hati, sehingga baik perkataan maupun perbuatan dapat terkendali dengan baik.

2. BERMAKSUD LURUS, yaitu manusia sanggup untuk mengejar apa yang memang direncanakannya, tanpa dibelokkan ke kiri dan ke kanan. Lontara’ menyebutkan:

“Atutuiwi angngolona atimmu; aja’ muammenasangngi ri jae padammu rupa tau; nasaba’ mattentui iko matti’ nareweki jana;
apa’ riturungengngi ritu gau’ madecengnge riati maja’e nade’sa nariturungeng ati madecengnge ri gau’ maja’e;
Naiya tau maja kaleng atie lettu’ rimunri jana.”

(Jagalah arah hatimu; jangan menghajatkan yang buruk kepada sesamamu manusia, sebab pasti engkau kelak akan menerima akibatnya, karena perbuatan baik terpengaruh oleh perbuatan buruk. Orang yang beritikad buruk akibatnya akan sampai pada keturunannya keburukan itu).

Kutipan Lontara’ di atas menitikberatkan pentingnya seorang individu untuk memelihara arah hatinya. Manusia dituntut untuk selalu berniat baik kepada sesama. Memelihara hati untuk selalu berhati bersih kepada sesama manusia akan menuntun individu tersebut memetik buah kebaikan.

Sebaliknya, individu yang berhati kotor, yaitu menghendaki keburukan terhadap sesama manusia, justru akan menerima akibat buruknya. Karena itu, tidak ada alasan bagi seorang individu untuk memikirkan hal-hal buruk terhadap sesama manusia.

3. MENGATUR EMOSI, yaitu manusia tidak membiarkan dirinya digerakkan oleh nafsu-nafsu, emosi-emosi, perasaan-perasaan, kecondongan-kecondongan, melainkan diatur suatu toddo’ (pedoman), yang memungkinkannya untuk menegakkan harkat dan martabat manusia sesuai dengan kodratnya. Dengan demikian ia tidak diombang-ambingkan oleh segala macam emosi, nafsu dan perasaan dangkal.

Jadi, pengembangan sikap-sikap itu membuat kepribadian manusia menjadi lebih kuat, lebih otonom dan lebih mampu untuk menjalankan tanggung jawabnya.

Baca Juga :  Bangga Menjadi Orang Bugis

Dalam Lontara’ Latoa ditekankan bahwa Ati Mapaccing (bawaan hati yang baik) menimbulkan perbuatan-perbuatan yang baik pula, yang sekaligus menciptakan ketertiban dalam masyarakat.

Dalam memperlakukan diri sebagai manusia, bawaan hati memegang peranan yang amat penting. Bawaan hati yang baik mewujudkan kata-kata dan perbuatan yang benar yang sekaligus dapat menimbulkan kewibawaan dan apa yang diucapkan akan tepat pada tujuan dan sasarannya.

” eppa tanrana tomadeceng kalawing ati, seuani, Passu’i ada napatuju, Matuoi ada nasitinaja, Duppai ada napasau, nenniya
Moloi ada napadapi “.

” ada empat tanda orang baik bawaan hatinya, yaitu mengucapkan kata yang benar, menyebutkan kata yang sewajarnya, menjawab dengan kata yang berwibawa, dan menjawab kata/pertanyaan tepat sasaran “.

Di samping bawaan hati yang baik dikalangan manusia Bugis, hati dan pikiran yang baikpun merupakan syarat untuk menghasilkan kebaikan dalam kehidupan.

” jagai atimmu riengkammu tudang ale-ale; jagai cigoro’mu riengkammu rikanre-kanrengnge, jagai lilamu riengkammu siwollongmpollong “

” Jagalah hatimu ketika duduk dalam kesendirian; jagalah tenggorokanmu ketika berhadapan dengan makanan; jaalah lidahmu ketika berbicara di depan umum “.

Itulah bawaan hati yang baik yang diturunkan Kajao kepada kaum Bugis dan sebagai manifestasi betapa perlunya memelihara dan menjaga hati kita sebagai manusia dalam kehidupan yang bermartabat.